#9 Dan Aku Pun Terjebak


Dan Aku Pun Terjebak
An original fiction, written by Asha D
Genre : general
Words : 1981
A/N: Ini hasil order temen buat ujian praktek muahahaha lumayan dapat 15 ribu. Dia minta supaya ceritanya jangan bagus-bagus amat entar ketahuan bukan dia yang buat jadi ya... cerita ini dibuat seadanya. Cuma 1 jam wkwkwk what do you expect?

AAA


“Aku benci mama!” Jessica berlari masuk ke kamar dan membanting pintu. Ia mengunci pintunya dan membuang tasnya sembarangan. Di luar mama memanggilnya dengan marah, namun Jessica pura-pura tidak mendengar. Ia merogoh ponselnya dan mendengar musik dengan headset-nya, berharap lagu kesukaannya dapat meredakan rasa kesalnya.

Jessica begitu jengkel saat mama tidak mengizinkannya untuk pergi bermain bersama para sahabatnya, karena mama belum mengenal orang tua para sahabatnya. Mama juga menolak saat Jessica merengek agar dibelikan iPhone 5, yang membuatnya tambah dengki. Padahal nyaris semua teman sekelasnya memakai iPhone. Jessica begitu malu dengan ponsel lamanya yang sudah ketinggalan jaman. Namun saat Jessica mengutarakan alasannya, mama memarahinya karena tidak bersyukur.

Di saat-saat seperti inilah Jessica berharap papa masih hidup. Saat papanya masih ada, keluarga Jessica tidak pernah kekurangan secara finansial. Tiap barang yang ia butuhkan selalu disajikan di depan mata. Kanker yang telah merenggut nyawa papanya membuatnya kehilangan semua itu. Kini ibunya menjadi janda yang harus berjuang keras untuk menafkahi mereka berdua lewat bisnis katering.

Beruntung, pemilik sekolah swasta tempat Jessica bersekolah masih terhitung bersaudara dengan mamanya, sehingga memberi keringanan dalam biaya. Hanya saja pendapatan ibunya terbatas untuk membiayai mereka berdua, sehingga tidak dapat dibebani dengan pengeluaran lain.

Tetapi Jessica tidak mengerti. Ia tidak mau mengerti. Yang jelas, ia benci mamanya karena tidak bisa mengerti isi hatinya.
 
Jessica berbaring di tempat tidurnya dan mulai menutup mata, mengkhayal jika saja papa masih bersamanya. Karena mulai merasa bosan, ia pun berguling untuk mengambil sebuah novel di laci di samping tempat tidurnya. Namun ia begitu terkejut saat melihat seorang gadis asing telah berdiri di samping tempat tidur.

Jessica terlonjak karena kaget. Anehnya, gadis asing di hadapannya hanya tersenyum. “Sudah kuduga, kau pasti kaget.”

“S-siapa kau?” Jessica mundur ke belakang.

“Namaku Luna.” Gadis yang mengaku sebagai Luna mengulurkan tangannya kepada Jessica. Bukannya membalas, Jessica malah balik bertanya, “Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku?”
  
Luna pun menarik tangannya, tidak terlihat tersinggung dengan respon Jessica. “Karena aku bisa.”

Jessica berkacak pinggang dan memutar bola matanya. “Aku akan memberi tahu mama.”

Jessica baru saja akan membuka kunci pintu kamarnya kalau saja ia tak diinterupsi oleh suara gadis tersebut, “Kau yakin? Bukankah kau membenci mamamu?”

Jessica seolah membeku di tempatnya berdiri. Perlahan ia berbalik, memandang Luna yang masih menatapnya dengan tenang. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku tahu namamu, umurmu, tempat dan tanggal lahirmu, nama orang tuamu, hobimu… pada dasarnya aku tahu semua tentangmu, Jessica.” Jessica membelakkan matanya, terkejut dengan semua yang dijabarkan oleh Luna. Ia pun berdehem dan pura-pura terlihat tidak goyah, “Oh ya? Kau bisa saja berbohong. Siapa nama sahabatku?”

“Aleyna Karenina. Lahir di Bogor pada 13 Desember 1997. Dia adalah anak…”

“Berhenti, oke?” Jessica mengangkat sebelah tangannya, sementara tangan yang lain memegang perutnya. “Kau membuatku mual.”

Luna tertawa mendengarnya. “Kau anak yang lucu, Jessica. Duduklah, aku punya penawaran untukmu.” Luna menyunggingkan senyumnya, yang entah bagaimana terlihat seperti seringaian mengerikan di mata Jessica. Walau ragu, Jessica menuruti perintah Luna dan duduk di kursi di dekatnya.

Luna memandang Jessica sebelum bertanya, “Bagaimana kalau kau menggantikan orang lain? Jika kau suka kehidupan orang lain tersebut, kau bisa memilih untuk mengambil identitasnya selamanya,”

Melihat Jessica yang masih hanyut dalam ketersimaan, Luna pun melanjutkan, “Sebagai gantinya, orang lain yang tak kau kenal akan menggantikan identitasmu di sini. Bayangkan, kau tak harus lagi menghadapi mamamu yang menyebalkan. Kau akan mendapat mama yang baru, jauh lebih baik, cantik dan kaya. Kau juga akan punya papa yang tak kalah baik.”

Mata Jessica menyipit. “Bagaimana aku bisa tahu kau tak berbohong?”

“Kau boleh mencoba selama seminggu. Selama seminggu, kau boleh bolak-balik antara hidupmu dan hidup orang lain. Fasilitas ini gratis. Di hari ketujuh, kau harus menentukan keputusanmu. Syaratnya hanya satu, yaitu kau tak boleh memberi tahu siapapun. Jika kau memberi tahu orang lain tentang peristiwa pertemuan ini, atau saat kau ke hidup orang lain, kau akan mati,” Senyuman masih tak absen dari wajah mulus Luna.

Jessica menelan ludah melihatnya. “B-bagaimana kalau setelah mencoba, aku menolak?”

“Penawaran ini akan ditujukan pada orang lain. Ingatan orang yang bertemu denganmu di kehidupan lain tersebut akan dihapus. Namun syarat tetap berlaku. Kau tak boleh memberi tahu siapapun atau kau akan mati.”

“Siapa yang mengirimmu?” selidik Jessica.

Luna mengedikkan bahunya. “Aku tidak tahu.”

Jessica mengernyitkan dahinya. “Siapa yang akan menggantikan identitasku?”

“Aku tidak tahu. Kau mau mengikuti penawaran ini atau tidak?”

Keheningan mengisi jeda selama beberapa menit, sebelum akhirnya Jessica mengangguk dengan yakin, “Ya, aku mau.”

Sebuah senyum kembali terpatri pada wajah Luna, sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya pada Jessica. “Pegang tanganku.” Dengan ragu Jessica menurutinya. Dan begitu ia memegang tangan Luna, semuanya menjadi gelap.

AAA

Saat membuka matanya, Jessica tak lagi Jessica. Ia telah menjadi Sally Permatasari, anak seorang pengusaha dan menteri dalam negeri. Ia mempunyai semua yang dia inginkan; rumah mewah, pakaian merk ternama, gadget terbaru, dan teman-teman yang gaul. Rasanya seolah tak cukup untuk menikmati semuanya dalam satu hari. Dan saat Luna datang untuk menjemputnya di penghujung hari, Jessica menolak.

“Aku ingin berada di sini,” ujar Jessica kepada Luna.
“Kau yakin?” tanya Luna, lebih seperti pertanyaan retoris. “Kau punya enam hari untuk berpikir lagi,”

Jessica menggeleng sambil tersenyum lebar. “Untuk apa menunggu?”

Luna menatapnya datar, kemudian tersenyum walau senyumnya tak sedikitpun terlihat tulus. “Baiklah. Mulai sekarang, kau adalah Sally Permatasari.”

AAA

Jessica membuka matanya. Saat ia melihat sekelilingnya, ia berada di kamar tidur dengan interior serba merah muda, bertolak belakang dengan kamar tidur miliknya.

Ini bukan mimpi. Sungguh, ini semua bukan mimpi.

Jessica memekik girang. Ia meraih iPhone-nya dan melihat pesan dari sahabat barunya yang mengajaknya untuk bertemu di pusat belanja. Jessica pun mengiyakan dan berlari ke lemarinya yang penuh dengan baju, celana dan aksesoris yang seolah takkan ada habisnya. Sesudah menemukan kombinasi pakaian yang tepat, ia melangkah ke depan cermin sementara semua bajunya berserakan di lantai. “Semua sahabatku pasti akan iri melihat penampilanku.’ batinnya, tak peduli dengan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Toh, sekarang ia punya pembantu.

Jessica baru saja selesai mengenakan pakaiannya saat ia mendengar bunyi benda yang pecah dari luar. Ia membuka pintu dan melihat kedua orang tua berada di ruang tamu, tengah bersitegang dalam argumen.

“Istri bodoh! Hanya bisa menghabiskan uang!” Suara pria paruh baya yang Jessica kenali sebagai papa barunya menggelegar, hingga membuat Jessica merinding.

Seorang wanita berpakaian rapi adalah mama baru Jessica, memandang sengit papa. “Kau sendiri, hanya bisa selingkuh, selingkuh, dan selingkuh!”

Suara tamparan membuat Jessica terlonjak di tempatnya berdiri. Ia mengintip dari balik pintu, gemetar oleh rasa takut yang memenuhi batinnya. “Lalu, apa?” Papa menatap cela wanita yang merintih kesakitan di depannya. “Apa hakmu untuk marah? Kau kira semua uang yang ada padamu itu datang dari langit?” Papa tertawa penuh kemenangan, sementara wajah mama merah padam. “Bisa apa kau tanpa uangku? Dasar tak berguna!”

“Aku mau cerai! Jijik aku melihatmu!” Mama melangkah pergi dengan penuh kemurkaan. Sementara papa mengibaskan tangannya, tak peduli.
“Silakan! Aku tak sudi punya istri sepertimu!”
Jessica merasa tubuhnya lemas, seolah tulangnya tak berada lagi di tempatnya dan jiwanya telah disedot keluar. Ia bersandar pada pintu dan menutup mata, tidak yakin harus berbuat apa. Ia meraih iPhone-nya dan mengirim pesan kepada sahabat barunya tentang masalah orang tuanya, berharap sahabatnya dapat menenangkan hatinya. Beberapa menit kemudian, ia menerima balasan dari sahabatnya. Jessica pun membukanya dan kaget melihat reaksi sahabatnya tersebut.

Lalu kenapa? Orang tuaku juga cerai. Kamu jadi datang tidak?

Tiba-tiba saja pikiran kacau Jessica menayangkan wajah papa dan mamanya. Selama papanya hidup, papa dan mamanya tidak pernah melayangkan kata ‘cerai’. Ada beberapa momen dimana mereka berdebat, namun sebelum hari berganti mereka sudah berbaikan. Mereka tidak pernah memaki, mengutuk apalagi saling menyalahkan. Dan sahabatnya, Aleyna, selalu peduli padanya, bahkan mau menerima kelebihan dan mengerti kekurangannya.

Jessica ingat sekarang. Dulu ia punya kehidupan yang sempurna.

Hanya saja ia menolak untuk melihatnya, dan memilih untuk tetap buta.

Saat Jessica membuka matanya, Luna sudah berdiri di depannya. Namun kali ini, senyum luput dari parasnya. “Luna… Luna!” Jessica tergopoh-gopoh menghampiri Luna. Namun respon Luna sama dinginnya dengan es. “Luna, kau harus membawaku pergi dari sini.”

Bukannya tersenyum dan mengiyakan, Luna hanya melihat Jessica dengan pandangan kosong. “Aku tak bisa,”

Jessica melongo. “Apa maksudmu? Kau bohong! Kau bisa membawaku ke sini, maka kau bisa membawaku kembali!”

“Aku tidak pernah berbohong,” ujar Luna singkat sambil menuduk. Jessica menatap Luna dengan ekspresi tidak percaya, kemudian menggelengkan kepalanya. “Ayolah, Luna, ini bukan saat yang tepat untuk bercanda!”

“Aku tidak pernah bercanda.” Luna mendongak dan mempertemukan iris obsidiannya dengan iris hazel milik Jessica. Matanya begitu hitam dan gelap, seolah membius Jessica. Jessica yang tadinya akan melontarkan rentetan permintaan, menjadi membisu.

“Pegang aku, Jessica.” ucap Luna tanpa menoleh pada Jessica dan wajah absen lekukan senyum. Jessica tersenyum, senang karena ia akan kembali menjadi dirinya.

Ia akan kembali menjadi Jessica Cecilia dan menikmati hidupnya yang sempurna.

AAA

“Buka matamu, Jessica. Kita telah sampai,”

Jessica membuka kelopak matanya, dan tersenyum lebar saat melihat mamanya tengah memasak di dapur. Jessica pun berlari untuk memeluk mamanya. “Mama! Mama!”

Namun saat Jessica hendak memeluk mamanya dari belakang, tangannya menembus tubuh mamanya. Jessica berteriak dan menatap ngeri kedua tangannya. Ia semakin tercengang saat melihat seorang gadis berkulit gelap dengan kursi roda mendekati ibunya.

“Mama, ini buncisnya sudah kupotong.” Gadis tersebut menyerahkan papan dengan potongan buncis di atasnya. Ibunya menoleh dan tersenyum, lalu memindahkan buncis ke wajan dan menyerahkan papannya kembali.

“Terima kasih, Jessica. Sekarang kamu potong wortel, ya.”

“Oke, ma.” Gadis tersebut tersenyum sangat lebar, lalu memutar kursi rodanya ke sisi lain dari dapur. Jessica berjalan mundur dan tanpa sengaja membentur seseorang, yaitu Luna yang hanya diam mengamati semuanya.

Jessica berbalik dan memegang sebelah tangan Luna, meminta penjelasan. “Luna, a-apa yang…”

“Namanya Leah. Saat bayi ia dibuang karena terjangkit polio. Seorang pemilik panti asuhan berbaik hati mengasuhnya dan memberinya kursi roda. Namun saat pemilik panti asuhan meninggal tersebut dalam kecelakaan, orang lain menggantikan mereka dan berlaku kejam pada Leah.”

Jessica menatap Leah. Ia sadar kaki Leah begitu kurus. Tangannya penuh dengan memar dan luka, namun ia tak terlihat terganggu. Malah, ia terlihat sangat bahagia, seolah malaikat baru saja menawarkannya sebuah tempat di surga.

“Suatu malam saat ia tengah menangis sendirian, aku mendatanginya dan memberi penawaran. Dia menyetujuinya, dan dia menggantikanmu. Dan tahukah kamu? Sejak hari pertama, ia selalu tersenyum saat melihat ibumu. Dia membantu ibumu menyusun dan mencuci piring, menyirami tanaman, merapikan lemari…”

“Tidak bisakah aku kembali?” Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Jessica, meluncur dari pipinya. Luna menggeleng pelan.

“Tidak. Kini Leah adalah Jessica Cecilia, dan Jessica Cecilia adalah Sally Permatasari.”

Air mata terus mengalir dari mata Jessica, mengucur bak hujan. “Mama…” Jessica meraih bahu mamanya, namun wanita tersebut bergeming. Tangis Jessica semakin keras, hingga menjadi isakan. “Mama, mama, ini anakmu!” Jessica berusaha keras menggoncang bahu ibunya, namun ia hanya menyentuh angin. Bahkan, wanita di depannya tampak tak menyadari keberadaannya.

“Ma… Ini Jessica, ma!” Jessica berada di puncak keputusasaannya. Ia kemudian tertawa histeris, menganggap semuanya adalah lelucon. “Ini pasti mimpi!” Jessica membungkuk dan memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. “Aku yakin!”

“Jessica, jangan bohongi dirimu sendiri. Jangan sakiti dirimu lebih dari yang bisa kau terima.” Luna menyentuh kepala Jessica, yang langsung ditepis dengan kasar oleh Luna.

“Diam kau!” Jessica menatap garang. Jika tatapan dapat membakar, maka kini Luna tak lebih dari debu. “Ini semua karena kau! Kau yang menawariku. Kalau kau tak menawariku, aku takkan terjebak di sini.”

“Bukan aku yang membuat keputusan, tapi kau,” ucap Luna sembari menarik tangan Jessica. “Ayo, kau harus kembali. Ini bukan tempatmu.”

“Ini rumahku!” Jessica menghempas tangan Luna. Luna menghujamkan tatapan dingin kepada Jessica, yang mengirim esensi menggigil ke dalam tubuh Jessica. Luna menghentikkan jarinya, dan mereka kembali berada di kamar Sally. Saat ia menjentikkan jarinya lagi, sebuah lubang hitam terbuka di belakang Luna. Mendadak angin ribut yang berasal dari lubang hitam tersebut bertiup ruangan Jessica, menjungkirbalikkan kamarnya.

Jessica terdorong ke belakang, namun tetap memaksakan diri untuk bertanya, “Luna! Siapa kau sebenarnya?”

“Namaku Luna.” Luna mengulum senyum dan melambaikan tangannya. “Selamat menikmat hidupmu yang baru, Sally. Semoga kita bertemu di kesempatan lain.”

Dan saat Sally melangkahkan kakinya ke dalam lubang hitam tersebut, ia pun menghilang.

TAMAT

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

1 komentar:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.