#19 Demi Cinta, Bukan Karena Cinta

source


Demi Cinta, Bukan Karena Cinta
An original fiction written by Asha D
Genre: romance, angst (yaaah, you know me laaah)
Words: 540 (singkat amaaat)
A/N: Cerita ini sudah saya post ke app Thumbstory, app khusus untuk menulis di hape. I’m actually surprised by my ability to write 540 words since I hate typing in Samsung and I’m in crappy mood but here I am, rewriting it. So far there’s 130 views but no likes or comments, sigh.
Ah, yeah, I almost forgot. This story was inspired by the fan fiction kak Ayu made, check it out here.
I still owe myself 5 stories for this blog. Wish me luck!
AAA
“Aku mencintaimu.”
AAA

Kita mengucapkannya semulus rinai hujan yang meluncur di wajah, sealami sungai yang meliuk dalam arus. Namun tak ada yang mampu memungkiri bahwa ada kata yang menggantung di lidah, masih menunggu untuk terucap. Ada sesuatu yang berharap akan terlontar dari mulut kita. Jika saja tak ada pengendalian diri yang memenjarakan, maka sudah tersebutlah nama yang menguap di ujung konversasi kita.

AAA
“Aku mencintaimu.” Tapi…
AAA

Ah, marilah kita bergulir ke masa lalu sejenak. Kita bertemu tatkala sanubari telah tertaut pada pelabuhan yang sama. Dan sadarlah aku… bahwa kita adalah pion dari takdir, kawan. Untuk apa bergolak jika ada rantai yang mengekang? Mau tak mau kita ikut mengalir bersama permainan kehidupan, walau hatiku (dan mungkin hatimu) berdenyut saat membayangkan akhir dari penderitaan kita—jika memang ada akhir.

AAA
“Aku mencintaimu.” Tapi hanya…
AAA

Maaf, aku telah merebakkan kembali kenangan masa lalu ke permukaan. Namun aku tak kuasa tak mengingat pertemuan kita yang terakhir kalinya bersama dia.

Ada linu yang menghujam tatkala kita menatap wajah yang sama. Wajah yang tirus, pucat, dan cekung. Dia hanya tinggal kulit dibungkus tulang. Tubuh ringkihnya terbaring sementara ia mengerang saat rasa nyeri mendera bertubi-tubi. Namun binar kehidupan tak absen dari tatapannya, dan senyum tak luput dari ekspresinya.

Di tengah pergumulannya dengan maut, dengan nafas yang tinggal satu-satu, dengan entengnya dia meminta agar kita bersatu.

Aku tertegun. Rahangmu tetap terkatup membisu, namun aku sudah tahu apa yang terlintas di benakmu. Sungguh, aku tak mengerti mengapa dia tak kunjung melihat perasaan kita.

Atau mungkin ia melihatnya; terlalu jelas hingga menyakitkan baginya untuk menggoreskan luka pada dua insan yang senantiasa mendampinginya.

Dia menolak untuk pergi dengan tenang sampai kita setuju.

Aku dan kau berpandangan. Hanya sepintas, namun kita telah menemukan jawabannya.

Kita mengganguk, nyaris serentak.

Dia tersenyum dan mengatupkan mata.

Nafasnya hilang.

Tubuhnya dingin.

Isak tangis pecah.

Dan kita saling mendekap erat, seolah-olah kita dapat terbelah hancur jika kita tak melakukannya.

Karena jiwa kita yang telah retak tak membutuhkan beban yang lain.

AAA
“Aku mencintaimu.” Tapi hanya sebatas…
AAA

Siang itu hidroksida mengalir dari langit. Awan saling merapat untuk berbisik dan membicarakan kita, sementara matahari menginip untuk mencuri dengar ucapan kita.

Aku bernaung di bawah payung. Kau tidak. Walau kau diam, aku tahu apa yang ada di benakmu—kau ingin hujan melunturkan kepedihan nuranimu. Kau mendamba angin meniup pergi kepahitanmu.

Aku nyaris jatuh kasihan kepadamu, kalau saja aku tak ingat aku juga sedang mengalami tragedi yang sama.

Kau mengelus nisannya dan meraba tanah yang membungkusnya. Iris obsidianmu memandang intens tiap jengkal yang bisa diraup, seakan tak ingin melewatkan satu titik pun. Kau duduk dan menghela nafas, ingin mengeluarkan sebongkah beban yang menjejali dada. Kemudian kau berbisik padanya, walau sebenarnya derai hujan sudah cukup untuk membuatku tak mampu mendengarmu.

Tak lama kemudian kau beranjak, seperti sudah merasa cukup dengan pembicaraan intim antara dirimu dengan dia yang telah tiada. Kau berbalik, dan pandanganmu beradu dengan milikku.

Untuk pertama kalinya sejak kepergian dia, kau menyunggingkan senyum.

Aku juga.

Kau telah merelakan.

Aku juga.

Dan jemari kita bertaut, sementara kita mulai melangkahkan kaki menjauh dari masa lalu.

AAA
“Aku mencintaimu.” Tapi hanya sebatas formalitas.
AAA

Aku mencintaimu, tapi hanya sebatas formalitas.

Namun aku bahagia, walau ironi menyelubungi kita.

Karena kita mencinta bukan karena cinta, melainkan demi cinta.

AAA
TAMAT
AAA

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.