#10 Kesalahpahaman yang Menyenangkan


Kesalahpahaman yang Menyenangkan
An original fiction, written by Asha D
Genre : general
Words : 1722
A/N: Cerpen lain yang di order teman buat ujian praktek wkwkwk. Dia minta supaya jangan panjang-panjang dan jangan bagus-bagus yaudah kasih yang begini deh. KLISEEE.

AAA


"Kara, kau sudah di mana?" tanya Alice dari ujung telepon.

“Aku di bus, sedang menuju ke sana! Tunggulah sebentar lagi!” Kara melirik jam tangannya dengan gelisah. Satu menit lagi acara fansign dengan aktor favoritnya, Damian, akan dimulai. Damian Lucas mempunyai darah Kanada-Korea-Manado. Ia berhasil melelehkan hati banyak wanita lewat senyumnya, juga dengan perannya di film internasional yang terkenal. Karena itu, acara fansign antara Damian dan penggemarnya di Jakarta sudah pasti ramai.
“Cepat, sebentar lagi dia akan datang!” pekik Alice, yang kemudian menjerit histeris. “Astaga, itu mobilnya! Damian, aku mencintaimu!” 

“Kau ngomong apa, Alice? Aku tidak bisa mendengarmu.” Teriakan fans yang berada di sekitar Alice membuat Kara tidak dapat menangkap suara sahabatnya dengan jelas.

“Damian, dia sudah datang!” teriak Alice. 

Tubuh Kara menjadi lemas. Ia adalah fans fanatik Damian. Semua aksesoris dengan wajah Damian di dalamnya dia punya. Semua fakta tentang Damian ia tahu. Ia bahkan telah mempersiapkan hadiah saat nanti bertemu dengan Damian. Ia tidak ingin melewatkan satu momen pun dari idolanya. Kalau saja mama tidak menyuruhnya berbelanja keperluan untuk makan malam nanti, Kara pasti sudah bisa melihat wajah idolanya dari dekat. Padahal ada kak Poppy dan adik Ben. Saat Kara memberi tahu mamanya bahwa dia buru-buru, mama malah memarahinya dan menganggapnya melawan. 


Karena tidak mendengar respon Kara, Alice pun kembali berbicara, “Tenang sja. Dia terlambat, jadi dia masih perlu bersiap-siap di belakang panggung. Kau pasti bisa bertemu dengannya, Kara.” 

“Terima kasih, Alice.” Kara tersenyum karena Alice telah menenangkannya. “Ah, aku sudah sampai!” Kara pun bergegas berlari turun dari bus. Ia memberi uang seadanya pada konduktor, kemudian berlari ke kerumuman penggemar yang didominasi oleh wanita. Sayang saat ia berjalan menuju ke depan, ia didorong ke belakang oleh para kelompok fans yang heboh. Saat ia terjungkang ke belakang, seseorang menangkapnya dari belakang.


 “Ah, terima kasih,” Kara mendongak dan melihat seorang pria yang tampan. Untuk sesaat ia melongo, terutama saat pria tersebut menariknya menjauh dari tempat fansign. “Hei!” teriak Kara. 


“Ayo, cepat, Damian sudah menunggu!” Pria tersebut tidak menoleh saat berbicara pada Kara. Tatapannya fokus ke depan. Kara berusaha keras melepaskan cengkeraman pria tersebut, namun kekuatannya seolah terhisap saat pria tersebut mengucapkan nama Damian. 


“Damian?” tanya Kara, memastikan bahwa dia tidak salah mendengar. 


“Iya, siapa lagi?” Pria tersebut membawa Kara berbelok dan memasuki sebuah jalan yang dilindungi oleh penjaga keamanan. Kara mengamati tatapan iri para fans kaena Kara dapat berjalan ke sana sementara mereka tidak. 


“Hei, kau dengar aku tidak? Kau itu make-up artist­ dia!"

Kara terlonjak karena kaget. “Tidak, bukan aku, aku hanya…” 

“Ssst… kita sudah sampai. Pak manajer marah besar karena kau terlambat, jadi kau jangan membantahnya jika dia menceramahimu, ya,” ucap pria tersebut, yang kemudian menyeret Kara ke dalam sebuah ruangan yang luas. Di dalam ruang tersebut terdapat Damian yang tengah bermain dengan ponselnya.


Kara ingin rasanya melompat-lompat mengelilingi ruangan tersebut. Dia. Satu. Ruangan. Dengan. Damian! Mimpi apa dia semalam? Namun pria dengan wajah garang yang berdiri di samping Damian membuatnya bungkam. “Hei, kenapa lama sekali? Tidak tahu apa fans Damian sudah menunggu?” omel manajer Damian. “Kau harusnya bersyukur make-up artist Damian sakit, sehingga kau dapat menggantikannya. Ini sebuah kehormatan, kau tahu?” Kumis pak manajer bergerak naik turun seiring dengan ceramahnya. Pria paruh baya tersebut berkacak pinggang dan melotot kepada Kara dan pria yang membawanya ke sini. 


“Maafkan saya, pak manajer. Saya rasa Yuna tadi tersesat,” jawab pria asing yang kini berada di samping Kara tersebut. Kara hanya diam dengan ekspresi bingung. Yuna? Sejak kapan namanya menjadi Yuna? Tiba-tiba pria asing tersebut berbisik di telinga Kara, “Pssst…Dimana peralatan make-up milikmu?” 


“Ah…oh, ini dia.” Dengan lugu Kara mengeluarkan peralatan make-up pribadinya dari tas. Pak manajer menganga, kemudian menatap Kara dengan sengit, “Kau sungguh tidak profesional. Cepat bergerak! Hasilnya harus bagus, atau kau akan kupecat.” 


Pak manajer berjalan keluar karena dipanggil oleh staf. Dengan gugup, Kara berjalan mendekat ke arah Damian. Ia bingung ingin melakukan apa, karena ia sendiri tidak mahir mengenakan make-up. Ia pun berusaha keras mengingat tips make-up yang dibacanya di majalah, dan mengaplikasikannya pada wajah Damian. 


Untuk menutupi rasa groginya, Kara pun mengajak Damian berbicara. Dia tidak yakin akan mendapatkan kesempatan ini lagi seumur hidupnya, “Halo kak, bagaimana perasaan kakak untuk bertemu dengan fans kakak di Jakarta?” 


Sorry, I don’t speak Bahasa,” ujar Damian sambil mengibaskan tangannya. Ia pun menelepon seseorang, “Hello, Sarah? Yes, honey, I’m in Jakarta right now. It’s hot and full of trafic jam, so sucks,” Sesaat kemudian, ia diam untuk mendengar lawan bicaranya berbicara. “Okay, call you later. Bye, girl, love you.” Damian pun kembali menelepon orang lain yang juga wanita, “Hello, Karina, how are you doing? I miss you, too, honey,” 


Kara menganga. Ia tidak menyangka bahwa Damian yang dinobatkan di majalah internasional sebagai pacar idaman ternyata pria hidung belang! Namun ia diam saja, walau sebenarnya ia sedang berusaha mati-matian menahan tangis. Selama ini ia selalu berkhayal untuk bertemu Damian, namun tidak pernah terbayang olehnya akan menjadi seperti ini. Rasa kecewa memenuhi benak Kara, hingga dia mulai tidak konsentrasi saat memulas wajah Damian. 


Lima belas menit telah berlalu, dan akhirnya Kara telah selesai mendandani wajah Damian. Ia pun buru-buru merapikan peralatan make-up miliknya dan bergegas pergi. “Tunggu sebentar, kau mau pergi kemana?” tanya pak manajer yang tiba-tiba telah masuk ke ruangan. 


“Tugasku sudah selesai. Aku harus pergi,” ujar Kara apa adanya. Pak manajer pun mengangguk.

“Baiklah, kau boleh pergi.” Kara pun berjalan keluar. Saat ia menutup pintunya, ia mendengar teriakan histeris pak manajer. “Apa ini? Kenapa wajah Damian jadi seperti wajah wanita?!”

***

“Yuna, apa kau tahu kau nyaris dituntut kalau saja aku tak membujuknya untuk tidak melakukannya?!” seru pria asing yang tadi membawa Kara. “Untung pak manajer mau menerima permintaan maafmu. Damian terpaksa tampil tanpa make-up.” 

Kara hanya melamun, masih tidak percaya dengan fakta baru tentang Damian yang baru diketahuinya hari ini. Semua imajinasinya, harapannya, serta keinginannya seakan telah dirobek secara paksa dari dirinya. “Aku mengerti jadwalmu banyak, dan kau harus melayani banyak klien, namun bukan berarti kau tidak bisa membedakan mana wanita dan mana pria!” Pria asing tersebut kembali berceramah. Menyadari bahwa Kara tidak merespon, ia pun melambaikan tangannya di depan wajah Kara. 


“Yuna, ada apa denganmu hari ini?” tanya pria tersebut. “Kenapa kau bertingkah aneh sekali?” Kara tidak menjawab, bahkan ia mulai menangis sesenggukan. Kontan saja pria di hadapannya menjadi panik, “Hei, mengapa kau menangis? Apa aku salah berbicara?” 


Melihat Kara yang masih terus sesenggukan, pria asing tersebut pun mengambil tisu dan mengusap air mata Kara. “Aduh, aku minta maaf. Biasanya kau tidak cengeng seperti ini. maaf ya,” 


Tiba-tiba terdengar suara wanita asing, “Joshua, dia siapa?"

Pria asing yang ternyata bernama Joshua tersebut menoleh ke arah sumber suara. “Yuna?” Joshua pun menoleh kepada Kara dan Yuna bergantian. “Ke-kenapa bisa ada dua Yuna?”

***

“Oh, jadi begitu ceritanya,” Yuna yang asli tertawa, sementara wajah Joshua bak kepiting rebus karena malu. Mereka berdua tengah duduk di sebuah kafe. Yuna yang berinisiatif membawa mereka kesana, berkata ingin mentraktir Kara yang sedang tertimpa ‘nasib sial’. 

“Maaf kak, aku tidak berniat mengambil identitas kakak,” ujar Kara sambil menunduk. Ia merasa serba salah. Sudah diseret oleh orang asing, dimarahi orang asing, sekarang ditertawakan orang asing!

Yuna yang duduk di samping Kara langsung menepuk pundak Kara, “Tidak apa, ini semua salah si bodoh ini,” 

“Enak saja! Bukan salahku wajah Kara mirip dengan wajahmu!” protes Joshua yang duduk di hadapan Kara dan Yuna, merasa tidak terima dengan tudingan Yuna. 


“Masa kau tidak bisa membedakan remaja dengan wanita dewasa sepertiku?” omel Yuna, yang hanya dijawab Joshua dengan ekspresi cemberut. Yuna pun beralih pada Kara, “Lalu, bagaimana perasaanmu bisa bertemu dengan Damian?” 


“Tidak seperti yang kuharapkan,” ujar Kara jujur dengan raut wajah sedih. Ia menyeruput jus jeruknya yang sudah hampir habis. “Aku kira dia pria yang baik dan romantis seperti yang selalu ia tunjukkan di layar lebar. Ternyata dia sombong dan tidak menghargai wanita.” 


“Syukurlah kau tahu. Aku sebenarnya enggan menjadi make-up artist dia, karena tingkahnya yang sombong itu. Aku sengaja berjalan dengan lambat, namun Joshua kehilangan jejakku di dalam keramaian dan malah membawamu,” Yuna meneguk minuman sodanya. “Untung saja kau menggantikanku,” 


“Dasar tak bertanggung jawab!” Joshua menjitak kepala Yuna. Yuna hanya membalasnya dengan cengiran. Sesaat kemudian Joshua berdiri, “Baiklah, Kara, karena aku yang telah menyeretmu, aku akan bertanggung jawab mengantarmu.” 


“Hati-hati, jangan sampai kau salah mengira gadis lain sebagai Kara,” sindir Yuna, yang membuatnya kembali dihadiahi sebuah jitakan oleh Joshua. “Maaf aku tidak bisa mengantarmu Kara, aku masih punya klien lain yang harus diurus. Namun tenang saja, Joshua akan memastikan kau sampai ke acara fansign dengan aman.” 


Kara menyunggingkan senyumnya, “Oke, kak.” Ia dan Joshua pun bangkit berdiri dan jalan menuju keluar kafe dan menaiki motor Joshua, sementara Yuna pergi ke meja kasir.

***

“Maaf sudah memarahimu hingga kau menangis,” ucap Joshua. Kini ia dan Kara berada di jalan, semakin dekat dengan acara fansign. Sebenarnya Kara enggan melihat wajah Damian, namun rumahnya terlalu jauh, sehingga tak memungkinkan Joshua untuk mengantarnya kesana. Ia mau diantar ke acara fansign hanya agar ia bisa bertemu dengan Alice dan pulang bersama dengan sahabatnya tersebut. 

Mendengar ucapan Joshua, Kara menggeleng pelan kemudian tertawa, “Tidak, aku tidak menangis karena kakak memarahiku. Tapi karena aku mengetahui seperti apa Damian sebenarnya,” Mereka pun akhirnya sampai ke acara fansign, yang sudah hampir selesai. Kara turun dari motor dan pamit, “Terima kasih kak, sudah mengantar saya,” 


Joshua tersenyum dan membalas, “Sama-sama. Maaf, karena saya kamu harus mengalami hari yang aneh,” 


Kara baru saja akan membalas, jika saja ucapannya tak disela. “Kara, kemana saja kau? Kau melewatkan acaranya!” Kara celingak-celinguk untuk mencari asal suara, dan ternyata itu adalah suara dari Alice. 


Saat Kara berlari menuju Alice, tiba-tiba saja ia mendengar sebuah suara berteriak, “Kara, bangun!” 


“Bangun? Apa maksudmu?” tanya Kara pada Alice. 


Alice menggeleng bingung, “Aku tidak mengatakan apapun. Sungguh,” 

“Ayo, bangun, bukankah kau bilang ingin mendatangi acara fansign dengan Damian?” Suara itu kembali terdengar. Sesaat kemudian Kara menyadari bahwa itu bukan suara Alice, melainkan Kak Poppy.


Tiba-tiba Kara merasakan esensi dingin dan basah menyergap tubuhnya, membuatnya langsung membuka kelopak matanya, “Aduh!” Kara menyadari bahwa dia berada di kamar tidurnya. Di hadapannya ada Kak Poppy yang tengah memegang ember kosong. 


“Aduh, kamu itu! Masa harus disiram baru bangun?!” omel kak Poppy. Kara hanya bengong, tidak yakin akan berbuat apa. Kak Poppy langsung menaruh ember di lantai dan berjalan pergi, “Cepat! Mama sudah memanggilmu dari tadi. Sepertinya mama mau menyuruh kamu membeli keperluan untuk makan malam,” 


Kara mengusap matanya dan menatap sekitarnya dengan raut wajah bingung. “Jadi, tadi semua itu hanya mimpi?”
TAMAT

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.