#37 49 Days Chapter 1 (Incomplete)
49 Days
A
Vocaloid fan fiction written by Asha D
Disclaimer:
If
I own Vocaloid I would totally make all male Vocaloid characters use glasses
*smirk* *not sorry for being a megane boy freak*
Genre:
drama/tragedy/family/psychological/mystery
(shoot, why so many of them.)
Warning : If you’re under 15, PLEASE go back and don’t
read this story. Call me dramatic but I’ve learned my lesson for
reading stories that are not suitable for my age. And it’s not a pleasant
lesson. Playboy!Gakupo. Melancholic!Kaito. You might find bad words, few typos and OOC.
A/N:
This
story was almost abandoned but thanks to Kyle Thompson, whose surreal
photographs are beyond amazing, I’m motivated to continue this story. Dedicated
to Hiiragi Izumi. I’m sorry I cancelled
it but I love the plot so I decided to continue it. Sorry, can’t help myself.
.
.
.
Chapter
1
Give
Me Love Like Her
.
.
.
When you're awake and your own shadows turn
into ghosts.
Home becomes what you're scared of the most.
Home becomes what you're scared of the most.
Gabrielle Aplin – Ghost.
.
.
.
Angin yang berhembus tak
berbicara banyak, namun cukup kuat untuk membuat tirai bergoyang. Hanya ada
satu jendela di kamar tersebut, terbuka dengan kusen yang tak utuh karena
rayap. Di tengah ruangan terdapat kasur yang busanya telah rusak dan kerangka
besi yang berderit karena karat. Ada sebuah almari buku yang besar dan kosong,
teronggok di tepi. Tak jauh darinya, terpaku sebuah cermin di dinding,
bergoyang seperti hendak jatuh kapan saja ia mau.
Kaito menyandarkan tubuhnya ke sebuah dinding penuh bercak, sisa dari air hujan yang merembes dari atap yang bocor. Ia duduk berseberangan dari kasur yang lapuk tersebut; tempat dimana ia telah tidur selama tiga hari belakangan. Kedua kelopak matanya terkatup sementara wajahnya menengadah. Tangannya terkulai di sisi, membuatnya terlihat seperti orang yang tak sadarkan diri. Kamera tergeletak di sebelahnya, tak tersentuh. Sebuah rokok bertengger dengan manis di ujung bibirnya, menyala. Jaring laba-laba menjajah tiap sudut ruangan tersebut, sementara penghuninya memandang Kaito dalam diam.
Sinar matahari menyentuh lantai kayu yang mencuat dari tempatnya, hanya saja tak sampai ke tubuh Kaito. Seakan surya pun enggan mengganggu waktu yang sakral bagi sang seniman. Suara serangga dan desau angin pun tak berani menimpali, meninggalkan pria tersebut sepenuhnya dalam hening. Cuaca mendung di musim gugur meniupkan angin yang dingin, yang mustahil bagi kemeja tipisnya untuk halau. Kulit Kaito yang pucat dan mencetak urat di bawahnya meremang, tapi diabaikan oleh pemiliknya.
Konsentrasinya telah jatuh pada usahanya untuk mengakses masa lalu. Apapun yang membangkitkan sensai kesepian, rapuh dan perih. Tak butuh waktu yang lama baginya agar kenangan menyakitkan, memori pahit dan keengganan untuk melangkah maju terakumulasi. Seperti kaset, potongan gambaran akan kehidupannya yang carut marut perlahan menjadi satu, menjadi puzzle yang lengkap.
Sesuatu di dadanya berdenyut
dan mengirim sensasi nyeri ke seluruh tubuhnya. Semua perasaan yang menerbitkan
gundah gulana mengharubirukan dadanya. Walau begitu Kaito tetap berusaha tenang.
Pupil matanya tak lagi terhalang oleh kelopak, akan tetapi tatapannya kosong. Seakan
matanya berusaha merefleksikan kehampaan di dalam hatinya.
Sesaat kemudian ia meraih kamera dan mulai mengatur dalam mode timer. Ia telah menyiapkan properti, hanya tinggal mencari pose yang sesuai. Ia pun melepaskan bajunya dan mengizinkan angin menjamah tiap senti torsonya. Sebuah rumah boneka yang ia buat dari kayu disiramnya dengan bensin, kemudian disulut dengan api. Ia mengaktifkan timer, membungkus kepalanya dengan kain putih dan berbaring di samping rumah boneka tersebut.
Sesuatu menggelitik pemikirannya. Angin dingin merambah sebelah sisi tubuhnya, sementara sebelah sisi lagi dapat merasakan gelegak si jago merah. Apa mungkin ini takdir manusia? Hanya bisa menentukan di sisi mana mereka akan berada, tanpa bisa mengecap keduanya? Salahkah manusia untuk teguh menjejak bagian yang abu-abu?
Panas. Dingin. Putih. Hitam. Yin. Yang. Antara masa lalu dan masa depan. Dilemadilemadilema.
Kaito sadar bahwa menjadi fotografer telah mendorong sisi masokisnya ke level yang lebih jauh.
Saat ia tengah larut dalam gelombang pemikirannya, telinganya menangkap suara derap kaki. Dalam satu gerakan yang sigap, ia menegakkan tubuhnya dan menajamkan pendengarannya. Bunyi lantai kayu yang berderak mengkonfirmasi kecurigaannya. Kaito melepaskan kain yang menutupi wajahnya, mengambil sebotol air danau yang diciduknya tadi pagi, dan melenyapkan api yang membara. Ia mengendap-endap, berupaya meminimalisir kemungkinan suara yang akan dihasilkannya.
Dan betapa terkejutnya ia saat tubuhnya hampir beradu dengan seorang bocah.
“Papa?”
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”