#40 How to Get Good Dreams Chapter 3

 source

How to Get Good Dreams
A Koisuru Boukun fan fiction written by ah-ee-you
Dedicated to Rin Kurin for her birthday
I own nothing and gain no profit from this story
.
.
.
Chapter Three
Introducing Us
.
.
.
Souichi tak lagi merasa asing dengan apapun yang eksistensinya ada di dekatnya.

Bunyi jangkrik di malam hari yang kadang membuatnya terkesiap kini seperti lagu nina bobo yang terasa ganjil jika absen. Gemerisik daun yang tadinya menganggunya kini menenangkannya. Siluet samar bak kabut dingin yang sering menjahilinya ternyata tidak semenyebalkan yang dulunya ia kira. Kehangatan dan keramahan yang dulunya hidup di rumah itu telah mengikis rasa paranoidnya.


Suatu siang saat Souichi sedang membereskan rumahnya, ia sadar Tetsuhiro tak mengalihkan pandangan dari foto keluarganya. Ia pun menarik foto tersebut, membuat Tetsuhiro tersentak. Hantu tersebut merengut, khawatir Souichi akan mengomel panjang lebar. Tapi ternyata yang ia dapat adalah sebuah senyuman-yang kalau diamati lebih lama terlihat seperti seringaian.

"Kau penasaran, ya? Baiklah, aku akan memperkenalkan mereka padamu. Ini keluargaku. Yang sebelah kanan jelas ayahku, yang di kiri ibuku, ini aku, yang itu adikku yang laki-laki, Tomoe, dan yang paling muda adik perempuanku, Kanako…"

Tetsuhiro tak merespon, masih terkejut bahwa dirinya tak terkena semprotan kemurkaan Souichi. Atau mungkin, belum.

"…Ibu sudah meninggal…," Souichi menggaruk hidungnya yang gatal dan terus melanjutkan, "Ayah dan Kanako tinggal di Tokyo, tapi ayah sering berpergian. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Kanako sendirian, tapi ia menolak pindah, jadi aku menitipkannya pada tanteku. Toh, ayah juga sudah setuju. Sedangkan Tomoe sudah pindah ke Amerika bersama… pacarnya."

Tetsuhiro mengangguk dengan hikmat, seakan baru mendengar sebuah ceramah. Souchi meletakkan foto keluarganya kembali di tempat, sebelum mengambil foto di sebelahnya. "Kalau yang ini teman-temanku di SMA. Mereka sangat baik, karena dukungan mereka aku jadi semangat belajar."
Entah roh apa yang merasuki Souichi hari ini. Ia tak keberatan menjelaskan panjang lebar tentang dirinya sendiri. Padahal sebelumnya ia hanya mau berbicara jika perlu. Itupun bisa dihitung dengan jari.

"Kalau ini teman-temanku di universitas. Mereka kutu buku sepertiku." Jari Souchi menunjuk potret beberapa pria yang mengenakan kacamata dengan tubuh yang bungkuk.

"Oh, ya, sepertinya kau belum tahu. Tapi aku merasa kau perlu tahu. Mulai minggu depan aku akan mulai bekerja sebagai guru biologi SMP di desa ini." Souchi meraih lap dan menyingkirkan debu yang menggumpal di sudut meja. Sedetik kemudian ia sadar Tetsuhiro masih memandanginya.

"Apa?" tanya Souichi dengan ketus. Tetsuhiro merengut, kesal karena Souichi kembali ke dirinya yang dulu. "Kau pasti bertanya, kenapa aku pindah, ya? Ah, kau ini selalu ingin ikut campur urusan orang saja." Souchi menyampirkan lap di bahunya, kemudian menggeser sofanya.

"Begini lebih baik," ujar Souichi pada dirinya sendiri, kentara sekali bahwa ia puas mengatur ulang ruangannya. "Karena aku sedang senang, aku akan menjawab pertanyaanmu—hei, jangan bermuka masam, nanti aku berubah pikiran. Aku tahu kau bertanya walau kau tak bisa berbicara, tidak usah sungkan."
 
Souichi melangkahkan kakinya ke teras samping sekolah dan duduk di beranda. Ia melepaskan kacamatanya dan mengusap matanya. "Bagaimana cara aku mengatakannya ya…"

Tetsuhiro, entah kenapa, memutuskan untuk berdiri di tepi pintu.

"Aku pindah karena…" Sebuah helaan nafas memotong kalimat Souichi. "…aku benci kota. Semua hal yang ada di kota mengingatkanku padanya."
 
Souichi menoleh, mendapati Tetsuhiro tetap memandangnya dengan ekspresi kebingungan. "Kau pasti bertanya 'siapa dia', ya?" Souichi terkekeh, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia adalah..."

Tanpa sadar Tetsuhiro menahan nafas, menunggu kelanjutannya.

Sayangnya Souichi tak sempat menjawab karena bunyi bel di pintu telah lebih dulu menginterupsi percakapan mereka.

"Tunggu sebentar!" Souichi beranjak dan berjalan dengan cepat ke pintu depan. Sang hantu mengekori dari belakang, bertanya-tanya siapakah yang merebut kesempatannya untuk mengenali si pemilik rumah lebih jauh. Suara berderak pintu yang dibuka terdengar, juga suara nafas Souichi yang tertahan.
 
Seorang pria berdiri di hadapannya sembari tersenyum. "Lama tak jumpa, sobat."

Sementara yang disebut sebagai 'sobat', ternganga. "Ta—Taichirou?"

AAA

Souichi tak tahu apa yang telah menjadi mimpinya semalam sehingga ia mendapati Taichirou ada di ruang tamu. Pria tampan tersebut duduk di seberang meja di ruang tamu, mengecap kopi yang diseduh Souichi. Souichi meremas ujung bajunya hingga telapak tangannya berkeringat. Namun sampai jarum menit sudah berpindah tiga garis dari yang sebelumnya, tak ada yang kunjung membuka suara. Dalam hati Souichi memaki kedatangan Taichirou yang tak tepat pada waktunya. Sementara itu, Tetsuhiro, menghilang tanpa jejak. Seperti biasa. Namun firasatnya mengatakan Tetsuhiro tengah mengamati mereka berdua dari suatu tempat.

"Apa kabarmu, Souichi? Maafkan kelancanganku karena bertamu tanpa membuat janji terlebih dahulu, tapi aku tak punya kontakmu. Aku juga tak bisa menghubungi Tomoe dan Mitsugu, jadi aku putuskan untuk langsung ke sini." Taichirou terdengar tulus saat ia mengatakannya, membuat semua kata cacian lenyap dari benak Souichi. Walau begitu ia tetap tak berusaha menutupi raut wajah jengkelnya.

"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah saat kita terakhir kali bertemu kau sedang bertugas di Filipina?" tanya Souichi tanpa basa-basi.

"Kontraknya sudah selesai bulan lalu. Aku kembali ke Tokyo dan atasan memintaku untuk meninjau langsung lahan yang berpotensial untuk menjadi proyeknya." Sepertinya Taichirou menangkap tubuh Souichi yang menegang, karena ia buru-buru menambahkan, "Ah, aku tidak sedang membicarakan rumahmu, tenang saja."

Souichi membalas dengan cengiran setengah hati, dan tak mampu berucap apa-apa untuk sesaat. Oh, ayolah otak, berpikir, apa topik yang cocok untuk dibicarakan…

"Kau tinggal seorang diri, bukan?" Pertanyaan Taichirou begitu mendadak hingga membuat Souichi terkejut.

"Iya, kenapa? Apa ada sesuatu yang aneh?" Apa Taichirou dapat melihat hantu?

Taichirou tertawa geli melihat jawaban Souichi yang kaku, ia memamerkan deretan giginya yang putih. "Tidak, hanya saja rumahmu terlalu besar untuk ditempati seorang diri, tapi sangat rapi," Ia mengedarkan pandangannya seolah ingin mengkonfirmasi ulang pernyataannya. "Seperti bukan kau saja."
 
Souichi tertawa canggung sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ini semua berkat ketekunan Tetsuhiro. "Apa kau mau berkeliling untuk melihat rumah baruku? Kalau ya, maaf saja, aku tak punya waktu untukmu."

"Dasar. Apa aku begitu menganggu bagimu? Baiklah, aku akan pulang. Oh astaga, aku hampir lupa memberimu oleh-oleh dari Filipina." Taichirou mengeluarkan beberapa buku baru yang tersampul dengan rapi. "Semuanya buku agrikultural dalam bahasa Inggris. Aku harap kau suka."
 
Souichi rasa matanya yang berbinar-binar terlalu kentara, karena ia mendengar Taichirou menggoda, "Tapi sayang, karena kau tak suka aku di sini, lebih baik aku tarik saja oleh-olehku."

"Cerewet," maki Souichi, walau sebenarnya hatinya melonjak kesenangan. "Aku tidak pernah bilang kau menggangguku. Sini, berikan oleh-olehnya untukku."
 
Dalam waktu sekejap buku-buku tersebut telah berpindah tangan, dan Taichirou berusaha keras menahan keinginannya untuk tertawa.

"Terima kasih untuk waktumu, Souichi. Maaf aku tak bisa berlama-lama, aku harus kembali menemui rekan kerjaku." Mereka berdua berdiri dan Souichi mengantar tamunya ke pintu depan. Setelah Taichirou melangkah ke luar gerbang, ia berbalik. "Oh ya, sebelum aku pergi, bagaimana kalau kita mengunjungi sebuah rumah makan? Kemarin malam aku kesana dengan rekan kerjaku, ramen yang mereka buat sangat enak. Kau pasti ketagihan."

"Boleh." Souichi mengiyakan walau ia sendiri tak begitu yakin ia mau pergi.

"Sabtu ini, jam tujuh?" Anggukan Souichi menjadi jawaban. "Baiklah. Aku akan menjemputmu. Selamat siang, Souichi."
 
Untuk beberapa waktu yang singkat Souichi termangu, bingung dengan apa yang baru saja dihadapinya. Otaknya berusaha keras mencerna ulang apa yang baru ia lihat, ucapkan, dengarkan, dan lakukan. Ia menjadi jengkel karena otaknya lebih mudah tanggap terhadap ilmu pengetahuan dibanding realitas, lantas ia menyerah.

Souichi pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah, tanpa menyadari ada yang memandangi tiap geraknya dari kejauhan.

AAA

Sabtu datang lebih cepat dari pada yang Souichi kira. Souichi punya keinginan yang kuat untuk membatalkan janjinya dengan Taichirou, tapi ia tak tahu alasan apa yang harus ia karang. Kalaupun ia tahu, ia tak akan bisa memberi tahu Souichi karena ia tak punya e-mail Taichirou.

Merepotkan. Souichi memijit kedua sisi pelipisnya yang terasa berdenyut. Kini ia tak punya pilihan lain selain bersiap-siap untuk pergi 'berkencan'. Ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi, dan terkejut saat mendapati bayangan Tetsuhiro muncul di hadapannya.

"ASTAGA! TETSUHIRO! KAU MAU BUAT AKU MATI MUDA, HAH?!" Souichi histeris lebih karena refleks, akibat percampuran rasa kaget, takut dan marah. Tetsuhiro yang ia kenal biasanya akan langsung menyeringai dengan jahil kemudian menghilang. Namun hantu tersebut memandangnya dengan murung, hingga aura yang ada di sekitarnya menggelap.

"Hei, kenapa?" Kekhawatiran muncul di benak Souichi, namun pertanyaan Souichi terdengar kasar dan kering. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Souichi mulai tak sabaran. "Tetsuhiro, ada apa?"

Tiba-tiba saja Tetsuhiro menghilang, seiring dengan munculnya goresan huruf kanji yang tercetak di cermin yang berembun.

Jangan pergi.

Sang pria dengan rambut panjang tersebut berdecak, tidak senang melihat sifat kekanak-kanakkan Tetsuhiro. "Memangnya kenapa?" Nada suaranya terdengar menantang dan garang. Kentara sekali bahwa Souichi sedang bad mood. Tak lama kemudian sebuah kalimat baru muncul di bawah kalimat yang sebelumnya.

Aku selalu sendiri.

Souichi mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya, terlihat frustasi. Ia melayangkan sebuah perintah, "Tetsuhiro, tunjukkan dirimu."

Tak ada jawaban. Kepala Souichi terasa semakin sakit karena pusing yang menghujam. "Kau dengar aku, Tetsuhiro, tunjukkan dirimu."

Tak butuh waktu lama bagi Tetsuhiro untuk memunculkan wujudnya. Hanya saja Souichi terkejut saat mendapai muka murum pemuda tersebut, yang bertolak belakang dengan penampilannya selama ini. Seolah di wajah tersebut tak pernah ada ekspresi jahil, ceria dan hangat yang selalu ditampilkannya.

"Aku tidak akan pergi kemana-mana, bocah, kau dengar itu?" Souichi mengangkat tangannya, lebih karena refleks, dan menempatkannya di rambut Tetsuhiro. "Aku. Tidak. Akan. Pergi."
Sebuah senyum terpatri di wajah Tetsuhiro, dan bibirnya bergerak dengan lambat seolah berkata, Oke. Sesaat kemudian Souichi melepaskan tangan kanannya yang mengantung di udara dan berdehem.

"Sekarang bisakah kau biarkan aku mandi? Aku sangat gerah."

AAA

Tepat sesuai jam yang telah dijanjikan, Taichirou muncul di beranda rumahnya. Bunyi bel menjadi indikasi kedatangannya. Tetsuhiro hilang saat Souichi mandi, dan tak lagi muncul. Pikiran Souichi sudah terlalu kalut karena makan malam sampai ia tak punya kapasitas untuk memikirkan sang hantu. 

Baginya karena sang hantu tak pernah pamit, ia juga tak punya apapun untuk dicemaskan. Kini Souichi membuka pintu dengan perasaan gugup yang ia harap tak terlalu terlihat kentara.

Taichirou ada di hadapannya dengan gaya kasual. Ia lebih terlihat seperti model ketimbang pekerja kantoran. Souichi cukup lega karena kemeja yang ia kenakan tak terlihat murahan kalau ia berdampingan dengan pakaian ternama milik Taichirou.

"Malam, Souichi. Kau sudah siap?"

Souichi terhenyak mendengar suara Taichirou, tanpa ia sendiri tahu mengapa. Dengan kuat ia menahan keinginan untuk menghela nafas dan terlihat seperti hewan yang akan digiring ke penjegalan. Souichi memaksakan sebuah sebuah seringaian dan berujar, "Tentu saja siap, bodoh, kalau tidak kenapa aku berdiri di sini?"

Taichirou hanya membalas dengan senyuman. "Ternyata kau masih sama saja."
.
.
.
tobecontinued.
.
.
.
Reviews are appreciated.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.