#15 (Prologue) Reincarnation
sts
Reincarnation
An unofficial sequel of Soulmate written by Silan Haye (click to see her fanfiction.net profile)
An unofficial sequel of Soulmate written by Silan Haye (click to see her fanfiction.net profile)
Shingeki no Kyojin belongs to Isayama
Hajime
Genre : romance/hurt/comfor
Words : 530
tst
Genre : romance/hurt/comfor
Words : 530
tst
Prologue
sts
Jean
membuka matanya. Ia tidak yakin di mana ia berada sekarang, dan jantungnya
berdetak keras karenanya. Jean mengenakan kemeja putih selutut yang menggembung
karena air. Ia berdiri namun telapak kakinya tak menginjak apapun. Walau begitu
ia dapat merasakan kehangatan melingkupi dirinya, menariknya ke bawah. Hampir seperti
berenang, hanya saja kau hanyut ke arah gravitasi membawamu. Anehnya di tengah
kegelapan yang absolut, Jean cukup yakin ia dapat melihat ke sekelilingnya.
Jean melongo ke bawah. Ia tak dapat melihat batas dari tempat ia berada, seperti sumur tanpa dasar. Jean melayangkan pandangannya ke segala arah. Tidak ada apa-apa untuk dilihat, hanya gelembung air yang keluar tiap kali ia membuka mulutnya atau menggerakkan tubuhnya.
Jean melongo ke bawah. Ia tak dapat melihat batas dari tempat ia berada, seperti sumur tanpa dasar. Jean melayangkan pandangannya ke segala arah. Tidak ada apa-apa untuk dilihat, hanya gelembung air yang keluar tiap kali ia membuka mulutnya atau menggerakkan tubuhnya.
Logika
Jean mulai berjalan; Di mana dia? Jika dia memang berada di air, kenapa dia bisa
bernapas dan semuanya gelap? Dan kenapa dia tak bisa mengingat apapun selain
namanya?
Rasionalitas
Jean ingin sekali melonjak karena takut atau berteriak meminta tolong, namun sulit
untuk melakukannya saat kau sendiri merasa aman. Alis Jean berkedut oleh fakta
bahwa pikiran dan hatinya berkontradiksi. Saat otak Jean menyuruhnya untuk
keluar dari tempat tersebut, batinnya membisikan bujukan agar dia tetap tenang
di tempat ia berada.
Kepala
Jean pusing oleh dilema yang tercipta dengan sendirinya, saat ia mendengar
sesuatu yang terasa asing, namun anehnya juga familiar. Pikirannya bersikeras bahwa ia baru pertama kali mendengar suara itu, namun suatu bagian di hatinya bersorak karena telah lama menunggu kedatangan suara itu.
Déjà vu? Tidak, tidak, perasaan Jean jauh lebih aneh dibandingkan déjà vu.
“Jean?”
“Jean?”
Jean
sontak menoleh, bingung karena tidak menemukan apapun. Kerongkongannya terasa
kering, dan dalam ketercekatannya ia hanya bisa bertanya, “Siapa kau?”
Tidak
ada jawaban. Hampa yang mengisi pendengaran Jean membuat bulu romanya berdiri. Ia
mendekap dirinya sendiri, terkejut oleh esensi dingin yang tiba-tiba
menyergapnya, terlebih lagi saat ia mendengar suara itu kembali.
“Aku berharap kita terlahir kembali,
dengan namaku di tanganmu, dan namaku di tanganmu. Aku tak akan lagi sendirian,
dan kuharap kau telah belajar dan tak lagi takut.”
Jean
hampir bisa menghirup suara itu. Suaranya hangat, basah, namun segar. Sesuatu menggelegak
di dalam hati Jean, yang ia kenali sebagai rasa rindu. Jean menggeleng pelan,
bagaimana mungkin ia bisa menantikan sesuatu yang bahkan tak ia ketahui bentuk eksistensinya?
Suara itu kembali terdengar,
merontokkan sisa-sisa logika terakhir yang Jean punya. “Jean, kuharap kita berjumpa lagi, dan saat itu, aku akan terus
menggandengmu. Tak akan kulepas lagi.”
Air
mata Jean keluar dengan cepat dan tanpa ia bisa cegah langsung berbaur dengan
air di sekelilingnya. Kalimat itu terdengar seperti perpisahan. Jean
menyadarinya, dan untuk satu alasan yang Jean tak ketahui, ketakutan mencekamnya.
Ia jauh lebih takut dibanding saat ia menyadari presensinya di sebuah tempat
yang ia tak ketahui tanpa secuil memori atas siapa dirinya.
“Selamat tidur, Jean…”
Jean
menggeleng, menolak untuk membalas dengan kalimat yang serupa. “Tidak, kumohon.”
Jean dapat mendengar suaranya yang bergetar terkesan begitu rapuh. “Siapapun kau, kumohon, kembalilah.” Jean
berusaha menggapai suara tersebut, namun sia-sia. Ia hanya mampu meraih
sebongkah air yang dengan mudah menyelinap keluar dari sela-sela jemarinya.
Saat
iris abu-abu Jean berusaha mencari apapun yang mengindikasikan keberadaan sang
pemilik suara, sebuah cahaya menyilaukan menarik perhatiannya. Lubang cahaya
itu semakin lama semakin besar, dan menarik air yang ada di sekitar Jean bagai
magnet.
Jean
ingin berenang ke arah sebaliknya, sebisa mungkin menjauh dari lubang tersebut.
Namun kekuatan Jean menguap begitu saja, membuatnya hanya mampu menutup mata seiring dengan kesadarannya yang mulai
hilang, dan pendengarannya yang samar-samar akan kalimat yang terus bergema.
“Selamat malam, Jean…”
“…Malam…”
“…Jean…”
tst
A/N : Ini bukan bagian dari projek menulis manapun. Ini adalah plot bunny yang muncul di tengah kesibukan. Tapi nulisnya enak, padahal biasanya kena WB ;w; Oh ya, kalimat langsung yang dicetak miring itu dari novel fanbooknya kak Silan. Bagus banget lho ceritanya! \^o^/
Semoga cerita ini bisa terlesaikan di tengah-tengah penyelesaian projek lain ya, Amin ;___;
.png)




Ashaaaa thank you so much for writing this ;u;
BalasHapussaya beneran ga menyangka bakal ada yang bikin spin-off dari Soulmate hiks
terima kasih banyak apresiasinyaaaaa #sembah
Anyway, ini pertama kalinya saya baca tulisan Asha :3
You must be a really great reader, because you're a great writer.
Gaya berceritamu yang penuh metafora dan pengandaian disini benar2 menawan hati. Apa ya, kamu mendiskripsikan sesuatu yang tidak konkret, tidak benar2 ada di dunia nyata, tapi saya tetap bisa mendapat gambaran yang jelas. And it's so damn hard to do. Kalau kamu pakai bahasa yang terlalu lugas, jadinya ga "artistik" dan kesan "magis" nya kurang. Kalau bahasamu terlalu berbunga2, pembaca jadi kehilangan makna. Tapi penjelasanmu disini pas banget, and i like it :3
Karakterisasi... belum bisa banyak komentar sih, but i'm looking forward to read your Jean :3
Masukan? Well. Ga banyak masukan dari saya sih, karena tulisanmu sudah keren banget secara keseluruhan hiks ;u;
tapi mungkin pakai lebih banyak variasi kata? usahakan dalam 1 kalimat, atau lebih baik 1 paragraf, jangan pakai kata yang sama persis. Misal, kata deja vu, jangan diulang 2 kali dalam 1 kalimat. Yang terakhir cukup diganti pakai kata "itu", saya rasa pembaca sudah mengerti kalau itu maksudnya adalah "deja vu".
Well, itu menurut saya aja sih tapi, hehehe....
all in all, this is a very nice beginningggg i can't wait to read more ;u;
kamu pandai bikin pambaca penasaran, dan menyebar clue di tempat yang tepat. Bahkan saya yang nulis main story nya aja jadi penasaran, hahaha....
xoxo,
Silan Haye
@Silan Haye : makasih banyak kak Silan komentarnnya >.< gak nyangka bakal dapat komentar kayak gini dari author favorit <3 semoga saya bisa menulis spin-off yang berkualitas ya, hehehe. sekali lagi trims kak :)
BalasHapusah. yang diatas gua komennya berkualitas banget. haha.
BalasHapusbagus ini cerpennya. cuma kok kayak gak ada ending gitu ya? jadi masih ngambang. dan buat gak ngerti juga.
btw, spin off itu apa ya?
^ semacam cerita yang mengacu sama cerita asli, tapi tujuannya kayak bikin orang penasaran sama cerita aslinya *penjelasan yang mbulet*
BalasHapusbetewe, saya jadi penasaran sama cerita aslinya. jadi spin-off ini berhasil, haha
looking forward to your new pieces