#6 Pengejar Angin
I do not own the picture, I only edit it. I also published this story on Fanfiction.net
***
Angin telah hilang (hilang!)
Angin telah dicuri (dicuri!)
Diraup sebayang lengan di tengah malam
Saat semua iris terkatup oleh mimpi
***
Risa adalah pengejar angin.
Sejak kecil, ia selalu yakin ia terbangun di tubuh yang salah. Namun bibirnya terkatup, tak mampu menyuarakan kehendak hati. Hanya di dalam angan-anganlah kedua tangan mungilnya berusaha menangkup sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya sejak dahulu. Namun realitas, bagai lengan yang tak tampak, selalu menyeretnya kembali ke lubang kegelapan.
Saat menginjak pubertas,
ia kembali merasakan gejolak yang telah lama dipendamnya oleh rasa takut. Namun
kata-katanya selalu tergantung di ujung lidah, tertahan di dalam bola mata yang
menyiratkan ketidakterimaan. Rasa najis, jijik, dan malu menjadi santapan
sehari-harinya. Frustasi mulai menggelayut, menemani kesuraman yang selalu
menggantung. Melihat wajahnya seperti melihat awan kelabu—gelap.
Seiring umur yang terus
merangkak, depresi mulai menggerayangi hidupnya. Ia tercekik oleh rantai beban
yang menghantui tiap langkahnya. Hatinya bagai borok yang menganga. Tak ada
hari dimana takdir tak memaksanya menelan bulat-bulat pil pahit kehidupan.
Nasib pun selalu memastikan ia mengecap perih yang berdenyar di seluruh
tubuhnya tiap kali realitas menabraknya. Dunia bertingkah seakan-akan Risa
bukanlah manusia, melainkan bahan gunjingan yang patut diolok-olok.
Namun Risa tidak menyerah.
Dia tetap mengejar angin.
Tokyo, 10 Mei 2003. Pukul 15.00 waktu setempat.
Deru taksi yang berjalan menjauh membenturkan Risa pada realitas. Iris mata obsidiannya menatap sebuah rumah dengan eksterior khas rumah Jepang yang menjulang di depannya. Ada suatu kharisma tersendiri dari bangunan yang dirancang oleh desainer Jepang yang telah menembus kancah internasional. Bak magnet yang atraktif, rumah dengan nuansa damai tersebut membuat tiap orang menolehkan kepalanya dan tenggelam dalam kekaguman. Begitu menakjubkan dan elegan, namun juga misterius dan membius.
Risa menekan sebuah tombol
di dinding di samping pagar. Sesaat kemudian ia dapat mendengar suara bariton
dari seorang pria asing lewat interkom. “Selamat siang, ada yang bisa saya
bantu?”
Risa berdehem pelan
sebelum menjawab, “Saya adalah adik Shinomiya Kevin, dan saya telah membuat
janji temu.”
Keheningan yang mengisi
jeda segera disela oleh suara pria yang sama. “Maaf, seingat saya Pak Shinomiya
tidak mempunyai adik per…Tunggu sebentar.”
Terdengar dengungan bisikan dan sepercik perdebatan, sebelum akhirnya suara tersebut kembali berbunyi. “Maaf telah membuat anda menunggu,” Kegugupan terdengar kentara dari suaranya. “Silakan masuk. Pak Shinomiya telah menunggu anda.”
“Terima kasih.” Risa
menjejakkan kaki setelah pagar kayu terbuka secara otomatis dan memberinya
jalan. Risa mengikuti jalan setapak, hanyut oleh nostalgia yang menghembus
pelan bagai angin di musim semi. Tidak ada yang berbeda sedikitpun dari rumah
tersebut, seakan pemiliknya ingin mengurung waktu dan mencegah memori pergi.
Risa ingat saat kecil ia
mengejar kupu-kupu bersama kakaknya di taman, kemudian ditegur oleh kepala
pelayan karena mereka menjadi kotor dan bau. Ayahnya yang otoriter juga hampir
tersulut amarahnya jika saja ibu tidak ada untuk membela.
Mereka adalah keluarga
kecil yang bahagia, dimana Risa dan Kevin bak dua kacang dalam satu kulit.
Kelemahlembutan Risa selalu menyenangkan hati kakaknya, sementara kebijaksanaan
Kevin selalu mengundang decak kagum adiknya. Namun itu semua jauh sebelum
sebuah kecelakaan merenggut nyawa ibunya. Menyisakan serpihan hati yang tajam,
begitu perih untuk dipijak, namun begitu sayang untuk dilupakan.
Karena konflik keluarga
yang tak berujung, saat usianya lima belas tahun, Risa memutuskan untuk kabur
ke Boston. Ayahnya tidak berusaha mencari. Ia pun tidak pernah membuat kontak
apapun dengan keluarganya, bahkan saat ayahnya meninggal. Saat Kevin telah
dinobatkan menjadi pewaris Shinomiya Company, ia sendiri tak mencari Risa.
Sorot mata Risa menjadi
sendu. 'Mungkin ia mengira aku telah
meninggal.'
Karena itu tatkala Risa
menelepon Kevin setelah berhasil meminta nomor telepon dari salah satu pelayan
rumahnya dulu, saudaranya tersebut terdengar tidak percaya. Setelah Risa
menyebutkan beberapa momen yang mereka pernah alami bersama, Kevin pun
mengizinkan Risa untuk datang, walau masih tetap diselubungi oleh kewaspadaan.
Saat Risa berada di depan
pintu, seorang pelayan membungkuk sebagai tanda salam dan mengiringi Risa
menuju ruangan dimana kakaknya berada. Pintu sebuah ruangan yang Risa duga
sebagai ruang tamu dibukakan. Setelah Risa melangkah masuk, pelayan tersebut
memberi hormat sembari menutup pintu.
Semuanya dilakukan nyaris
tanpa suara. Jika dipikir lagi, rumah itu sama heningnya dengan kuburan,
terlepas dari fakta bahwa interiornya yang begitu mencengangkan. Padahal Kevin
telah menikah dengan Agatha, putri tunggal pialang saham terbesarnya, dan
mempunyai anak bernama Haruka. Ruang tamu yang berukuran tiga kali lipat dari
apartemen Risa tersebut terlihat menenangkan dalam skema warna
putih-biru-hijau.
Namun bagi Risa, ada
sesuatu yang ganjil dari ruang tersebut. Ia memutuskan untuk tidak ambil
pusing, karena seluruh perhatiannya telah tersita pada seorang pria dengan
gurat wajah tegas dan dingin duduk di sofa kulit. Ia adalah Kevin, sedang
membaca koran internasional, dan terlihat acuh tak acuh dengan eksistensi Risa.
Ia menyapa adiknya dengan sebuah perintah, “Duduk.”
Risa menuruti, lebih
karena refleks. Lima menit telah berlalu, namun hanya suara pendingin ruangan,
halaman koran yang dibalik dan detak jam yang terdengar. Merasa jengah dengan
kecanggungan yang mengisi udara, Risa berusaha membuka percakapan, “Kakak, apa
kabar?”
Pertayaan yang klise
tersebut tidak sanggup membangkitkan ucapan dari mulut kakaknya. Risa menggigit
bibirnya, resah oleh rasa gugup yang mendominasi. “Bagaimana dengan Agatha? Aku
yakin dia pasti bertambah cantik, begitu juga dengan Haruka. Berapa usianya
sekarang? Tujuh, ya?”
“Keluargaku bukanlah
urusanmu. Katakan apa maumu sebenarnya, waktuku terbatas,” ucap Kevin tanpa
mengalihkan pandangannya dari koran yang ia baca. Hanya sedetik raut wajah Risa
mengguratkan keterkejutan, yang kemudian beralih pada ekspresi kesedihan.
Pandangannya yang kosong bersitatap dengan sebuah vas dengan tumbuhan palsu di
atas meja, kemudian beralih pada lukisan surealisme Van Gogh yang terpajang di
dinding. Anehnya, tak ada foto keluarga yang tersenyum dari balik bingkai.
Risa akhirnya menyadari
keganjilan dari ruang tersebut.
Tidak ada sepercik pun
kehangatan sebuah keluarga.
“Kakak,” Risa menelan
ludah, menyadari dirinya berada di ambang keputusasaan. “Aku hanya ingin
sepotong kecil waktumu…” Ia melirik Kevin, waspada terhadap kemungkinan respon
negatif dari kakaknya. “…untuk menebus hari-hari yang telah hilang.”
Kevin tidak terlihat
tersentuh. “Setengah jam lagi aku akan mengadakan rapat dengan para pialang
saham.”
Tangan Risa terasa dingin
dan mulutnya bagaikan membeku. “Kumohon,” Suaranya sama pelannya dengan suara
embun yang jatuh ke tanah tatkala ia berucap. “Aku punya sebuah cerita.
Kau...harus mendengarnya.”
Kevin mengusap wajahnya,
terlihat tidak sabar. “Apa cerita tersebut ada hubungannya denganku?"
"Ya." jawab
gadis bersuraikan rambut biru tersebut. Kevin menggulung korannya dan
melemparnya ke lantai, serentak dengan raut wajahnya yang mengeras. Kemudian ia
menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menghujamkan tatapan mencela pada wanita di
depannya, seolah tak sudi untuk berada satu ruangan dengan Risa.
Sesaat kemudian Kevin
menghela nafas dan menggeleng pelan. "Waktumu lima menit. Jangan coba-coba
bermain dengan kesabaranku.”
Risa tidak yakin seperti
apa wajahnya saat ia memaksa diri untuk mengukir sebuah senyum pahit. Luka
hatinya telah dibuka oleh jarum. “Baik. Ini adalah kisahku saat aku menetap di
Boston.”
***
Boston, 10 Mei 1998. Pukul 22.00 waktu setempat.
Salju
menyerbu segala tempat yang ia bisa invasi untuk mengguratkan kristalnya
tatkala dewi malam keluar dari peraduannya. Jarum jam mengarah pada angka
sepuluh saat Risa melangkah keluar dari perpustakaan lokal. Tangan kirinya
memegang tiga buku yang mengacu pada hukum, jurusan yang ia tekuni di Boston
University.
Risa
mengeratkan mantelnya dengan tangan kanan yang terbungkus dengan sarung tangan,
berusaha menghalau dingin yang mulai menyergap. Mati beku di sebuah kota asing
bukan pilihan yang menarik, karena itu Risa bergegas menuju apartemennya dengan
harapan mesin pemanas ruangannya tidak macet. Malang baginya, tidak ada taksi
yang kosong, dan ia harus mengambil alternatif berjalan kaki.
Tatkala melewati sebuah
gang gelap, beberapa tangan besar dan kasar menariknya hingga ia terjerembap. Risa
berusaha berteriak, namun mulutnya dibekap oleh tangan yang penuh bau alkohol.
Gigitan tidak berhasil, dan hanya mengundang sang pemilik tangan untuk
menendangnya. Kedua tangannya dipegang oleh dua orang yang berbeda,
masing-masing memegang sisi yang lain. Risa berusaha keras melawan, namun
kekuatannya tidak setara dengan kekuataan tiga pria dewasa.
"We know you're a pansy!" Pria dengan tubuh paling besar memaki
sambil membuka celana Risa dengan paksa. "If you really desperate to be a girl, we'll do you a favor!"
Ia mengeluarkan sebuah
silet berkarat dari dalam jaketnya, menyorongkannya ke depan wajah Risa. Gadis
tersebut menatap ngeri benda yang memantulkan pendar cahaya bulan. Ia menjerit,
meronta dan memberontak lebih kuat, namun semuanya terbukti sia-sia. Setetes
dua tetes air mata meluncur dari pipinya, yang hanya membuat sang pria
menyeringai lebih lebar.
Kala silet tersebut
diayunkan, Risa menyerahkan dirinya untuk dipeluk oleh kegelapan.
***
Tokyo, 10 Mei 2003. Pukul 17.00 waktu setempat.
Pendingin udara dan suara
jam terdengar lebih keras di telinga Kevin. Untuk pertama kalinya dalam hidup
ia mengalami momen dimana ia kehabisan kata-kata. Mulutnya membuka dan menutup,
tidak yakin ingin mengucapkan apa. Sementara Risa terisak, Kevin berusaha pulih
dari keterkejutannya.
"Seseorang
menemukanku dan menolongku saat aku nyaris kehabisan darah. Polisi berhasil
menangkap ketiga pria tersebut. Namun setitik pun penyesalan tidak ada di dalam
mereka. Mereka tertawa begitu lepas, seperti telah melakukan suatu hal yang
benar."
"Untuk waktu yang
lama aku depresi dan ingin bunuh diri, namun seorang teman membantuku
keluar." Risa menggigit bibirnya, berharap usahanya tersebut dapat
membuatnya berhenti menangis. "Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Aku
telah mengampuni mereka." Risa menyeka air mata di pelupuk mata dengan
sudut jarinya. "Aku tidak membiarkan mereka menghalangiku. Aku telah
menjadi pengacara sukses di Boston. Tidak ada yang tidak mengenal aku. Jadi aku
tidak sepenuhnya membawa kabar buruk."
Tawa sengau Risa memecah
keheningan. Kevin hanya menunduk tanpa ada niat untuk menjawab, berusaha
mengumpulkan serpihan kesadaran demi kesadaran yang mulai kacau ritmenya. Ia
menatap nanar pada lantai sementara kedua tangannya dikepal. Melihat sikap
kakaknya, Risa hanya tersenyum. "Kakak, aku tahu kau tak mempercayaiku.
Kau bahkan tak yakin aku benar-benar Shinomiya Rino."
Tidak ada suara. Risa
menghela nafas dan mengusap air mata yang kembali jatuh ke pipinya. Ia pun
bangkit berdiri dengan sisa-sisa harga diri. "Tidak apa-apa, bertemu
denganmu saja dengan lebih cukup. Aku pamit dahulu."
"Rino." Suara
berat spontan membuatnya berhenti
berjalan. Dengan ragu, Risa berbalik, kaget melihat ekspresi terluka yang
terukir di wajah kakaknya. "Aku...aku tak tahu harus berkata apa."
Risa mengunci mulutnya,
sedikit tidak yakin dengan ucapan kakaknya. Barulah saat kakaknya mendongak dan
kedua tatapan mereka bertemu, Risa dapat membaca kesungguhan hati kakaknya. "Katakan
saja kau memaafkanku."
Kevin berjalan mendekat, sedikit merasa rikuh. untuk beberapa saat mereka
hanya bertatapan. betapa Kevin ingin memeluk adiknya yang tak lagi kecil
seperti yang dulu ia ingat, namun waktu telah membentan jurang yang dalam. ada
sedikit perasaan asing yang terlanjur terbentuk. Sebagai gantinya, ia hanya
mengusap pipi adiknya, menyadari desiran rindu yang langsung menyerbu hatinya
kemudian.
"Maafkan aku, Rino,
aku, aku harusnya mencarimu..."
Risa menggeleng, air
matanya tumpah ruah tanpa ia bisa tahan. Sentuhan Kevin erat dan nyaman, nyaris
sama seperti sentuhan yang ia sering terima belasan tahun yang lalu. "Aku
juga salah. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian menanggung beban dari
ayah."
Kevin mengerjapkan matanya
berulang kali, memaki dirinya yang mendadak menjadi begitu melankolis. Dengan
lembut ia menangkup wajah adiknya, mempertemukan kedua iris violet. "Apa
yang membawamu ke sini?"
“Aku tidak ingin harta
atau warisan. Aku..." Risa tergugu sebelum berhasil menguasai diri untuk
melanjutkan, "...Sebenarnya aku ingin meminta restumu, kak, karena kini
kau adalah pengganti ayah.”
Kevin mengernyitkan
dahinya. Apa Risa akan menikah? Namun tawa lepas Risa membuktikan bahwa ia
masih dapat membaca isi hati Kevin, bahkan setelah belasan tahun berpisah. Dan
untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Risa tersenyum berseri-seri.
"Tidak kak, aku belum mau menikah. Aku akan mengikuti operasi transgender."
Ia memandang wajah
kakaknya dengan tatapan berbinar sama yang ia miliki tatkala kecil. Tatapan
berbinar yang dulu ia berikan pada Kevin saat ia membantunya membuat PR,
memeluknya saat kedinginan, atau menjaga Risa dari kawan yang usil.
Namun tatapan berbinar
tersebut kini membuat Kevin merasa tertohok.
"Aku ingin menjadi
wanita seutuhnya, kak," lanjut Risa sembari menutup matanya, mengingat
masa suka dan duka selama ia mencari jati dirinya. Ia menyadari semua pahit dan
manis dalam hidupnya telah menghantarnya pada identitas yang sesungguhnya.
"Aku tidak akan lagi menjadi Shinomiya Rino. Aku akan menjadi Shinomiya Risa."
***
Tokyo, 17 Mei 2003. Pukul 08.00 waktu setempat.
Kevin kembali bermimpi
buruk.
Tiap kali kelopak matanya
terbuka dengan keringat yang mengucur dan nafas terengah-engah, bayangan wajah Risa
berkelebat di dalam pikirannya. Kalau sudah begitu, rasa penyesalan membuat
mual menyerang perutnya. Tak terhitung kadar perasaan bersalah yang mengendap
di dalam nuraninya. Gundah gulana menaungi harinya.
Di depan rekan bisnis, ia
dapat menyembunyikan kekhawatirannya dengan baik, namun di depan keluarganya,
ia tidak mampu. Tiap kali ia melihat wajah Haruka di dalam gendongan Agatha, ia
kembali teringat pada Risa, atau yang dulunya adalah Rino. Ia teringat saat di
awal masa sekolah menengah, Rino datang padanya sambil menangis tersendu-sendu,
merasa begitu jijik karena mencintai seorang laki-laki.
Kevin juga teringat argumen antara Rino dan ayahnya
dulu, seminggu sebelum Rino kabur. Wajah ayah begitu merah mendengar ucapan Rino,
yang berkata bahwa sesungguhnya ia adalah perempuan. Rasa malu dan marah yang
terbit mengundang ayahnya untuk menampar dan menendang Rino hingga babak belur.
Begitu banyak makian yang
meluncur dari mulut ayahnya, namun Kevin terlalu takut untuk melawan. Ia hanya
berani mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka, sambil memanjatkan doa
agar ayahnya segera berhenti. Sementara Rino tetap berusaha bangkit dan berdiri
dengan tegap, menerima semua perilaku ayahnya dengan teguh.
Kevin mendesah pelan, lalu
menoleh ke sampingnya. Istrinya telah lebih dulu bangun. Ia pun merogoh
ponselnya, melihat waktu telah menunjukkan pukul 08.00. Risa berjanji akan
meneleponnya begitu ia sampai di Boston untuk melaksanakan operasinya. Namun
hingga tujuh hari telah berlalu, janji tersebut tak kunjung ditepati.
Kevin pun memaki
kebodohannya yang dulu menghapus nomor Risa secara impulsif saat gadis itu
pertama kalinya menelepon dan meminta untuk bertemu. Tidak, bukan itu saja kebodohannya.
Ia juga begitu bodoh karena dulu tidak berusaha membawa Risa kembali pulang.
Dan setelah semua yang ia lakukan, Risa malah memaafkannya semudah membalik
telapak tangan.
Kevin melempar ponselnya
dan memaki dengan kesal, frustasi oleh perasaan sedih, kecewa, dan marah yang
bercampur aduk di dalam sanubarinya. Pria tersebut merasa ia baru saja
kehilangan harga dirinya sebagai seorang kakak.
***
Tokyo, 17 Mei 2003. Pukul 09.00 waktu setempat.
Suara ketukan di pintu
kantornya membuyarkan lamunan Kevin. "Permisi." Sekretarisnya
menyembulkan kepalanya dan memberi hormat. Kevin mengganguk tanpa menoleh,
memberi sekretarsinya izin untuk masuk. "Selamat pagi, pak." sapa
pria tersebut dengan penuh antusias.
"Pagi, Daniel. Apa
saja jadwal saya hari ini?" tanya Kevin, sementara dirinya membaca sebuah
koran sebelum menelaah dokumen yang ada di atas mejanya. Daniel membuka memonya
dan berdehem sebelum membacakan jadwal padat Kevin pada hari itu. Fokus Kevin
tetap pada koran, sementara ia merespon dengan singkat jika Daniel meminta
konfirmasi.
Akan tetapi, kalimat yang
diucapkan sekretarisnya tak lagi terdengar jelas di telinga Kevin. Seolah ada
yang memecahkan gendang telinganya, mengaburkan pandangannya dan melumpuhkan
otaknya. Jiwa Kevin seakan telah disedot ke suatu tempat yang jauh, dan raganya
hanyalah wadah kosong yang tak bernyawa.
Koran yang ia pegang jatuh
ke lantai, menunjukkan foto seorang wanita yang tergeletak di jalan.
“…Diduga motif pembunuhan adalah rasa benci terhadap kaum transgender. Hingga
berita ini diturunkan, polisi masih menelusuri jejak pelaku. Korban pembunuhan
adalah Shinomiya Risa (27), pengacara di firma hukum…”
***
Risa adalah pengejar angin.
Dan angin telah membawa
raganya ke tempat ia bisa tersenyum.
***
Angin telah musnah (musnah!)
Angin telah hanyut (hanyut!)
Diseret menuju lubang tanpa cahaya
Oleh mereka yang tak mampu menggenggam enigmanya
***
Glosarium:
We know you're a pansy: Kami tahu kau adalah seorang banci.
If you really desperate to be a girl, we'll do you a
favor: Jika kau benar-benar putus
asa untuk menjadi perempuan, kami akan membantumu.
***
Cerita ini saya sertakan ke sebuah
challenge tentang LGBT :D Sebenarnya di challenge itu saya mau curhat banyak
karena ada banyak cerita di balik pembuatan cerita ini, tapi saya tahan-tahan
supaya jaim #lah. Entah kenapa selama menulis cerita ini saya selalu ketawa
padahal gak ada yang lucu, jadi saya juga gak ngerti kenapa ceritanya bisa
suram, lol. Puisi tentang angin di atas itu harusnya tentang global warming
tapi malah jadi tentang transgender. Jauh amat? Emang. Cerita ini saya kebut
sehari dan mau saya sertakan ke ujian praktek menulis cerpen, gatau deh bakal
dapat nilai berapa. Wish me luck everyone!
.png)



0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”