#25 Old Writer and Old Books
Old Writer and Old Books
An original fiction written by ashadebora
Words: 839
An original fiction written by ashadebora
Words: 839
A/N: I was frustated today because I was sleeping for 13 hours and it makes me dizzy. Thank God I can download Zenwriter that provided by Kak Ayu. So I write things that I don't understand just to make myself calm. Enjoy.
.
.
.
.
Ayu tumbuh besar merasa akrab dengan sensasi buku lama. Kertas yang rapuh, begitu rapuh hingga Ayu hampir yakin kertas tersebut dapat berserak menjadi debu kapan saja. Warnanya menguning, seperti gigi yang terlalu lama diabaikan. Oksigen yang bercampur dengan bau buku lama menjadi sebuah obat tersendiri bagi gadis tersebut. Jika bau mempunyai warna, maka warnanya pastilah bak aurora di kutub. Meliuk penuh sensual sebelum paru-paru Ayu menyesapnya. Matanya terpaku pada huruf yang berdiri tegak, dalang yang membuat kertas tak lagi hampa. Warnanya hitam. sehitam iris milik Ayu yang tengah membaca. Jari lentik Ayu mengelus kertas tua tersebut dengan sayang, sebelum membaliknya. Nyaris tidak ada suara yang tercipta, karena prinsip Ayu yang ingin menjaga buku tersebut sebagus awalnya. Agar saat ia usai membaca, tak ada yang tahu, karena tak ada jejak yang bisa ditangkap mata.
Yang membuat Ayu semakin jatuh cinta pada buku lama adalah sebuah fakta yang tak pernah mengecewakannya. Ia tahu, begitu lembar pertama dibuka, ribuan kata siap merengkuhnya dalam dunia imaji. Bagai ekstasi yang menghujam kemana tubuhnya memberi celah dan tinggal di dalamnya. Sebelum, saat, dan usai membaca Ayu selalu merasa ia seperti tengah melayang di cakrawala. Awan, pelangi, dan hujan tak pernah terlihat sedekat itu. Ayu ingin terus berenang dalam atmosfir yang memabukkan dan hanyut kemana angin membawanya. Apakah itu sebuah panti asuhan muram di Inggris, atau desa yang mistik di Indonesia. Apakah itu Seoul pasca meletusnya gunung berapi, atau Jerman pasca Perang Dunia II. Selalu saja ada penulis yang mampu menggubah kata-kata dan menciptakan mahakarya yang realistik. Selalu saja ada buku yang merasuki benaknya, membuatnya meneguk tiap diksi dan menyaksikan alur yang mengalir.
Karena itu tak heran jika Ayu yang parasnya sejalan dengan namanya mulai bertanya. Apa yang ada di benak Tuhan tatkala Ia menciptakan para sastrawan kaliber dunia? Apa yang para penulis lalui hingga mampu merangkai kata-kata yang kekal? Apa resep sejati agar sebuah cerita mampu menggetarkan ribuan jiwa, baik di masa lampau maupun di masa depan? Namun pertanyaan itu tak kunjung mendapatkan jawaban. Seiring waktu, Ayu sadar bahwa dialah kunci jawaban dari segala pertanyaan, asal dia tetap tekun menjelajah dan mengeksplorasi tiap sudut yang terbengkalai.
Semakin dewasa Ayu, semakin ia sadar bahwa buku lama telah memotivasinya untuk menjadi penulis. Namun ia enggan menjadi penulis yang menyeruak ke permukaan lalu kembali lebur. Ia tidak ingin namanya tercetak di halaman depan buku kemudian terlupakan. Ia tak ingin menulis sebuah cerita yang orang lain ingin cicipi. Ia tak ingin hanya menjadi penulis. Karena ia tahu, ia terlahir untuk menjadi lebih daripada itu. Tak masalah jika ia tak pernah terkenal, atau karyanya baru diakui setelah raganya tak lagi mengekang jiwa. Mati karena melarat bukan sesuatu yang menjadi momok baginya, karena materi bukan tolak ukur kesuksesan. Ayu rasa banyak penulis yang tak sempat mengecap 'kenikmatan duniawi ala penulis' lantaran surga telah lebih dahulu memanggil. Apakah itu karena Tuhan terlalu tak sabaran, atau karena dunia selalu luput melihat permata yang terbenam dalam lumpur, ia tak tahu. Tak jarang penulis berbakat telah lebih dahulu berpulang pada realitas dan melepas gelar sebagai 'pemimpi yang sadar'. Mereka adalah insan yang lebih memilih untuk menjalani takdir orang lain dibandingkan nasib diri sendiri. Semua karena uang; senantiasa menemani, namun eksistensinya tak pernah cukup, hingga ia menjadi tuan dari segala hamba.
Syukurlah, uang tak pernah menganggu Ayu. Ia akan menyusun kata-kata yang ia tonton sendirian, kemudian mati bersama mereka. Ia akan menertawainya, menangisinya, memarahinya, namun tak pernah meninggalkannya. Telah terbenam dalam nuraninya sebuah momen dimana ia akan menjadi penulis yang mengubah sejarah dengan tulisannya yang kontroversial. Orang akan tercengang, memuji, mengkritik, sementara Ayu berada di suatu tempat di dunia ini dan terus menari bersama para tulisan. Namanya akan menghiasi koran, televisi, atau teknologi canggih apapun yang akan dibuat oleh perusahaan multinasional di kemudian hari. Pidatonya akan mencemooh para penulis yang kerap kali ragu dengan ideologi tatkala berbenturan dengan profit. Semakin banyak buku tua akan bercokol di lemarinya, di lantainya, di mejanya, hingga ia tak mampu melihat dinding. Namun itu tak jadi masalah. Karena buku lama tersebut tak pernah terbengkalai. Kalaupun fisik mereka mengatakan yang sebaliknya, berbeda lagi di dalam hati Ayu. Para buku lama akan merebak dan mekar, bak tanaman rambat yang selalu berhasil menemukan tempat.
Ayu mungkin akan menjadi seorang penulis tua yang bungkuk, yang tak pernah bisa luput dari pensil dan kertas karena jarinya tak pernah diam. Ia mungkin akan terjerat demensia dan antek-anteknya, namun idenya akan selalu mengalir bagai keran yang tak pernah berhenti mengucurkan air. Ia mungkin akan hidup terisolasi di sebuah rumah yang tenang, hingga tak ada yang tahu kapan ia meninggal. Namun satu hal yang ia tahu pasti dan akan ia terus pegang adalah, ia akan hidup bersama buku lamanya. Lantas mereka akan menjadi tua bersama, seolah mereka saudar kembar yang menolak untuk terpisah.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”