#41 A Daily Life Philosophy

source

A Daily Life Philosophy
An original fiction written by Asha D
Words: 821.
A/N: Hanya iseng. Based on true story of mine. So far this story is my favorite. Enjoy!
.
.
.
Jika ada yang memintaku mendeskripsikan bagaimana kehidupanku sehari-hari, maka aku akan menggambarkannya seperti ini: lorong yang panjang dan gelap. Pohon yang menatap sendu. Kursi panjang yang kosong di bawah jendela persegi dengan kaca berwarna temaram. Ruangan kelas yang hanya terisi segelintir orang, bahkan beberapa di antara gelap dan kosong.

Lucu untuk menyaksikan bagaimana di koridor ini hidup sekumpulan siswa SMA dengan pelbagai jenis. Ada yang memikul tas yang terlampau berat, menyeret kakinya secara harafiah. Berharap bahwa IPA hanyalah mitos yang akan segera berlalu. Ada juga yang menenteng tas di sebelah pundak, nyaris tak membawa buku. Berharap bahwa IPS hanyalah sebuah fase hidup yang membosankan, yang cepat atau lambat akan terlewati juga. Ada yang menekuni pelajaran dengan serius, ada yang menganggapnya sebagai some kind of bullshits. Beberapa siswa bahkan yakin bahwa sistem kurikulum terbaru hanyalah sebuah bentuk pembodohan, karena menterinya tak kalah bodoh. Aku rasa mereka tak akan terkejut kalau kubilang menterinya sedang mabuk saat mencanangkan kebijakan baru tersebut.
 Berbicara tentang silabus terbaru, apa kau sudah baca buku kewirausahaan kelas 11? Kami harus membuat pembangkit listrik tenaga angin dan pembudidayaan ikan hias. Bayangkan gurumu tiba-tiba masuk ke kelas dan berkata, “Anak-anak, hari ini kita akan membuat robot!” Memangnya kami ini apa, Transformers yang selama ini menyamar?

Anyway, mari kembali ke kehidupanku. Jika kita menilik dari kategori sosial, maka aku akan masuk dalam kelas menengah. Aku berbaur dengan hampir semua orang, tapi pergaulan para murid terkadang begitu ekslusif sehingga kau nyaris bisa melihat ada dinding semi-permeabel di sekitar mereka. Seolah mereka sel yang cocky dan bitchy sementara kau kemungkinan besar adalah mahluk berwujud bakteri dan berhati virus.

Tapi kuberi tahu kau satu rahasia; keadaan di dalam sel tak lebih baik. Nukleus sangat bossy, sedangkan Nukleolus merasa bahwa seluruh isi bumi (dalam kasus ini, seluruh anggota geng) berputar mengitarinya. Membran sel merasa bahwa keutuhan geng adalah tanggung jawabnya (karena dia menggantungkan seluruh identitasnya dalam geng tersebut. Kalau mereka hancur, tentu dia akan ikut hancur bersamanya). Golgi Apparatus yakin ia diterima sebagai anggota geng bukan karena mereka ingin menyalin tugasnya. Mitokondria adalah sumber energi dari geng, namun melihat kondisi geng yang mulai penuh drama ala Desperate Housewives, maka ia pergi. Dan geng tersebut menetap, menjadi sebuah sel yang tak utuh dan saling menikam dari belakang, sementara waktu menggerogoti sisa-sisa ketulusan yang dulunya ada.

Sebuah fenomena pubertas yang menarik untuk ditonton, sebenarnya. Kecuali kau yang ada di dalamnya.

Maafkan gaya bahasaku terlalu kaku dan terkesan konservatif. Salahkan Middlesex, novel setebal 812 halaman yang cukup berguna sebagai senjata jika ada mafia human trafficking, pemerkosa atau anjing gila yang mengejarmu. Kurasa tujuan Jeffrey Eugenides menciptakan karangan yang rumit adalah karena salah satu alasan yang telah kusebutkan (atau mungkin ketiganya), dan—tada! Guess what? Dia memenangkan Pulitzer! Kurasa aku harus mempertimbangkan membuat roman 1000 halaman untuk melempari para koruptor bermuka tebal, bisa saja aku mendapatkan Penghargaan Nobel. Who knows?

Aku membaca Middlesex karena aku terlalu malas untuk melakukan apa pun, dan kebetulan buku tersebut tersesat sehingga memutuskan untuk menginap di perpustakaan sekolahku sampai dia menemukan arah yang dituju peta. Seperti yang dapat ditebak, tak ada yang tertarik untuk bunuh diri dengan menjejalkan miliaran huruf di dalam otak yang sudah dijajah oleh subjek eksakta. Walau aku seorang pemuja buku, aku juga tak tertarik, karena aku tak suka warna hitam. Cover-nya berwarna hitam (kalau dipikir-pikir, tinta semua buku juga berwarna hitam. Ah, sudahlah). Tapi karena ada pepatah yang bilang “Don’t judge book by its cover” (baca: seorang wanita Barat mengulas novel ini di blog-nya dan aku terkesan), maka aku memutuskan untuk mencobanya. Secara fisik karya Jeffrey Eugenides ini tak manusiawi karena membuat tasku terasa tiga kali lebih berat, tapi isinya lumayan.

Lantas, bagaimanakah kisah hidupku sebagai seorang siswi SMA? Well, maaf jika ini mengecewakanmu, sobat, tetapi hari demi hari yang kulalui memang biasa saja. Aku juga tidak mengerti kenapa. Mungkin semesta telah menetapkan standar universal. Mungkin saja saat awal penciptaan, matahari berkacak pinggang sambil menunjuk layar projektor dan berujar kepada para planet seperti ini, “Ini adalah patokan hari seperti apa yang harus dilalui oleh mahluk yang akan menghuni kalian. Itu termasuk kau juga Mars; alien tidak mendapat dispensasi. Dan Pluto, berhentilah mengupil; jarak 5.900,1 juta kilometer tidak membuatku buta.”

Aku menghabiskan waktuku di sekolah dengan menghafal (aku anak IPS, apa yang kau harapkan?), menulis jurnal, mengerjakan tugas, menonton di kelas (karena IPS adalah tentang kehidupan jadi, yah…), memikirkan masa depan dan apa hubungannya dengan soal Matematika yang kukerjakan saat ini, menganalisa arti tatapan sinis dari teman sekelas dan berusaha mengabaikannya, tertawa konyol dengan ekspresi yang akan membuat para remaja lelaki mencoretku dari daftar ‘Pasangan Prom’ bahkan masuk black list, berkawan dengan para guru dengan memancing debat yang intelek… astaga, aku terdengar seperti kutu buku kelas kakap, tapi kurasa aku bahkan tak dapat membantah gelar tersebut. Yang jelas, aku menyukai kehidupanku. Tak ada satu pun yang kusesali dari kisah remajaku yang sederhana.

Bagaimana dengan hidupmu, apa kau juga menyukainya? =)

xoxo,

Natasha Deborah.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.