#42 Humanity

source
Humanity
A Rise of the Guardians fan fiction written by Asha D
Disclaimer: I own nothing but the story.
Words: 385
A/N: Was inspired by a Jack Frost drabble written by Sisaat on fanfiction.net. You should check it out here.
.
.
.
Manusia adalah mahluk hidup terumit yang Jack pernah temui.

Lihat saja mereka. Mereka kelihatan, tapi mereka merasa tak terlihat. Mereka hidup, tapi mereka merasa seolah tak bernafas. Yang paling ironis, mereka berada di tengah keramaian, tapi mereka merasa kesepian.
Manusia adalah mahluk yang tak cepat puas, terus mengeluh, walau hidup mereka seperti tumbuhan. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum mereka mekar dan kemudian layu. Mereka orang yang merasa kuat tetapi pada hakikatnya mereka rapuh. Mereka punya mata tapi buta, mereka punya telinga tapi tuli, mereka punya mulut tapi bisu. Mereka adalah mahluk paling perkasa sekaligus lemah yang pernah ada.
Menurut pemuda tersebut, manusia hanyalah seonggok daging yang diberi jiwa; cepat atau lambat mereka akan hanyut menjadi tanah yang mereka pijak. Sedangkan Jack? Jack seperti manusia yang gagal diciptakan seutuhnya. Dia adalah roh; minus daging. Hal tersebut kerap kali membuat Jack nelangsa, jika dia punya terlalu banyak waktu untuk sendirian. Ia berusaha mengusir kehampaan yang menggerogoti dengan apapun--melempari pejalan kaki dengan bola salju, melukis es di jendela pasien rumah sakit, dan membekukan jalan. Walau ia tersenyum dan tertawa, ia tahu masih ada lubang gigantis yang terpatri di dalam hatinya.

Dalam kesendiriannya, Jack selalu berangan-angan. Ia ingin tahu rasanya mampu menyentuh orang lain tanpa takut mereka hanya akan berjalan menembusnya. Ia ingin tahu rasanya saat seseorang memandangmu--maksudnya, benar-benar memandangmu--dan bukan hanya memandang kekosongan. Ia ingin tahu rasanya meluncur di salju yang ia buat sendiri, hanya saja tidak sendirian.

Hanya saja Jack juga mewarisi sifat yang absolut sebagai roh yang kekal; iri. Jack menghabiskan seumur hidupnya membandingkan dirinya dengan manusia. Ia berjalan bersisian dengan seorang pria berbalut jas yang membawa tas kotak; pria tersebut terlihat lebih bahagia. Kemudian ia melirik seorang pasangan yang tertawa dan berangkulan; pasangan tersebut terlihat lebih bahagia. Saat malam menjelang--ini yang paling Jack benci--ia melihat sebuah keluarga mungil berdoa sebelum menyantap makan malam. Mereka laiknya keluarga normal; bertengkar, bergurau, dan sebagainya. Tetapi mereka terlihat hangat dan bersinar--mungkin pendapat Jack ini bias karena adanya perapian di rumah tersebut--dan Jack hanya bisa menyaksikan dengan tertegun.

Keluarga tersebut terlihat lebih bahagia.

Faktanya, ia rasa semua orang akan lebih bahagia jika tak terlahir menjadi dirinya, seorang Jack Frost yang terlupakan di sudut kota Burgess. Tak ada yang tahu, tak ada yang pernah tahu, dan mungkin tak ada yang mau tahu, sensasi sepi seperti apa yang selama ini selalu menghantui Jack.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.