#14 Mama, Rapunzel Jatuh Cinta!

A Tangled
fan fiction written by Asha D
Genre: romance
Warning:
This
story is cheesy like really really really cheesy forgive me for writing this
A/N: Aku nulis ini pas SMP
(masih imut-imut) jadi belum paham nulis cerita bagus itu yang bagaimana jadilah
cerita kayak beginian. Dangkal banget, emang, tapi lumayanlah menuhin blog
supaya pas 52 cerita #korupsiterselubung
AAA
Dunia ini jahat, dunia
ini kejam, itu kata Mama
Dunia ini ajaib, dunia
ini fantastis, hatiku berbisik
Dunia melantunkan melodi
yang menggodaku untuk melangkah keluar
Sekedar untuk
merasakan rumput menggelitik jari kakiku,
Mengkhayal di bawah
awan putih yang berarak,
Atau menghirup udara
kebebasan di musim semi yang indah,
Namun kau melarang,
terus mengurungku dan impianku di menara busuk ini
Bertahun-tahun aku terus
menyanyikan balada yang sama,
Kapan
hidupku akan dimulai?...
Aku menatap mata coklatnya. Mata yang berhasil mempesona akalku dan mengikat jiwaku. Batinku selalu berbisik dialah orangnya, walaupun aku tidak mengerti apa artinya. Senyumannya yang menawan terus mengiangiku. Tangannya yang besar membuatku ingin menggenggamnya. Dalam hati aku berdoa semoga dia tidak bisa membaca pikiranku. Dan kalaupun bisa, aku berharap dia punya pikiran yang sama…
Oke, Rapunzel, sejak kapan kau jadi seagresif
ini?
“Kau bilang, kau sama sekali tidak pernah
keluar dari menara ini?”
Tenggorokanku tercekat saat mendengar
suaranya. Sial, kenapa tidak ada suara yang bisa keluar? Dadaku bergemuruh,
jantungku terus saja berdegup kencang. Apakah jantung bisa copot? Semoga saja
tidak.
“I-iya…” Aku memainkan ujung lengan
bajuku. Dalam hati aku bersyukur sekarang sudah malam, jadi ia tidak bisa
melihat wajah merah padamku yang konyol. Bintang-bintang bersinar seakan
menyoraki kami yang sedari tadi duduk berduaan di jendela, seperti sepasang
kekasih. Semilir angin malam membelai rambut coklat ikalnya, cahaya bulan
membentangkan siluet di belakang tubuhnya. Aduh, kenapa aku terus meliriknya?
“Mamamu bilang dunia luar itu jahat?”
Aku mengangguk. Tiap kali aku ingin
keluar menara, Mama selalu melarang. Katanya aku terlalu polos, naif, sehingga
mudah dicelakai orang jahat.
“Menurutku dunia itu tidak jahat. Tidak semua orang di dunia ini jahat. Dunia itu menyenangkan, karena setiap
hari selalu ada hal baru untuk dilakukan. Walaupun hal-hal buruk bisa terjadi,
itu untuk mengajarkan kita agar bisa menjadi orang yang lebih baik dan kuat.” Ia
tersenyum, membiarkan mata hazel-nya
beradu dengan mata emerald-ku. Aku
buru-buru membuang muka, entah kenapa aku merasa gugup.
“Walau begitu aku tetap takut.” ucapku spontan. Dia
mengernyit, bingung dengan tanggapanku. “Takut?” tanyanya lembut.
“Ng… itu… maksudku… maaf, aku kelihatan
bodoh ya?” Aku meringis, menyesali ucapanku.
Tiba-tiba aku merasakan tubuhku ditarik,
dan merasakan sensasi hangat di sekujur tubuhku. Aku dipeluk.
Tunggu… Apa? Aku dipeluk?!
“E-Eugene?” tanyaku terbata. Eugene
menatapku, serius. Ia melepaskan pelukannya dan menggenggam tanganku.
“Rapunzel, kau tak perlu takut. Aku akan
selalu melindungimu. Jangan ragu, karena aku akan selalu ada di sampingku.
Jangan khawatir. Karena aku cinta kamu, dan akan selalu seperti itu. Mengerti?”
Aku memberanikan diri untuk mendongakkan
kepalaku, menatapnya. Dan irisku bertemu dengan tatapan yang begitu sendu,
abstrak dan tak terbaca, seolah ingin mengurungku di dalamnya. Dadaku
bergejolak saat wajahnya makin mendekat, aku bisa merasakan nafasnya yang
hangat di wajahku. Dan detik berikutnya, semuanya gelap. Aku menutup mataku
saat ia mendaratkan bibirnya di bibirku, hangat dan lembut. Ia menarik kembali
bibirnya sebelum menatapku dan menyunggikan senyum itu, senyum yang membuatku
tergila-gila padanya.
“Apa kau siap melihat dunia luar?”
tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku memandangnya, kemudian membalas
uluran tangannya. Entah kenapa keraguan yang sedari tadi menghadang tiba-tiba
sirna, seakan dibawa pergi oleh angin malam. Aku tidak takut lagi, karena aku
akan melihat dunia bersama orang yang kucintai.
Dunia, seperti apapun dirimu, tunggu saja kedatanganku!
…dan akhirnya, aku berhenti menyanyikan balada
Karena ada seseorang yang bersedia menjagaku,
Melindungiku,
Dan menunjukkan padaku seperti apa dunia sebenarnya
Mama, maaf jika aku mengecewakan
Tapi menara tak bisa menahan hasratku untuk menjelajahi dunia
luar
Aku ingin pergi keluar.
Aku ingin kebebasan.
Aku ingin cinta.
Dari yang tersayang,
Rapunzel
AAA
TAMAT
AAA
.png)



0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”