#34 You Will Never Be Alone Chapter 3
“You Will Never Be Alone”
A Frozen x ROTG fan fiction written by
ah-ee-you
Disclaimer : If I own Frozen
and ROTG I would definitely make the sequel where it’s all about Jack and Elsa
(or Elias). Oh yeah, baby.
Warning : Genderbend
(Male!Elsa, Male!Anna, Female!Kristoff and Female!Hans). Yes, it's a boys love.
This story is about the missing scene from the original movie, Frozen.
A/N: Dedicated to Ksatria Bawang Merah. Saya bingung kenapa Elias di cerita saya
cenderung gelap, sementara karakter aslinya dia ga segitunya. Tapi menurut saya
malah aneh kalo si Elias terus positif walaupun udah dikurung di kamar. Anyway,
di sini ada satu tokoh ekstra dari ROTG.
.
.
.
Chapter 3
The Summer Whispers
.
.
.
Elias
telah menjadi raja. Semua orang yang ia tak kenali wajahnya bersorak baginya. Bahagia
baginya. Menari baginya. Tertawa baginya.
Semua
bagai drama teatrikal di mata Elias.
Kaku. Palsu. Sementara.
Kalau
mereka tahu monster seperti apa yang ada di dalam Elias, Elias tahu bukan ini
yang akan dia dapatkan.
Don’t let them in. Don’t let them see. Be the good boy you
always have to be.
Kegelisahan
mengukungnya. Bukan ini gambarannya akan hari pertama ia keluar dari kamar setelah
dikurung selama sepuluh tahun. Sebenarnya, ia tak punya gambaran seperti apa
hari pertama ia keluar dari kamarnya, karena ia tak pernah diberitahu kapan ia
boleh keluar.
Ia
mual melihat wajah asing. Ruangan asing. Situasi asing. Betapa ia ingin lari
dan memuntahkan kecemasannya—secara harafiah. Tapi entah bagaimana ia mampu
menahan diri dan mempertontonkan sebuah wajah datar.
Conceal, don’t feel. Put on a show, make one wrong move and
everyone will know.
Elias
tak tahu lagi apa bedanya dia dengan para aktor yang ada di hadapannya.
Hati
Elias berteriak agar seseorang mencakar wajahnya dan menghancurkannya
topengnya. Ia ingin seseorang membicarakan tentang betapa abnormal sikap Elias,
sehingga Elias dapat menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Ia ingin ada yang
bertanya mengapa dia memakai sarung tangan, maka dia akan melepaskannya dan menunjukkannya.
Sampai
musik yang mengalun di sela-sela gaun dan tuksedo telah menyentuh ujung,
harapan Elias tak kunjung terealisasikan.
Elias
menggeleng lemah nyaris tanpa daya.
Ia
menyangka dirinya mulai kehilangan kewarasannya.
Karena
orang yang menjaganya tetap utuh telah ia hardik pergi.
Kerlingan
Elias menembus kaca jendela istana yang besar.
Jack
belum mengkonfirmasi eksistensinya.
Belum.
Jack
belum mengkonfirmasi eksistensinya.
AAA
Jack
terbang. Ia tidak yakin kemana angin membawanya namun ia terus terbang. Salju
yang datang dari arah yang berlawanan menampar wajah Jack. Jack tidak
keberatan.
Karena perih di hati jauh lebih menyengat.
Jack
mendarat ke sebuah dataran salju. Sejauh radius pandangnya, tak ada apapun
selain benda putih yang menggumpal bersama. Tak ada sedikit pun pendar matahari
di langit yang buram, seburam perasaan Jack.
“Kau.
Tidak. Mengerti. Perasaanku.”
Salju
mendengungkan kalimat Elias dengan jelas—terlalu jelas malah. Seakan Elias ada
di samping Jack, memakinya, agar lembah turut menggemakannya. Seolah mereka
sedang berkonspirasi meleburkan hati Jack.
Jack
berputar dan memandang sekeliling dengan gelisah. Dadanya naik turun dengan
cepat karena menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Tidak ada seorang pun
di sana.
Lantas
itu suara siapa?
“Kau
hanya roh...“
“Siapa
kau?!” Jack menggaruk rambutnya dengan kasar dan mengerang kesal. Ia
menghentakkan kakinya dengan gusar. Apakah ini hanya sebuah khayalan? Ilusi?
Imaji?
“…roh
yang menyedihkan.“
“Diam!”
Frustasi membuncah di dalam batin Jack. Tangannya terkepal erat memegang
tongkatnya. “Diam! Diam! Diam!”
“Aku
muak melihatmu.”
Untuk
beberapa saat, hanya suara desauan angin yang terdengar.
Jack
menghempaskan tubuhnya dan melempar tongkatnya sembarang arah. Dadanya terasa
disesaki batu yang tak kunjung hilang. Jack menelan ludahnya dengan susah
payah, hanyut oleh kekalutan. Selama ini Jack tak peduli apa pendapat orang
tentangnya. Atau bahkan pendapat para guardians.
Ia hanya ingin bersenang-senang. Melindungi anak-anak. Menciptakan salju.
Menorehkan senyum.
Lalu
mengapa ucapan Elias begitu memengaruhinya?
Jack
menutup matanya dan menghela nafas. Ia tahu jawabannya.
Karena ia takut kehilangan.
AAA
Sejenak
sebelum dansa dimulai, Elias punya kesempatan untuk menyapa Alan. “Hei.”
“Hei—siapa?
Aku? Oh. H-hei.” Alan terlihat kikuk. Elias gemetar mendengar suara yang selama
ini hanya ia dengar dari balik pintu yang menghalang. Gemetar dengan rasa
bahagia. Elias seperti mampu merasakan angin segar bertiup ke wajahnya.
Kehangatan merebak. Kerinduan menyentak. Senyum terukir. “Kau terlihat tampan.”
Alan
tampak terkejut sekaligus senang. Oh, betapa ekspresif adiknya, seolah mereka
tak pernah berubah. Seakan tubuh mereka saja yang menjadi besar, namun jauh di
dalam, mereka tetap sama.
Betapa
semua berjalan amat sangat baik jika mereka saling tak mengungkit masa lalu.
“Terima
kasih. Kau terlihat lebih tampan.” Semburat merah mewarnai pipinya dan Alan tak
mampu menahan senyumnya.
Elias
terkekeh—ketulusan pertama yang ia tunjukkan hari itu. “Terima kasih.” Pandangan
sang raja baru beralih pada orang-orang asing yang meniti jalur membentuk
tarian gemulai. “Jadi seperti ini rasanya mengadakan pesta.”
Alan
melirik Elias sekilas. “It’s warmer than
I thought.”
“Bau
apa itu?” tanya Elias, terlalu cepat tanpa ia sendiri bisa cegah. Refleks, mereka
berdua sama-sama menghirup aroma tersebut dan tersenyum. “Cokelat,” ucap mereka bersamaan. Mereka pun
tertawa lepas.
Oh,
betapa ramah adiknya, seolah mereka tak pernah berubah. Seakan tubuh mereka
saja yang menjadi besar, namun jauh di dalam, mereka tetap sama.
Hanya
saja dalam kebahagiaannya, Elias diam-diam tengah diganggu dengan sekelumit
pertanyaan.
Akankah semua ini abadi?
AAA
Jack
mengerjap, berusaha membiasakan matanya dengan temaram yang mengisi ruangan asing
tempat ia berbaring. Tubuhnya begitu lemah, seperti punggungnya ditempel erat
dengan alas dimana ia tak sadarkan diri. Kepalanya terasa berat dan
pandangannya berputar seperti kunang-kunang. Jangankan untuk bangun, untuk
menyusun potongan memori pun ia tak sanggup.
“Dimana
aku?” Suaranya gersang dan tenggorokannya terasa perih saat ia berbicara. Gerakannya
membuat selimut hangat yang menyelubunginya jatuh ke lantai.
Matanya
berhasil menangkap miniatur es sebuah kereta api yang bergerak di atas rel. Sontak
ia sadar dimana ia berada.
Ia
ada di ruang kerja North.
“What the hell—?”
“Oops,
Jack, tak ada kata makian di ruang kerjaku.” Teriakan dan lompatan North yang
spontan membuat Jack terlonjak. “Bagaimana kabarmu, kawan? Sudah merasa lebih
baik? Bunny menemukanmu terbaring di tengah salju dan membawamu ke sini.”
Jack
tidak yakin apakah dia harus berterima kasih atau memaki Bunny.
“Aku
punya eggnog untukmu. Minumlah selagi
hangat.” North mempertontonkan deretan giginya yang putih. Tangannya yang penuh
tato mengulurkan sebuah mug bergambar wajah anak yang tersenyum.
Ekspresi
Jack datar saat ia mengucapkan, “Thank
you, North, but no. ”
Senyum
North sedikit pudar namun mulutnya tak melayangkan sepatah komentar.
Tatapan
Jack jatuh pada para Dingle mengintip di balik pintu kayu mahoni berukirkan
hiasan natal. North mengikuti arah pandangannya dan langsung melotot pada para
Dingle. “Shoo! Shoo! Pergi!” Dingle menghambur
keluar saat North mengibaskan tangannya, memberi aba-aba agar mereka keluar. Ia
pun duduk di kursi besar di hadapan Jack dan menggosok kedua tangannya dengan
antusias.
“Jadi…
apa kau ingin menjelaskan kenapa kau bisa pingsan?”
“Aku tidak pingsan,” ujar Jack dengan
ketus. Perlahan namun pasti ingatan kepunyaannya mulai merangkak ke tempatnya
semula.
“Lantas?”
Jack
membuang muka. “I don’t wanna talk about
it.”
North
diam dan memandang Jack dengan intens. Sesaat kemudian ia bangkit dengan susah
payah karena lemak yang memenuhi tubuhnya dan berkacak pinggang. Ia menepuk
punggung Jack, sedikit terlalu keras hingga pemuda tersebut hampir terbatuk. “Baiklah
kalau begitu, aku akan kembali bekerja. Beri tahu Dingle atau Yeti jika kau
butuh sesuatu, oke?”
Tangan
North tergantung di udara hendak meraih knop pintu saat gendang telinganya
menangkap suara lirih Jack. “Tunggu, North…”
North
berbalik. “Ya?”
“Apa
kau pernah… merasa takut kehilangan?”
North
mengedikkan bahunya. “Tentu saja. Semua orang pernah.”
“Jika
kau takut kehilangan seseorang…” Jack memeluk dua kakinya yang ditekuk. “…apa
yang akan kau lakukan?”
Perut
North bergerak naik turun saat tawanya menggelegar. “Itu pertanyaan yang
konyol, Jack. Anak kecil pun tahu jawabannya.”
Melihat
Jack yang tetap diam, North pun berdehem dengan canggung. Ia menggaruk rambutnya,
berharap tidak menyinggung perasaan Jack. “Kalau aku… yah, aku akan berusaha
melindungi orang tersebut sekuat tenaga, bahkan dengan nyawaku sendiri.”
Jack
menelan ludahnya seperti dicekoki sebongkah batu. Pahit. Dengan susah payah ia
bisa melontarkan sebuah pertanyaan yang ia sendiri tak mau dengar, “Tapi…
bagaimana kalau orang tersebut mengusirmu dari hidupnya?”
“That is life, Jack. Kita berusaha
melindungi anak-anak di seluruh dunia, lalu apa balasan yang kita terima? Mereka
mengenyahkan kita dari dalam pikiran mereka saat mereka beranjak dewasa.”
“Tapi
apakah kita akan diam saja dan membiarkan realitas menghentikan kita untuk
terus melindungi anak-anak? Tentu saja tidak. Lantas, apa yang membuat kita
terus bertahan?”
Jack
tertegun, kemudian menjawab bahkan saat ia merasa tak ingin menjawab. “Cinta.”
“Ya.
Cinta. Kau tahu itu, Jack. Cinta seorang anak yang bak sebutir debu dalam globe kita, tetap kita perjuangkan
hingga akhir hidup kita.”
Jack
mengangkat wajahnya seakan baru saja menemukan sesuatu yang baru. Ia berucap
lirih, seolah hanya ditujukan kepada dirinya sendiri, “Bahkan jika artinya kita
harus berkorban untuknya.”
North
menggangguk dengan ekspresi puas yang kentara.
Cinta.
Jack
termangu, baru saja menyadari betapa kuatnya suatu kata dengan lima huruf
tersebut.
“Aku
harus pergi, North.” Jack mengambil tongkatnya dan membuka pintu kerja North.
North
melongo. “Tunggu—apa? Kemana? Kenapa?”
“Ada
sesuatu yang harus aku urus. Terima kasih untuk nasihatmu, Pak Tua!” Tanpa
memberi kesempatan untuk North mengucapkan apapun, Jack melayang keluar secepat
mata berkedip.
North
menggeleng pelan dan terkekeh. “Jack Frost. Tak pernah berubah.” Pandangannya
jatuh pada Dingle yang tengah menyesap eggnog
di atas mejanya. “So I guess this eggnog
belongs to me—hey, Dingle!”
AAA
(Alan
datang untuk meminta restu ingin menikah dengan Hannah, tapi Elias gak setuju,
jadi Alan protes, aku pernah salah apa? Kenapa kamu begini sama aku? Kenapa
kamu outcasting everything including me? Apa yang kau takutkan dari dunia luar?
Lalu Elias gak sengaja keluarin kekuatannya, lalu dia lari.)
AAA
Malam
telah bergelayut di angkasa. Jack berpacu bersama angin, hingga keduanya hampir
tak bisa dibedakan. Seakan angin telah menjadi satu dengan Jack. Tak butuh
waktu lama baginya untuk sampai di gerbang istana Arandelle. Ia telah terbang
ke depan jendela Elias yang anehnya dikunci. Elias juga tidak ada di dalam.
Padahal Elias nyaris tidak pernah keluar kecuali ada yang penting.
Samar-samar
ia mendengar nama Elias disebut oleh sekumpulan wanita dari golongan rakyat
jelata. Jack mendekati para wanita tersebut, berharap mereka dapat sedikit
banyak menjawab kebingungan Jack. Seorang wanita memekik, “Aku tidak menyangka
pangeran—maksudku, raja—Elias setampan itu!” Mereka semua mengangguk dan
tertawa dengan wajah bersemu.
Jack
memutar bola matanya dengan jengkel sebelum realita menyentaknya.
Bagaimana mereka tahu seperti apa wajah Elias?
Bukankah Elias selalu ada di kamar?
Apa Elias telah diangkat menjadi raja?
Penyesalan
menyerang Jack, membuatnya didera mual.
“Andai
saja aku bisa berdansa dengan Elias. Aku dengar kini ia di ruang dansa.”
Jack
berancang-ancang akan mencari ruang dansa saat ia mendengar warga mulai
bersorak, “Itu dia raja Elias!”
Jack
berpaling dan melihat Elias yang terpaku di depan pintu istana yang terbuka.
“Elias?”
Semua
orang bertepuk tangan dan tersenyum sumringah. Elias menoleh, kemudian berlari.
Wajahnya yang selalu mematrikan ekspresi tenang itu kini terlihat panik. Semua
orang ingin berbicara dengannya, namun ia mengacuhkan mereka. Hanya saja
kerumunan masyarakat mengukungnya, membuat ia berjalan mundur dan tak sengaja
menyentuh tugu air mancur.
Di
belakang Elias, tersuguh es yang mengukung dengan bentuk yang mengerikan.
Semua
orang terkesiap, bahkan Jack.
Seorang
pria tua dengan dua pengawal di belakangnya menunjuk Elias sambil berteriak, “Hentikan
dia!”
“Kumohon,
menjauhlah dariku! Menjauh!” Tepat saat Elias selesai mengucapakannya, es dari
tangannya melaju dan menyerang sang pria tua dan kedua pengawalnya. Mereka
terhempas ke belakang sementara pintu dan tangga istana membeku.
“Elias!”
Jack menghampiri Elias dan memegang kedua tangannya. “Kau baik-baik saja?”
“J-Jack?”
Mata Elias terbelalak, terlebih lagi saat ia melihat pria tua yang nyaris
celaka karenanya bangkit berdiri.
“Kau
seorang monster!” tuduh pria tua tersebut.
“Tidak!
Dia bukan monster!” Jack berteriak nyalang, walau ia tahu usahanya sia-sia
karena hanya Elias yang mampu melihatnya dan mendengarnya.
Elias
terpaku di tempat ia berdiri, kalut oleh kebingungan yang melandanya
bertubi-tubi. Ia memandang tangannya, kemudian beralih pada Jack, kemudian pada
penduduk Arandelle di sekitarnya.
Mereka
semua menarik diri dari Elias.
Sesuatu
yang asing menghujam hatinya. Raja muda tersebut melempaskan genggaman Jack
dengan paksa, berlari, nyaris tanpa halangan karena para penduduk sudah tak
sudi berdekatan dengannya.
Belum
sempat Elias memanggil namanya, suara Alan sudah lebih dulu terdengar, “Elias!”
Jack
berbalik dan melihat Alan dalam balutan pakaian ala pangeran berlari mengejar
Elias. Seorang wanita cantik yang tak dikenal Jack menyusul dari belakang. Jack
pun meraih tongkatnya dan terbang mengikuti ketiganya.
Tiba-tiba
saja Elias berhenti.
Ia
telah mencapai laut.
“Elias!”
Sang pemuda berbalik dan melihat Jack tengah mendatanginya. “Dengarkan aku! Kau
akan baik-baik saja!”
“Tidak!
Kau tidak mengerti! A-aku mengacaukan segalanya!” Refleks, Elias mundur. Mereka
berdua sama-sama kaget saat melihat laut berubah menjadi es saat bertemu dengan
kaki Elias.
Lalu
tatapan mereka bertemu.
Untuk
sedetik, Jack begitu yakin ia tahu apa isi hati Elias.
Karena
ia pernah mengalaminya, walau tak persis sama, namun sensasinya serupa.
Tertolak. Sendirian.
Pahit.
“Aku
telah mengacaukan semuanya, Jack. Semuanya.
Aku harus pergi demi keselamatan mereka.”
Jubah
yang berkibar menjadi pemandangan terakhir yang Elias berikan kepada Jack malam
itu.
Jack
terperanjat dan tak kunjung berpindah, bahkan saat ia mendengar pekikan seorang
pemuda yang terus memanggil Elias. Tanpa Jack perlu menoleh, ia tahu pemilik
suara tersebut adalah Alan. Ia terus berdiri di sana memandang bulan yang
memantulkan bayangan Elias, bahkan saat Alan dan si gadis asing menembus
tubuhnya.
Jack
baru tersadar saat sesuatu yang lembut hinggap di permukaan kulitnya.
Itu
adalah salju yang tiba-tiba muncul di tengah musim panas di Arandelle.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
A/N: Sang pria tua yang ‘diserang’ Elias itu si Duke of Wesseltown
sedangkan si gadis asing di samping Alan itu Hannah, female!Hans. What do you
think of this chapter? Feedback, please?
.png)




halo halo... ni aku rae...
BalasHapuswah sori aku baru baca padahal udah sampe chapter 3 lagi. pas awal aku baca (belum diklik) aku baca dari chap 3, baru 2, terus 1. aku sempet ngira ini ceritanya kilas balik lho hahaha...
wah beneran si Elias jadi rada dark sifatnya. ya wajar sih secara dia dikurung gitu 10 taun, mendadak jadi raja pula. aneh banget sebenernya kalo dia bisa sampe percaya dg mudah sama orang laur secara dia kan ga pernah sosialisasi, apalagi dia hidup dengan ketakutan terhadap dirinya sendiri. satu2nya temen cuma jack...yang ga bisa diliat orang lain... jaangan2 dia ngerasa kalo dia tuh berhalusinasi lagi ngeliat jack?
hahaha alan ini cowo ya, dan belum2 udah mo nikah sama putri hanna? tapi jadi beda beneran ya kalo tokohnya diputer gender beginni? maksudnya, rada ga aneh2 amat kalo ada pangeran yangs ekalinya ketemu cewe langsung jatuh cinta dan ngelamar cewe itu, tapi seorang cewe yang langsung nerima dan dg gembiranya nunjukin ke kakanya emang ajaib...
nah gimana nih terusannya? interaksi jack sama elsanya lagi dongggg yang banyak... kesengsem heheheehehhe