#39 How to Get Good Dreams Chapter 2
How to Get Good Dreams
A
Koisuru Boukun fan fiction written by ah-ee-you
Dedicated
to Rin Kurin for her birthday
I
own nothing and gain no profit from this story
.
.
.
Chapter Two
Dreams, Reality, Which One is Better?
.
.
.
“Souichi!
Souichi!”
Mata Souichi menyesuaikan diri dengan terang yang muncul secara spontan. Kepalanya terasa berat dan berputar. Setelah beberapa saat, ia mendongak dan menemui dirinya berada di tempat yang tak pernah dilihatnya. Suatu perasaan aneh menghambur ke dadanya, tanpa ia tahu dari mana asalnya. Ia berusaha keras mengangkat tubuhnya, lantas mendapati dirinya duduk di tengah padang rumput yang ganjil.
Saat ombak kebingungan menerpanya, seorang laki-laki
berambut gelap berlari ke arahnya. Dari kejauhan Souichi tak bisa menebak siapa
dia, tetapi lambat laun ia menyadari bahwa laki-laki tersebut tak lain dan tak
bukan adalah adiknya, Tomoe. “Onii-kun!
Aku merindukanmu!”
Souichi hanya bisa melongo saat Tomoe melesak ke dalam pelukannya. Pertanyaan hendak melaju dari mulut Souichi, hanya saja tak ada yang terlontar. Souichi panik, tidak mengerti mengapa lidahnya seperti dikunci gembok kasat mata.
Tiba-tiba tubuh mungil Tomoe berubah menjadi besar, senyum yang lebar sirna dari mukanya, dan tergantikan wajah orang lain. Tangan yang merengkuh pinggang Souichi dengan lembut beralih menjadi cengkeraman kuat yang melukainya. Souichi menjerit dan meronta, tapi ia tak mampu berkata apalagi bertindak. Nafasnya mulai terpenggal, tenggorokannya seperti dicekokkan batu.
Souichi tergidik ngeri tak berdaya. Yang ada di hadapannya bukan Tomoe, melainkan profesornya, sumber petakanya.
“Souichi, kau milikku.”
“TIDAAAK!!!”
Souchi terperanjat di tempat tidurnya, kemudian memegangi tubuhnya dengan kalut. Piyama masih setia melekat pada tubuhnya. Souichi dengan kasar meraba dinding untuk mencari saklar dan menemukannya. Souichi menelanjangi tiap sudut dengan pupilnya. Tak ada petunjuk bahwa ada orang lain di kamar itu selain dirinya.
Souichi menghela nafas, ingin kembali tidur walau ia tahu tidurnya tak akan nyenyak. Tetapi bunyi air yang mengalir menginterupsi aksinya untuk kembali tidur. Souichi yang tadinya setengah mengantuk kini sepenuhnya terjaga. Tanpa sadar ia menahan nafas dan menajamkan pendengarannya. Suara air yang mengucur kembali beresonasi ke gendang telinganya. Ia sungguh tak salah mengira.
Insting Souichi mengatakan ada seseorang di dalam rumahnya. Souichi meraih ponselnya untuk menelepon polisi namun tak ada sinyal yang tersedia. Tangan kanan Souichi meraih tongkat kasti yang ada di bawah tempat tidurnya sebelum dia beranjak. Dengan hampir tanpa suara Souichi membuka pintunya, kemudian berjalan mengendap-endap ke sumber suara.
Hawa dingin lantai menggigit telapak kaki Souichi yang telanjang, membuatnya mengutuk dirinya sendiri karena lupa mengenakan sandal. Piyama yang tipis juga tak banyak membantu. Souichi merengut, memikriakn probabilitas akan apa yang bisa menjelaskan bahana aliran air yang ada di rumah barunya.
Semakin dekat Souichi ke dapur, semakin ia dapat mendengar jelas bunyinya.
Spontan Souichi mengeratkan pegangannya dan mendekap tongkat kasti di dadanya. Ia mengambil nafas dan ancang-ancang untuk menyerang.
“Satu…” Souichi menghitung di dalam hati. Matanya mencuri pandang dari ambang pintu. Tak terlihat apapun.
“Dua…” Keadaan begitu hening dan intens, hingga Souichi dapat mendengar degup jantungnya sendiri.
“Tiga!”
“SIAPA KAU?!” Teriakan Souichi menggelegar, sementara tubuhnya menerjang ke dalam dapur dengan tongkat kasti terancung di atas kepala. Tetapi yang ia dapati hanyalah seorang pemuda yang berdiri di depan wastafel, tengah memegang piring-piring kotor Souichi, dan balas menatapnya dengan bingung. Air yang berderai dari keran menembus tangannya.
Air yang berderai dari keran menembus tangannya.
Souichi ternganga menyaksikan fenomena ganjil tersebut. Terlebih lagi saat ia melihat cahaya bulan di jendela menembus tubuh pemuda tersebut yang transparan. Pecahan dua piring berserakan di dekat kaki pemuda tersebut. Souichi curiga pemuda inilah dalang yang mengusik mimpinya. Dengan perlahan Souichi menurunkan tongkat kastinya tanpa mengendurkan pegangannya.
“Kau ini… apa?”
Pemuda itu tidak merespon, malah kembali melanjutkan kegiatannya mencuci piring seolah tak ada yang terjadi. Rambutnya yang gelap bergerak pelan mengikuti gerakan tubuhnya. Kedua tangannya mengelap gelas yang telah dicuci.
“Hei, aku sedang mengobrol denganmu, bocah!”
Pemuda itu menoleh dan mengobservasinya dengan alis yang berkerut. Tingkahnya seperti tak sadar kalau Souichi terganggu dengan keberadaan pemuda asing dengan tubuh tembus pandang di rumahnya. Souichi menjadi keki.
“Siapa—maksudku, apa kau sebenarnya?” tanya Souichi, hampir seperti pertanyaan retoris. Sesungguhnya Souichi tak percaya akan hantu karena tak sesuai dengan logika dan rasionalitas. Tetapi yang kali ini bertemu muka dengannya tak dapat ia jelaskan ke dalam bentuk ilmiah. Pemuda itu mengangguk tanpa melihat ke arah Souichi. Kejengkelan Souichi sampai naik ke ubun-ubun. “Untuk apa kau di sini?”
Hanya kesenyapan yang terdengar. Pemuda tersebut fokus menyabuni noda yang menempel di piring bekas makan malam Souichi. Dengan gusar Souichi menghampirinya dan menarik piring yang dipegangnya. “Hei, apa kau tuli?!”
Sang pemuda menggeleng, kemudian mengambil piring yang tadinya wadah lauk Souichi. Souichi kembali merebutnya dengan kasar. “Kau bisu, ya?” Pemuda tersebut mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Souichi mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat tidak senang dengan tamu tak diundang di rumahnya. “Apa kau bisa pergi sekarang?”
Pemuda tersebut menyusun piring terakhir ke rak piring lalu membalas tatapan Souichi. Tidak ada gelengan ataupun anggukan. Hanya saja sorot mata pemuda tersebut kentara sekali telah berubah; menjadi dingin, gelap, dan sepi. Tajam, menusuk, dan dalam, hingga Souichi hampir hanyut ke dalamnya kalau dia tak ingat dia sedang terlibat dalam situasi seperti apa. Bibirnya membuka dan mentup seakan ingin mngatakan sesuatu, tetapi kembali terkatup tanpa terucap sepatah kata.
Souichi memutuskan bahwa satu malam tidak mampu mengangkut terlalu banyak pertanyaan. “Baik,” Souichi melirik jam yang tergantung di dinding, dengan jarum jam panjang teruju pada angka tiga. “Sial, kalau sudah jam tiga aku tak bisa tidur lagi,” makinya dalam hati. Ia memijat pelipisnya karena sensasi pusing yang menyerang sebelum mengakhiri malam absurdnya dengan tegas, “Terserah kau saja. Aku mau tidur.”
Souichi harap itu menjadi konversasi pertama dan terakhir di antara dia dan… dia.
AAA
Akan tetapi jauh di lubuk hatinya Souichi tahu bahwa itu tidak akan menjadi konversasi pertama dan terakhir antara dia dan dia.
Sebut saja Souichi melankolis tetapi firasatnya jarang salah. Esok paginya Souichi terbangun dengan kepala seperti disumpal kapas akibat menahan insomnia selama berjam-jam. Ingin sekali Souichi membenturkan kepalanya ke dinding begitu ia mengingat bahwa masih ada berkardus-kardus barang yang harus ia bongkar.
Hanya saja begitu ia menjejakkan kakinya di lantai kayu ruang tamu, semua kardusnya telah dibuka dan disusun di tempat yang sesuai.
Souichi terperangah. Berkali-kali ia mengucek matanya, mengkonfirmasi ulang realitas, kemudian merinding. Tanpa dikomando bayangan si pemuda misterius terlintas di benaknya. “Kalau bukan dia, siapa lagi?” decak Souichi. Dia tidak yakin apa dia harus berteriak histeris atau pura-pura tidak mengetahui perbuatan sang… hantu… atau penguntit—Souichi masih menolak untuk setuju bahwa hantu itu ada. Pilihan Souichi jatuh pada yang kedua.
Seiring waktu Souchi sering merasa bulu kuduknya berdiri tanpa sebab, atau sebuah hawa dingin melewatinya. Kalau sudah seperti itu, Souichi akan mengambil sapu dan memukulnya ke udara, berharap ia dapat memberi pelajaran kepada sang hantu bodoh. Ia paling kesal saat ia sedang serius membaca sebuah jurnal penelitian kemudian lehernya dihembus.
Makin lama Souichi lelah berperang dengan kehampaan, karena itu ia akan mengabaikan sang hantu—ya, Souichi akhirnya mengaku bahwa hantu itu ada. Ia melihat sendiri bagaimana sesuatu yang tidak kelihatan mengangkat vas bunga kesayangannya, dan mencampakkanya ke lantai. Ingat bunga blubell manis di bawah jendela? Kepala mereka sudah hilang, dipenggal sang hantu. Di malam hari saat Souichi baru bisa tidur, tubuhnya akan digoyang sampai dia pulang dari alam mimpi.
Souichi mulai berpikir ingin memanggil paranormal ke rumahnya, tapi ia mengurungkan niatnya lantaran ingin hemat. Tetapi si hantu pastilah punya semacam telepati, karena ia tak pernah muncul jika amarah masih memuncak di ubun-ubun Souichi. Ia akan mulai jahil saat Souichi bahkan sudah terlalu pikun untuk mengingat masalah yang telah lalu—karena konsentrasinya terakumulasi pada eksperimen yang baru.
Suatu hari saat Souichi sedang membalikkan lembar demi lembar Permaculture in a Nutshell, sebuah buku karangan Patrick Whitefield tentang desain ekologi, dia menampakkan wujudnya. Jarinya yang samar menunjuk buku yang dipegang Souichi berulang-ulang.
“Apa?” tanya Souichi dengan ketus, yang hanya dibalas dengan senyuman.
Souichi mengabaikannya, kembali menenggelamkan konsentrasinya ke dalam buku tersebut, tetapi terusik karena buku tersebut telah pindah ke tangan si hantu.
“Apa maumu hantu sial—” Kata-kata makian Souichi menggantung di udara tanpa pernah terselesaikan. Souichi berusaha menangkap arti gestur sang hantu yang tengah membolak balikkan halaman dengan mulut terbuka dan tertutup tanpa ada suara yang keluar.
“Kau ingin aku membacakannya untukmu?” tebak Souichi. Hantu tersebut menjawab tebakan Souichi dengan anggukan penuh antusiasme. Senyumnya lebar, hampir memenuhi pipinya. Souichi mengusap dahinya, menilai tingkah lelaki di depannya seperti kucing. “Memangnya kau mengerti sains?”
Hantu tersebut cemberut, kentara sekali bahwa ia tidak setuju dengan ucapan Souichi. Ia mengambil kopi di meja dan mengarahkannya ke buku milik Souichi yang sedang dipegangnya. Kontan saja Souichi panik, “HEI, HEI, HEI! Baiklah, baiklah, aku akan membacakannya untukmu. Sialan. Asal kau jangan mengangguku.”
Si buku tebal melayang ke depan Souichi, yang langsung ditarik dengan kasar olehnya.
“Kau merepotkan saja,” keluh Souichi. Walau begitu ia tetap membaca kata demi kata untuk si hantu. Si hantu menangkupkan wajahnya di atas kedua tangannya yang bertumpu di meja. Sesekali alisnya berkerut saat ia mendengar istilah yang asing. Kalau sudah begitu, Souichi akan menjelaskannya dengan terperinci. Barulah setelah si hantu mengangguk, Souichi melanjutkan bacaannya.
Di tengah waktu membaca Souichi, ia teringat akan sebuah pertanyaan yang sering mengantung dan juga terlupakan olehnya, “Oh ya, siapa namamu?”
Lelaki di hadapannya terkesiap, tak mengantisipasi pertanyaan Souichi. Ia pun berdiri, berjalan menembus dinding, dan menulis huruf kanji dengan jarinya di atas embun pagi yang tercetak di sisi luar jendela.
Tetsuhiro :)
“Tetsuhiro, ya?” Souichi menyadarkan tubuhnya ke kursi sembari bersidekap. “Aku Souichi. Mau kulanjutkan bacaan kita hari ini?”
Dalam sekejap mata Tetsuhiro sudah duduk di depan Souichi, seolah kursi tersebut tak pernah ditinggalkan olehnya. Ia mengangguk dengan semangat, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan seakan tidak ingin kelewatan satu pun kata dari mulut Souichi. Souichi menyambung bacaannya sambil mengulum senyum, walau tak nampak karena terhalang buku yang dipegangnya. Baginya, membaca buku tak pernah semenyenangkan ini.
.
.
.
tobecontinued.
.
.
.
A/N: Reviews are appreciated.
.png)



0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”