#38 How to Get Good Dreams Chapter 1
How to Get Good Dreams
A Koisuru Boukun fan fiction written by ah-ee-you
Dedicated to Rin Kurin for her birthday
I own nothing and gain no profit from this story
.
.
.
Chapter One
Moving On (Running Towards Endless Road)
.
.
.
Bunyi
asap yang keluar dari knalpot truk menjadi suara asing yang beradu
dengan suara alam khas pinggiran. Matahari mengintip di balik awan yang
tak mampu menyembunyikan sinarnya, penasaran pada aktivitas insan yang
dinaunginya. Souichi turun dari truk yang ditumpanginya, meregangkan
tubuhnya yang terasa kaku karena duduk selama empat jam. Sementara supir
sekaligus karyawan jasa pemindahan rumah mengangkut barang-barangnya
dari bagasi truk. Khusus kardus yang berisi hal rapuh seperti alat
eksperimen, buku sains agrikultural yang tak lagi muda, dan sebagainya
hanya Souichi yang boleh membawanya.
Bau basah dari embun yang
meluncur di daun dan mencumbu tanah memasuki relung paru-paru, memenuhi
dahaganya akan oksigen. Udara desa sungguh berbeda dari Tokyo yang sesak
oleh polusi. Orang yang berlalu lalang seakan dikejar hantu. Bangunan
yang silih berganti dengan pesat. Lampu yang menebar pesona tanpa kenal
malu. Waktu telah bergulir menjauhi alfa dan hendak menyentuh omega,
namun tak ada yang sempat menikmatinya.
Souichi seperti
disuntikkan sebuah energi baru; tak familiar namun penuh sensasi
menyenangkan. Senyumnya terus terkembang, menghiasi wajah tirusnya.
Karena refleks ia rapatkan jaketnya tatkala angin musim semi membelai
rambut pirangnya, namun kebekuan tak menyurutkan semangatnya yang
meluap.
Berada di dekat alam membuatnya merasa satu dengan alam.
"Ada
yang bisa saya bantu lagi, pak?" Terdengar suara bariton keluar dari
mulut pria paruh baya yang membantu kepindahan Souichi.
Souichi tersentak dari lamunannya, kemudian menoleh dan memberi ojigi—sebuah tradisi Jepang untuk membungkuk sebagai tanda hormat. "Tidak ada. Terima kasih untuk bantuannya."
Pria tersebut tersenyum simpul dan membalas dengan ojigi pula.
Tak butuh waktu lama baginya sebelum menyalakan truk dan membawanya
menjauh dari Souichi. Souichi membawa koper dan kardusnya menapaki
tangga yang berderit saat mencium sol sepatunya. Bunga bluebell menunduk
di pot di teras, seolah memberi hormat kepada majikan barunya. Bau khas
rumah baru mulai menyerbu hidungnya. Souichi mengernyit; bukan karena
keberatan, namun karena bau tersebut mengingatkannya akan masa kecilnya.
Souichi pasrah saat seribu memori berlomba untuk mengharubirukan sanubarinya.
Pemilik
rumah Souichi dulunya adalah seorang kakek yang pindah ke Hokkaido.
Istrinya yang meninggal karena sakit menuntutnya untuk tinggal bersama
anaknya, walau ia enggan berpisah dengan sumber kenangan. Selama setahun
banyak orang yang berebut ingin memiliki rumah kecil dengan interior
sederhana khas Jepang tersebut. Semuanya ditolak lantaran pemiliknya
yang berwatak keras tak sudi rumah yang telah dihuninya sejak baru
menikah jatuh ke tangan orang yang salah.
Memang sudah rahasia
umum bahwa lahan dimana rumah Souichi berdiri diincar para pengusaha
yang rindu membangun kompleks perumahan. Karena itu saat Souichi bertemu
dengan sang kakek untuk membeli rumahnya, ia dipukul dengan sandal dan
diusir. Souichi dianggap sebagai utusan perusahaan yang ingin membujuk
sang kakek. Padahal Souichi hanyalah sarjana lulusan S3 Universitas
Tokyo yang ingin melarikan diri dari kepenatan kota. Beruntung Souichi
langsung mengomentari bunga Chrysanthemum yang merekah di halaman sang kakek. Souichi menebak cara perawatan bunga tersebut dengan tepat, yang membuat Chrysanthemum tersebut berbeda dari bunga Chrysanthemum pada umumnya.
Sang
kakek terdiam dengan wajah yang sedikit melunak. Sebelah sandalnya
tergantung di tangan kanannya tanpa ada indikasi akan dilempar dalam
waktu dekat. Souichi tanpa sadar telah menyentuh titik lemahnya.
Chrysanthemum adalah bunga kesayangan mendiang istri sang kakek.
Dan
jadilah mereka menyesap teh di teras samping rumah, menghadap
pegunungan yang menantang langit. Sang kakek menceritakan semua tentang
istrinya. Ia kerap kali lupa alamat rumahnya, ia bahkan terbata-bata
untuk memanggil anaknya, namun ia tidak pernah melupakan istrinya.
Setiap pagi sebelum bekerja di kebunnya, ia akan meraih jurnalnya dan
menghafal kebiasaan istrinya. Mulai dari yang tidak penting sampai yang
paling tidak penting. Ia tak sudi cinta yang mereka tanam selama lima
puluh tahun kalah dari usia, demensia, Alzheimer, atau apapun itu.
Dalam diam Souichi bertanya-tanya akankah dia bertemu orang yang mencintainya sedalam itu.
Singkat cerita, Souichi berhasil membeli rumah tersebut. Sang kakek bahkan mewariskan semua furniturnya. Persetan dengan para pebisnis tamak yang menjanjikan uang dengan sembilan digit untuk mengambil alih rumahnya. Atau para kurator yang mendamba barang-barang antik di rumahnya. Souichi punya alasan pribadi yang akan ia pegang teguh sampai akhir. Ia juga telah berjanji kepada sang kakek untuk menjaga rumah beserta segala isinya dengan sepenuh hati.
Jari panjang Souichi mulai mencari
saklar. Saat lampu telah dinyalakan, ia puas melihat bagaimana telaten
pemilik sebelumnya merawat rumah tersebut. Souichi menyeringai setiap
kali ia mengingat betapa panas wajahnya saat mencumbu sandal. Atau saat
ia dimaki dan diancam akan dilempari batu agar cepat pergi. Atau saat
air berlinang dan meluncur di wajah sang kakek saat bernostalgia tentang
istrinya.
Souichi meletakkan koper dan kardusnya di tengah
kardus-kardus lain yang tadi telah disusun oleh karyawan jasa
pemindahan. Menghirup bau dan berharap wanginya tak lekas pudar
eksistensinya. Menghiraukan barang yang meminta untuk dilepas dari
kungkungan kardus. Atau masa lalu yang siap menyergap kakinya dan
menyeretnya ke dalam kegelapan yang familiar.
Hari baru. Rumah baru. Kehidupan baru.
Souichi tak sadar bahwa ia hanya sedang berlari, tanpa tahu kapan akan berhenti.
.
.
.
tobecontinued.
.
.
.
Reviews are appreciated.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”