#33 You Will Never Be Alone Chapter 2
“You Will Never Be Alone”
A Frozen x ROTG fan fiction written by
ah-ee-you
Disclaimer : If I own Frozen
and ROTG I would definitely make the sequel where it’s all about Jack and Elsa
(or Elias). Oh yeah, baby.
Warning : Genderbend
(Male!Elsa, Male!Anna, Female!Kristoff and Female!Hans). Yes, it's a boys love.
This story is about the missing scene from the original movie, Frozen.
A/N: Dedicated
to Ksatria Bawang Merah. Jack di
cerita ini sudah menjadi roh yang tergabung di The Guardians dan sudah
mengetahui masa lalunya.
.
.
.
Chapter 2
The Winter Scatter
.
.
.
Kicau
burung di musim panas tak pernah terdengar semerdu itu di telinga Elias. Namun
ia tak tergoda untuk bangun dan menikmatinya—malah ia bergelung di bawah
selimut, yang sebenarnya aneh mengingat ia telah membekukan semuanya. Ia
beruntung bajunya tidak menjadi es.
Hanya
saja sesuatu yang padat, dingin dan melumer di atas kepalanya menginterupsi
reuninya dengan dunia mimpi.
“Aduh!”
Elias mengusap rambutnya yang terkena lemparan salju. Ia melempar selimutnya
dan mengeluh saat terpapar matahari. “Jack!”
Jack
melayang di samping tempat tidur Elias, mengacuhkan protes yang diajukan remaja
di hadapannya. “Pagi, Pangeran Elias. Kau siap untuk perang bola salju?”
“Jangan
panggil aku pangeran dan—pergilah kau, Jack. Aku tidak ingin orangtuaku hampir
memergokiku lagi.” Elias menarik
selimutnya namun tongkat Jack sudah lebih dulu membekukannya.
“Hei!”
“Orangtuamu
tidak dapat melihatku, kenapa aku harus peduli?” Jack menyeringai dan
mengedikkan bahunya sebagai respon terhadap reaksi Elias.
Kemarahan
menggelegak di dalam batin Elias. Namun ia tahu ia tidak akan pernah bisa murka
di hadapan sang roh es. “Lelehkan es yang
kau buat sekarang juga, tuan.”
“Tidak
sebelum kau setuju bermain denganku.” Jack mengedipkan sebelah matanya dengan
ekspresi nakal, yang membuat rona merah menjalar ke pipi Elias.
"Shut up!" desis Elias, cemas orangtuanya
dapat mendengarnya ucapan kasarnya. "Stop teasing me, already."
"I
can't.” Jack memainkan bola salju di tangannya, tak acuh pada ucapan Elias.
"You're my plush toy."
"No,
I am not—hmph!” Elias meludah akibat salju yang masuk ke mulutnya. Jack
tertawa terbahak-bahak. Sedetik kemudian tawa itu berubah jadi jeritan ‘Aduh!’
yang kuat karena bokongnya mencium lantai.
Elias
tersenyum puas karena telah membuat lantainya licin.
Kini
Elias menginjak usia dua belas tahun. Sudah empat tahun sejak Jack pertama kali
datang ke kamarnya. Tak ada satu hari pun yang tak Elias nikmati, karena Jack
tak pernah absen mendampingi.
Jack
bagai penangkal kesedihan yang mengusir semua selubung kesuraman.
“So you wanna play hard, huh? Bring it on!” Jack berdiri di atas
tongkatnya yang kini melayang bak sapu ajaib milik para penyihir.
Elias
membentuk dua es yang besar dan menjepit tongkat Jack. Jack oleng tapi sebelum
jatuh ia menyerang Elias dengan salju. Jack mengaduh sementara Elias terbatuk
karena salju yang menumpuk.
“Kau
menyebalkan. Aku rasa ada salju di pakaian dalamku sekarang,” sungut Elias.
“Kau
memakai pakaian dalam? What a news.”
ejek Jack yang tak mampu menahan tawanya. Ia pun membantu Elias membersihkan
salju yang ada di tubuh Elias. “Senang melihatmu jadi dirimu sendiri—kau
tahu—tidak berusaha terlihat tenang. Hanya
bersenang-senang.”
Warna
merah mendominasi kulit pucat Elias. “Siapa bilang aku bersenang-senang—hei
jangan sentuh bagian itu!“
“Apa?
Aku tidak menyentuh apapun.” Senyum menggoda terlukiskan secara alami di wajah
Jack.
“JACK!”
Jack menengadah, mengunci pandangan Alan dalam sebuah tatapan yang intens. Kedua lelaki tersebut membeku di tempat dengan posisi wajah yang dekat—terlalu dekat sampai Jack dapat menghitung jumlah bulu mata yang melingkari matanya. Juga serbuk salju yang bertengger di alis matanya, sepadu dengan irisnya yang berwarna safir.
Jack menengadah, mengunci pandangan Alan dalam sebuah tatapan yang intens. Kedua lelaki tersebut membeku di tempat dengan posisi wajah yang dekat—terlalu dekat sampai Jack dapat menghitung jumlah bulu mata yang melingkari matanya. Juga serbuk salju yang bertengger di alis matanya, sepadu dengan irisnya yang berwarna safir.
Suara
ketukan di pintu memutuskan kontak kedua iris mata. Namun tak ada satupun dari
mereka yang berani bersuara. Elias menggigit bagian dalam bibirnya karena debar
jantung yang menggila.
Dalam
hati ia menebak suara siapa yang akan ia dengar.
"Do
you want to build a snowman? Or ride our bike around the halls?"
Suara
Alan yang halus memecah kesenyapan. Tetapi di dalam benak Elias suaranya bak
pedang yang mengungkit perih. Jack dapat melihat ekspresi terkejut Elias yang
sedetik kemudian berubah jadi sedih. Bibir Elias terbuka untuk mengucapkan
kalimat penolakan namun dipotong oleh nyanyian adiknya.
"I
think some company is overdue, I started talking to, the pictures on the
walls—Hang in there, Joan! It gets a little lonely, all these empty
rooms, just watching the hours tick by…"
Elias
diam. Ia mendorong Jack menjauh, berbaring membelakangi Jack.
Jack
duduk di pinggir tempat tidur. "Hei, aku rasa adikmu benar-benar butuh
bantuan."
Suara
dengusan terdengar. "What was that supposed to mean?"
"You
heard him. I started talking to, the pictures on the walls—hang in there Joan!"
Elias
tertawa mendengar suara Jack meniru Alan dengan gaya konyol. Elias tahu Jack
sedang berusaha menghiburnya.
“Kau
tahu suatu hari kau harus kembali berhubungan dengan Alan, bukan?”
Elias
tidak berusaha menjawab pertanyaan tersebut.
Jack
mendesah dan mengacak rambutnya. "Aku pergi dulu. Take care,
Elias."
Elias
tidak menghiraukannya walau dalam hati ia berucap, "You too, Jack,
you too."
AAA
Dunia
membawa Elias jauh tinggi ke angkasa. Saat Elias nyaman dengan awan yang
membelai tubuhnya, sebuah lubang raksasa menghisapnya. Tubuhnya terjatuh tanpa
ia bisa mengantisipasi.
Ia
terhempas, berbaring tak berdaya di atas duri realitas.
AAA
Malam
itu, seminggu setelah kepergian Raja Adgar dan Ratu Idun ke kerajaan seberang, hujan
menerpa Arandelle. Sebuah fenomena yang mengejutkan mengingat Arandelle berada
di fase musim panas. Elias melamun tanpa sadar bahwa sebuah senyum terukir di
wajahnya.
Jack
akan datang hari ini. Seperti biasa. Ia akan menyiapakan sesuatu yang unik.
Seperti biasa juga.
Kini
Elias berusia delapan belas tahun. Selama sepuluh tahun Jack telah menemaninya
tanpa syarat. Mengisi hari demi hari dengan lelucon, gurauan, senyuman tanpa
imbalan. Jack tak pernah gagal menangkis kesepian yang menyusup. Hanya saja
Jack nyaris tak pernah memberitahu asal usulnya. Elias tak keberatan, selama
Jack selalu ada untuknya. Walau posisi keluarganya tetap tak tergantikan, baginya
Jack adalah saudara. Mereka tak terpisahkan.
Atau
setidaknya itu yang Elias pikirkan.
Ketukan
di pintu membuyarkan lamunan Elias. Elias terperanjat.
Ini
bukan waktu Elias untuk makan malam. Atau belajar bersama ibunya, karena ibunya
sedang bertugas. Ini juga bukan waktu dimana Alan biasa datang untuk bernyanyi.
Lantas,
mengapa pintu itu diketuk?
Ketukan
kembali terdengar beserta suara bariton juru bicara kerajaan, “Pangeran Elias,
saya punya sebuah berita penting untuk disampaikan.”
Suatu
firasat buruk menghentak tanpa Elias tahu dari mana asalnya. Juru bicara tidak
pernah datang ke kamarnya. Sensasi tidak nyaman menggelayut. Ia masih tidak
beringsut.
Juru
bicara mengucapkan beberapa patah kata sebelum akhirnya undur diri.
Air
mata yang meluncur dari pipi Elias jatuh ke lantai dan menjadi es.
Hari
ini, ulu hati Elias tertusuk oleh peristiwa kehilangan.
Lagi.
AAA
“Hei,
maaf aku terlambat. Bunny menggangguku jadi aku rasa aku perlu memberinya
beberapa pelajaran.” Jack menggelantung di jendela, sebelum akhirnya melayang
turun ke lantai.
“Wow.
Is it just me or your bed room is getting
colder?” Jack sedang tak bercanda. Ia bersedekap dan mengusap kedua lengan
bagian atasnya.
Posisi
tidur Elias miring, memunggungi Jack. Jack baru saja akan mengira Elias tidur
jika tidak melihat pundaknya yang naik turun dengan cepat. “Elias? Apa ada
sesuatu yang salah?” Suara tarikan ingus menjadi jawaban Jack. “Elias?”
“Tinggalkan
aku sendiri.”
Jack
menggaruk rambutnya, merasa canggung dengan situasi tersebut. “Kau tahu, Elias,
jika ada sesuatu yang salah kau bisa mengatakannya—“
“Aku
tidak akan berbicara denganmu.”
Jack
menghela nafas. Remaja. Pubertas. Pemberontakan. Jack pernah
melewatinya—sepertinya? Karena Jack tak ingat persis di usia berapa ia
meninggal hingga menjadi roh.
Telinga
Jack menangkap gerak gerik di dekat pintu. Tubuhnya mengambang ke dekat pintu.
Jack mengintip di lubang pintu dan menemukan dua orang pelayan yang tengah
berbincang.
“Aku
sungguh prihatin. Mereka masih muda, dan orang tua mereka telah tiada.” Salah
satu dari mereka berbicara.
“Siapa
yang akan memimpin Arandelle?” tanya yang seorang lagi.
“Tentu
saja Pangeran Elias. Minggu depan dia akan ditahbiskan menjadi raja.”
Jack
terperanjat, tak menyangka berita kematian yang jadi pelaku dari sikap Elias
yang dingin.
“Elias…”
Suara Jack parau saat ia mengucapkannya. “Aku turut berduka cita untuk…
kehilanganmu. Aku mengerti perasaanmu.”
Sontak
Elias bangkit dan mengarahkan es tajam untuk mengurung Jack. Satu senti lagi,
maka es itu sudah pasti akan mengoyak wajah Jack. Elias mendekat dengan kaku.
Bibirnya bergetar akibat menahan amarah. Tatapannya sarat murka berbaur air
mata.
“Tidak,
kau tidak mengerti! Kau tidak mengerti seperti apa rasanya dikucilkan! Kau
tidak mengerti seperti apa rasanya menjadi muak atas dirimu sendiri! Kau tidak
mengerti bagaimana putus asanya kau ingin jadi bahagia, tapi dirimu sendiri yang mencuri kebahagiaan itu!”
Nafas
hangat Elias menerpa wajah Jack yang tersentak.
Elias
terengah-engah. Jack terpaku di tempat.
Remaja
tersebut menarik dirinya, sebelum jemarinya menjambak rambut pirangnya dan
mengerang, membiarkan frustasi dan rasa kecewa pada hidup membuncah di dadanya.
Ia
putus asa. Ia tidak ingin hidup lagi. Ia tidak mengerti apa gunanya hidup, jika
hanya untuk menanggung beban yang telah dihibahkan padaya sejak lahir.
Ia
lebih baik mati menggantikan orang tuanya.
Jack
hanya diam memerhatikan Elias dengan pandangan yang tak bisa diartikan.
“Kau. Tidak. Mengerti. Perasaanku. Kau
hanya roh… roh yang menyedihkan. Aku muak melihatmu.”
Keterkejutan
terlihat jelas dari wajah Jack, sebelum tergantikan oleh tatapan tajam. Rahang
Jack mengeras seiring otot-ototnya yang menegang. Lantas pemuda tersebut
memukulkan tongkatnya ke lantai dengan kasar hingga es yang mengukung lantai
retak sampai ke langit-langit.
“Baik.
Jika itu menurutmu. Aku pergi.”
Jack
tidak pernah secepat itu melesat pergi dari kamar Elias, membiarkan sang calon
raja terpaku pada pemandangan jendela yang terbuka. Iris yang serupa samudra
milik Elias menatap rinai hujan beradu semakin deras serta petir saling
bersahutan.
Ia
baru saja menyadari ucapan dan tindakannya. Ketakutan menggelegak di dalam
nuraninya.
Akankah
dia kehilangan Jack?
Setelah
semua yang dia alami, setega itukah takdir untuk mengambil Jack?
Tak
lama setelah Jack pergi, Elias mendengar derap kaki pelan di pintu kamarnya.
"Elias?
Please I know you’re in there, people are
asking where you’ve been."
"They
say ‘have courage,’ and I’m trying to, I’m right out here for you, just let me
in."
"We
only have each other, it’s just you and me, what are we gonna do?"
"Do
you want to build a snowman?”
‘Jawabannya akan selalu sama, bodoh.’
Elias memaki dalam batinnya sambil meratapi lubang yang menganga di hatinya.
‘Aku mau, tapi aku tak bisa.’
‘Aku tak akan pernah bisa.’
AAA
Takdir
sungguh senang bermain dengan Elias sebagai pionnya.
Matahari
dan awan tipis tersampir di pundak langit, tersenyum pada penduduk Arandelle. Sayang
senyuman musim panas tak menularkan kebahagiaan pada Elias yang hanya bisa
mendambanya dari jendela. Elias mendesah, berharap karbondioksida akan membawa
pergi kesusahan hatinya.
Hari
ini adalah hari penahbisan Elias sebagai raja, yang artinya ia harus bertemu
dengan ratusan orang asing setelah sepuluh tahun dikurung ke kamarnya.
Elias
mengintip dari balik jendela yang buram, seakan mengantisipasi sesuatu. Jika
ada bayangan yang melesat, ia langsung memasang postur tegak dan memasang wajah
tak peduli. Sesaat kemudian ia sadar bahwa itu bukanlah orang yang ia tunggu
kehadirannya, melainkan burung yang terbang.
Elias
mendesah dan mengusap wajahnya dengan gundah.
Jack
tidak datang.
Dia. Tidak. Datang.
Jack
tidak pernah tidak datang, bahkan saat Elias memintanya untuk tidak datang.
Kontradiksi yang aneh, Elias tahu itu. Kini, di hari yang paling penting dalam
sejarah hidup Elias, Jack tidak menampakkan secuil pun dari batang hidungnya.
Perasaan
bersalah mulai menggelayut di dalam Elias. Ia terus bergerak dengan gelisah,
bertanya-tanya apakah ketidakhadiran Jack ada pengaruhnya dengan perilakunya minggu
lalu. Elias menggeleng saat pikiran itu berkelebat. Mereka sering bertengkar
layaknya saudara. Namun esok harinya Jack akan datang dengan semangat baru,
yang menandakan bahwa mereka telah berbaikan.
Ia
akan bersikap seperti tak ada apapun yang terjadi di antara mereka.
Jack
selalu datang. Selalu. Hingga Elias sering tanpa sadar duduk di dekat jendela
untuk menyambutnya.
Tunggu
dulu, kenapa ia harus mencemaskan Jack?
Bukankah
Jack hanyalah roh es yang kedatangannya tidak diharapkan dan keberadaannya
tidak direncanakan? Ia sendiri yang mengatakannya.
Jack
hanyalah roh yang menyedihkan.
Ia
bisa datang dan pergi sesukanya.
Lalu
mengapa kini tenggorokan Elias tercekat karena menahan tangis?
“Pangeran
Elias…” Ketukan di pintu memecah keheningan yang hampir merasuki Elias. Elias
menyadari suara tersebut sebagai suara milik sang juru bicara. “…semuanya telah
siap.”
Si
pangeran muda terpekur. Setengah dari dirinya ingin terus berada di sana dan
memastikan bahwa Jack benar-benar tidak akan muncul, sementara sisi dirinya
yang lain merasa harus bertanggung jawab.
Hanya
saja tak butuh waktu lama bagi rasionalitas untuk mengambil alih pikiran Elias.
Ia
memilih pilihan yang kedua.
“Baik.
Saya akan segera kesana.”
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
A/N: Bunny yang dimaksud Jack adalah Bunny di ROTG. Is it just me or
Elias seems a little bit tsundere? Anyway if you think this story is OOC,
please tell me. I love feedback so much, you have no idea. Adios!
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”