#35 Dongeng Sebelum Tidur (Incomplete)
Dongeng Sebelum Tidur
An original fiction
written by AshaD
Genre: friendship/angst
.
.
.
Kara adalah tipe gadis yang akan duduk
di kursi paling ujung di kelas, menghindari segala bentuk interaksi sosial. Ia
tidak pernah menyukai ide menjadi pusat perhatian, karena batinnya lebih nyaman
bekerja di balik layar. Dia lebih senang mendaratkan bokongnya di suatu tempat,
menjauh dari hiruk-pikuk dunia, dan melayar ke dalam angan-angan. Hatinya
bergejolak oleh kebahagiaan tatkala tangannya mempertemukan grafit dengan
kertas, membentuk angan-angan yang melanglangbuana di dalam otaknya. Kumpulan
kalimat dipadunya menjadi sebuah kisah mahluk-mahluk yang lahir dari
khayalannya.
Cerita Kara selalu berhasil menghanyutkan dirinya sendiri. Terkadang ia tenggelam ke dalam imaji, namun ia tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, ia sengaja membiarkan dirinya direngkuh oleh fantasi miliknya. Semakin jauh ia diseret, semakin baIK. Karena ia menikmati tiap sensai dari bulir ide yang dicurahkan kepadanya. Ia tak peduli jika ia kehilangan asupan realitas, karena sesungguhnya batas antara imajinasi dan realitas sama ambigunya dengan batas di antara warna pelangi
Cerita Kara selalu berhasil menghanyutkan dirinya sendiri. Terkadang ia tenggelam ke dalam imaji, namun ia tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, ia sengaja membiarkan dirinya direngkuh oleh fantasi miliknya. Semakin jauh ia diseret, semakin baIK. Karena ia menikmati tiap sensai dari bulir ide yang dicurahkan kepadanya. Ia tak peduli jika ia kehilangan asupan realitas, karena sesungguhnya batas antara imajinasi dan realitas sama ambigunya dengan batas di antara warna pelangi
Terkadang realitaslah yang terasa
seperti dunia imajiner.
Saat semua orang berpikir Kara masih berada
di kelasnya, pikirannya telah merasuki suatu dunia antah berantah. Ia bertualang
dengan teman-teman khayal. Terkadang karakteristik fisik mereka sama persis,
terkadang bak langit dan bumi. Bersama mereka akan mengalahkan para bajak laut
yang ingin merampok, menyelamatkan putri yang diculik atau membantu
memperdamaikan dua kerajaan yang bersitegang.
Di mata Kara cilik, angin yang bertiup
pelan dari jendela reot kelasnya adalah bisikan para peri yang minta tolong.
Kilatan petir adalah hasil dari argumen para awan dan hujan tentu adalah air
mata mereka. Gempa terjadi karena monster di bawah lapisan litosfer mendengkur terlalu
keras, dan pelangi adalah hadiah dari para kurcaci untuk menghibur gadis kecil
yang sedih di belahan dunia yang lain.
Intinya, Kara terlahir dengan karunia
misterius. Ia punya terlalu banyak imajinasi. Ironisnya, bagi gadis cilik yang
baru berusia tujuh tahun tersebut, orang lainlah yang kekurangan imajinasi.
Terkadang
realitaslah yang terasa seperti dunia imajiner.
AAA
Sore itu, para awan bertengkar lagi.
Kara duduk di tempat tidurnya, menghela
nafas saat petir sesekali menggetarkan kaca jendelanya dengan raungan yang
mengejutkan. Matanya menatap kosong tetes demi tetes air yang meluncur memenuhi
panggilan gravitasi dan bersatu dengan tanah.
Jika reinkarnasi benar ada, ia ingin
terlahir kembali sebagai hujan.
“Kara, jangan bengong! Nanti bisa
kesurupan!” goda Kenzie, abangnya yang hanya terpaut tiga tahun darinya. Kepalanya
menyembul dari pintu kamar sementara bibirnya menampilkan cengiran khas miliknya.
Kara cukup pintar untuk mengabaikannya, namun hal itu hanya semakin mengundang
sang kakak untuk mengganggunya. Melihat tingkah laku usil Kenzie, si sulung
Kirana, langsung mencubit tangan adiknya.
“Aduh! Sakit!” Kenzie mengaduh sambil
memegangi bagian lengannya yang nyeri.
“Makanya jangan nakal!” Kirana mendengus
sambil dan berkacak pinggang. "Sana, ganti baju. Kita mau pergi!”
“Pergi kemana, kak?” tanya si bungsu Kayana
yang tengah bermain boneka.
Kirana mengusap pelan rambut adiknya dan
tersenyum. “Mau menjenguk anak teman mama yang sakit, sayang.”
Kenzie yang berdiri di belakang Kirana
menggerakkan mulutnya sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh kakanya
dengan mimik jijik, yang tentunya mengundang tawa dari Kayana. Kirana langsung
berbalik dan menghadiahi Kenzie pelototan, "Kamu ejek aku, ya? Awas
kamu!"
Sebuah suara pukulan yang keras
terdengar diiringi suara rengekan yang nyaring.
"Mamaaa, kak Kirana lempar aku
pakai sepatuuu!"
Sementara Kara hanyut dalam hening,
mendengarkan kurcaci di tepi jendela yang menceritakan asal muasal perdebatan
para awan di langit.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”