#32 You Will Never Be Alone Chapter 1



“You Will Never Be Alone”
A Frozen x ROTG fan fiction written by ah-ee-you
Disclaimer : If I own Frozen and ROTG I would definitely make the sequel where it’s all about Jack and Elsa (or Elias). Oh yeah, baby.
Warning : Genderbend (Male!Elsa, Male!Anna, Female!Kristoff and Female!Hans). Yes, it's a boys love. This story is about the missing scene from the original movie, Frozen.
A/N: Dedicated to Ksatria Bawang Merah. I personally think that this story would be so much better in English, but my English vocabulary are limited. Grrr.
.
.
.
Chapter 1
The Winter Bloom
.
.
.
Para penduduk Arandelle tersenyum menyambut pagi pertama di musim semi. Waktu merekahkan bunga-bunga, membisikkan instruksi kepada angin-angin lembutnya untuk bertiup dan mencerahkan langit yang selalu terlihat suram di musim dingin.
Hanya di wajah Elias terpatri garis mulut yang tertekuk ke bawah.
Pangeran berumur delapan tahun tersebut menatap langit tanpa ekspresi yang kentara. Cahaya menari di jendela dan menyisakan jejak di lantainya. Tak butuh waktu lama sebelum es yang keluar dari tangan mungilnya membekukan letupan gairah cahaya matahari yang terefleksi di lantai kamarnya.
Elias terkesiap. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan es-es runcing telah terukir di jendelanya, merefleksikan raut wajahnya terkejutnya dari berbagai sisi. Ia berjalan ke belakang—penuh rasa takut akan karyanya sendiri—namun tergelincir akibat lantai yang licin penuh es. Bokongnya bertemu lantai, membuatnya terisak tanpa komando. Ia gagal menghalau gundah yang menelan hatinya. Ia meredam tangisnya semampu yang kedua tangannya dapat lakukan. Hal terakhir yang ia ingin lihat adalah ekspresi kecewa dan khawatir di kedua orangtuanya, Raja Agdar dan Ratu Idun.
Anak kecil tersebut belum mampu memulihkan keterkejutannya saat telinganya telah menangkap suara langkah kecil dan ketukan di pintu kamarnya.
Do you want to build a snowman?”


Suara Alan begitu lembut hingga Elias hampir bisa melihat suara adiknya masuk dari sela-sela lubang kunci pintu kamarnya, menjalari dinding yang penuh dengan es yang tajam, kemudian menelusup ke dalam hatinya yang telah basah oleh air mata.
Alih-alih mengiyakan adiknya seperti yang dulu ia lakukan, Elias menyerahkan dirinya pada keheningan. Ia tetap pada posisinya, tergugu di bawah jendela yang menyuguhkan pemandangan samar akan langit. Lelaki tersebut tidak yakin siapa yang harus disalahkan untuk kaca yang buram—matanya yang berkabut atau es yang melapisi kaca. Sesekali ia merobek kesunyian dengan membersihkan hidungnya dengan sapu tangan.
Kamarnya terisi kesenyapan setelahnya.
Elias hampir mengira adiknya sudah menyerah saat ia kembali mendengar lantunan melodi, “It’s doesn’t have to be a snowman.”
Go away, Alan.” Suara Elias terasa jauh, seolah-olah berasal dari tempat lain. Nadanya kering bagai suara daun-daun yang bergesekan dengan sendu kala angin bertiup.
Tak lama kemudian, Alan menghela nafas. “Okay, bye.
Usai kepergian adiknya, Elias berbaring di lantai, membiarkan kulitnya meresapi rasa dingin yang memuakkan. Dalam diam ia memandang air matanya membeku di lantai. Es adalah sahabat sekaligus musuh.
Pengisi kesepian sekaligus dalang di balik kesepian itu sendiri.
Ironisnya, Elias sendiri masih terlalu kecil makna sebuah kata 'ironi'.
Ia hanya mengerti satu fakta yang tidak akan pernah bisa luput dari memorinya, karena kebekuan yang tercipta dari tangannya selalu mengingatkannya.
Ia berbahaya bagi Alan.
Tidak ada yang tahu betapa ia menginginkan untuk membangun manusia salju bersama Alan. Namun bayangan Alan yang cedera senantiasa berkelebat, menghentikan Elias tiap kali tangannya hendak meraih gagang pintu dan memutarnya.
Hingga detik ini ia tak pernah berhenti melayangkan harapan yang mewarnai isakan tangis yang menyayat hatinya di tiap malam yang sepi.
Kalau saja dia punya kawan senasib dan seperjuangan, seperti si roh es di buku dongeng yang selalu dibacakan tiap malam oleh Ratu Idun.
"Anak malang." Sebuah suara asing menelusup ke dalam nostalgianya, membuat Elias tersentak. Ia beranjak dan terkejut dengan apa yang dia lihat—seorang pemuda dengan warna rambut seperti salju melayang-layang di langit-langit kamarnya.
"S-Siapa kau?" Elias mengambil buku tebal yang ada di dekatnya, mengambil kuda-kuda jika si pria berniat jahat. Pria itu merespon dengan membelalakkan matanya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dua saku di depan jaketnya, menghadiahi Elias tatapan takjub.
“Kau bisa melihatku?"
Elias mengangguk dengan polos.
"Kau bisa mendengarku? Sungguh?"
Anggukan Elias menerbitkan seringaian yang lebar di wajah pria pucat tersebut.
“Wow.” Pemuda misterius tersebut menyisir rambutnya dan menggaruk belakang lehernya, terlihat tak yakin harus berbicara apa. “Ini yang pertama kalinya dalam seratus tahun ada yang melihatku.”
“Seratus… apa?” Untuk sesaat Elias terlihat tak mampu berkata-kata. “Siapa kau? Kenapa kau bisa terbang?”
“Maafkan kelancanganku, tuan.” Lelaki yang terlihat seperti remaja berusia tujuh belas tahun tersebut menyentuhkan kakinya ke lantai, memberi hormat sambil mengayunkan tangannya dengan gaya yang dibuat-buat. “Aku Jack Frost, roh es.”
Elias berusaha menelan ludah sebelum memberanikan diri bertanya, “Maksudmu kau adalah roh es… roh es yang itu?”
Exactly, young man. Tapi aku bukan legenda. Aku nyata. Kau bisa melihatku karena… kau percaya pada eksistensiku.” Dengan satu gerakan spontan Jack terbang mendekat hingga wajahnya dan wajah Elias hampir bersentuhan.
Elias menarik nafas, terlebih lagi saat sebuah miniatur kastil Arandelle terbentuk di tangan Jack. Jack berbisik tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Elias. “Sama sepertimu, aku bisa mengeluarkan es dari tanganku.”
Debaran jantung Elias semakin keras. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Jack memandang sekeliling kamar dan memutuskan untuk duduk di lemari pendek di samping tempat tidur Elias. “Tidak ada. Hanya memperhatikanmu. Siapa bocah tadi yang bernyanyi di luar kamar? Adikmu?”
Elias menyuratkan ekspresi suram walau bibirnya mengguratkan senyum. “Ya, kurasa.”
Jack hanya memandang Elias dalam diam. Sesaat kemudian ia melayang dan pindah ke samping Elias. “Aku dulu punya adik.” Jack mulai bercerita tanpa ada yang meminta, “Dia berisik, tipikal adik perempuan, tapi aku menyayanginya.”
“Apakah seorang adik akan terus menyayangi kakaknya, walaupun kakaknya telah menyakitinya?” sembur Elias tanpa aba-aba. Jack melirik sepintas dan ia mampu mendeteksi mata Elias yang berkaca-kaca.
“Jika aku adalah si adik, jawabannya adalah ya,” jawab Jack. “Aku dan adikku selalu bertengkar sampai kami menyinggung perasaan satu sama lain. Tapi setelah itu kami akan saling memaafkan dan berbaikan.”
Elias menoleh pada Jack dan bertanya, “Bagaimana cara kau melakukannya?”
Jack tak langsung menjawab. Konsentrasinya direbut oleh keterpukauan terhadap binar mata Elias. Barulah saat Elias mengibaskan tangannya di depan wajah Jack, Jack tersadar.
“Ah… apa? Oh, cara berbaikan. Salah satu dari kami mengambil inisiatif untuk meminta maaf, seperti itulah,” Jack tertawa salah tingkah sambil memutar tubuhnya untuk memandangi kamar. Tanpa sengaja ia membentur mainan Elias hingga jatuh. Saat Jack berusaha menyusunnya, tubuhnya menyenggol tempat tidur Elias. Jack terpeleset sementara es di langit-langit kamar jatuh dan mengeluarkan bunyi nyaring.
Untuk beberapa saat, mereka hanya berpandangan dengan canggung sebelum akhirnya Elias menyemburkan tawanya. “Kau lucu.”
Jack menggaruk tengkuknya dan menyeringai, berusaha terlihat keren walau wajahnya bak kepiting rebus. “Aku sudah mendengarnya berulang kali, tapi terima kasih.”
Sedetik kemudian senyum Elias pudar karena teringat sesuatu. “Apa menurutmu… aku harus meminta maaf pada adikku?”
Jack mengangguk mantap. “Aku yakin dia pasti akan senang bermain lagi denganmu.”
“Tapi aku bisa saja menyakitinya lagi.” Elias kembali merengek. Ingatan akan adiknya hampir meninggal ia berusaha keras abaikan, hanya saja waktu tak mengizinkan.
Jack tahu kata-kata penyemangat bukan yang Elias butuhkan kini. Saat pandangannya menelusuri kamar tidur Elias, sebuah ide terlintas di benaknya. “Apa kau pernah mendekorasi ulang kamarmu?”
“Mendekorasi ulang?” Suara Elias sedikit pecah.
You heard me, kiddo. Kamarmu terlihat sedikit membosankan, kau tahu? Kita harus mendekorasinya ulang!” Jack mulai membuat ukiran di dinding dengan tongkatnya. Elias pasti akan memprotes ucapan Jack, kalau saja ia tidak terlanjur kagum pada gambar yang Jack buat di dinding kamarnya.
Tak butuh waktu lama bagi Elias untuk larut dalam kesenangan yang Jack tawarkan padanya.
Tanpa tahu bahwa kelak Jack akan menjadi seseorang yang esensial di dalam hidupnya.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
A/N: I want to have a boyfriend like Jack #mupengface #notgomen Let me fangirling with my own fan fiction because I’m a shameless fujoshi #what. Thank you for reading this story! Feedback, please?

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.