#31 The Age of The Cathedral Chapter 1
The
Age of the Cathedrals
A
Hetalia: Axis Powers fan fiction
Disclaimer:
I own nothing but the story and gain no
profit from it. The title of the poem in this story is Prisoner of Life,
written by Sabrina, taken from familyfriendpoems(dot)com. It was too beautiful
to be missed out. Credit to Sabrina, thank you for writing such a touching
poem!
Warning:
AU. Semi-historical. Some OC as extra
characters. Boys love. No incest.
A/N:
Inspired by IU – The Age of the
Cathedrals. Dedicated to Silan Haye, who also helped me for the research.
Saya tidak yakin dengan kemampuan riset saya so feel free to CMIIW. The story
might be sensitive because the theme is church conspiracy so, yeah. Thank you
to Wakana Shirou and Hime Hoshina who help me to create this
story! xoxo.
.
.
.
Chapter
1
.
.
.
Sitting alone in the dark corner.
Knees against my chest, head in my hands.
Watching the tears run from eye to floor.
Knees against my chest, head in my hands.
Watching the tears run from eye to floor.
.
.
.
1845
masehi.
Ia mematikan obornya, lantas berlutut. Kedua tangannya dilipat seiring dengan tertutupnya kelopak mata. Mulutnya yang membuka dan menutup menyiratkan bahwa ritualnya telah dimulai. Suara baritonnya memecah hening yang tercipta. Doanya begitu khusyuk, seolah tiap kata yang ia bisikkan mampu menggetarkan pintu surga. Seolah malaikat akan jatuh air matanya, tersentuh dengan ketulusan hatinya. Jubah sutra yang ia kenakan menunjukkan kemegahannya, sekaligus tameng atas tubuhnya yang telah penuh coret-moret luka kehidupan. Sungguh, mahluk mana yang tak terketuk hatinya saat mendengar bibirnya menyenandungkan doa?
Bara api obor menjadi temaram, seolah bosan melihatnya berada dalam posisi yang sama selama hampir dua jam. Jika tadi seluruh tubuhnya dapat mencicipi penerangan mengkilau dari obor, kini hanya ujung kepalanya saja. Bulan sabit yang membelah angkasa nyaris mencapai puncaknya saat pemuda tersebut mencapai ujung doanya. Ia telah mendoakan dunia. Ia telah menyebutkan kerajaan tempat ia tinggal. Ia telah mengucapkan nama gereja tempat ia melayani. Ia telah menyebutkan nama semua orang yang bisa ia ingat.
Kini ia mendoakan adiknya.
Ia berhenti sejenak, berusaha mengatur rasa rindu yang mendera hatinya. Dadanya berdenyut oleh rasa sakit akibat rasa bersalah yang menyerang. Namun pikirannya seolah kaset rusak yang tetap menayangkan ulang fitur dari adiknya, pria yang tak pernah ditemuinya sejak beberapa tahun yang lalu. Mata hijau. Rambut coklat. Bibir merah. Kulit gelap. Tubuh tegap. Gigi putih. Senyum lebar. Genggaman erat…
Ia mengatupkan matanya semakin erat, berharap dapat mengubah pikiran air mata yang mengintip di balik kelopak. Untaian kata indah kembali mengalir keluar dari bibirnya yang bergetar. Keringatnya mengucur seiring dengan tubuhnya yang gemetar.
Tuhan, betapa ia ingin dada adiknya tetap naik turun dan hidungnya menghembuskan karbon dioksida. Ia tidak peduli terlihat seperti apa adiknya sekarang, ia hanya ingin adiknya bernafas. Betapa juga ia ingin kedua tangannya mampu memutarbalik waktu yang tak kasat mata, dan menata ulang kehidupannya. Pemuda tersebut tak mengerti mengapa ia harus terlelap, sementara yang akan ia sambut esok paginya hanyalah para musuh yang siap menerkam.
Ia rindu sentuhan adiknya. Ia hanya ingin melihat adiknya.
Saat ia membuka mata, obor telah mati, seiring dengan redupnya gairah untuk hidup.
.
.
.
Happiness left my soul, now so dark and
cold.
Life in my eye is no longer shown.
If only I could escape these chains and cuffs
And once again run from my thoughts.
.
Life in my eye is no longer shown.
If only I could escape these chains and cuffs
And once again run from my thoughts.
.
.
.
1822
masehi.
Seorang bocah lelaki dengan baju kumal memandang sekitarnya dengan was-was. Tatapannya jatuh pada pai merpati yang menguarkan bau pengundang liur. Perutnya berbunyi tanpa diminta. Dari sudut matanya, ia dapat melihat bahwa sang pemilik toko sedang tak ada di depan. Langsung saja ia mengambil sepotong pai dan berlari sebelum ada yang melihatnya.
Ia beruntung kali ini. Lagi.
Gedung-gedung berpilar menjulang di sisinya, selalu berhasil mencengkeram pandangan penuh iri dan kagum para rakyat jelata. Orang yang berlalu lalang dengan dagu yang tinggi—sedikit terlalu tinggi, tipikal aristokrat—mengenakan kain sutra yang harganya mengundang siapapun untuk membelakkan matanya. Di tepi jalan, di sebuah tempat yang telah disediakan, para pedagang kikir dengan jari berhiaskan cincin emas menampilkan senyum dan produk terbaiknya. Memberi harga yang tak masuk akal, yang tetap dibeli karena mendatangkan gengsi.
Ingin sekali bocah tersebut meludah di depan mereka namun ia terlalu lapar untuk melakukannya.
Kakinya yang kurus dan dekil membawanya berbelok ke sebuah gang sempit yang buntut. Di sana ia memandang curiannya. Tangannya gemetar karena itu adalah pai pertama yang ia pernah sentuh. Ia mulai membagi sepotong pai tersebut menjadi bagian-bagian yang kecil dan memasukkannya ke dalam mulut dengan gerakan yang lamban.
Lelaki tersebut hampir menangis karena rasanya yang begitu enak.
Tiba-tiba saja sebuah tangan yang besar mencengkeram dengan erat pundaknya. Feliciano tidak berani mendongak karena ia tahu siapa pemilik tangan tersebut.
“Feli!” Sebuah seruan membuatnya terlonjak hingga pai di genggamannya terjatuh. “Apa yang kukatakan tentang mencuri?”
“Mmm…” Feliciano meraih pai yang telah terkontaminasi tanah sambil pura-pura berpikir. “Bahwa itu tidak masalah asalkan sedikit-?—Aduh, Lovino, hentikan!”
Lovino menjewer dan menyeret Feliciano sambil mengabaikan rengekannya. “Aku tidak pernah mengatakan itu! Kau baru tujuh tahun dan kau sudah mencuri? Ibu akan marah!”
“Kau masih dua belas tahun dan kau sudah berceramah seperti wanita tua? Oh, Lovino, aku khawatir dengan masa denganmu—aduh, aduh, sakit!” Sindirian Feliciano mengundang jeweran yang semakin kuat.
“Kita memang miskin, namun itu bukan berarti kita boleh mencuri. Kau dengar itu? Walaupun kita miskin, setidaknya kita bermartabat,” ucap Lovino yang masih enggan untuk melihat wajah adiknya.
Feliciano menepis tangan kakaknya
dengan kasar. “Hei, apa salahnya mencuri? Mereka punya terlalu banyak dan
mereka menyia-nyiakannya. Lebih baik aku membantu mereka menghabiskannya.”
Kini Lovino berbalik sambil mengarahkan tatapan tajamnya pada Feliciano. Bukannya menunduk atau membuang muka, Feliciano membalasnya dengan tatapan yang sama sengitnya. “Mencuri itu dosa. Apa kamu mau benda milikmu direbut orang lain?” hardik Lovino.
“Dosa? Kau berbicara tentang dosa, Lovino?” Feliciano menyeringai sinis. “Tuhan bahkan tidak menyayangi kita.”
Wajah Lovino gelap saat ia mengucapkan, “Feliciano, aku tidak suka arah pembicaraanmu.”
“Kau tahu aku tidak salah!” bentak Feliciano. “Jika Tuhan mencintai kita, dia tidak akan membuat kita yatim piatu!”
“Siapa bilang kita yatim piatu?” bantah Lovino. “Apa kau melupakan Giorgio dan Francesca?”
Feliciano mengatupkan bibirnya sejenak sebelum berkata, “Giorgio bukan ayahku.”
Si bocah tahu topik tersebut berhasil membungkam kakaknya, namun tidak untuk waktu yang lama. Tatapan tajam Lovino mengendur dan bermetamorfosa menjadi sesuatu yang tak terbaca. Tatapannya hampa seperti hendak menangis, tetapi adiknya tahu bahwa si kakak sulung jauh lebih tegar.
“Setidaknya kita punya Francesca,” desisnya setelah sekian lama, seperti baru berhasil mengumpulkan kata-kata yang tepat. Kata-kata yang berantakan dan harus ia tata kembali tiap kali mereka membumbungkan topik yang sama, seperti perasaannya.
Ah, kalah telak. Sang kakak berhasil menemukan topik yang membungkamnya.
Memang sudah sepatutnya mereka menghalau masa lalu tak menyentak kembali ke permukaan.
“Bersyukurlah dengan apa yang kau punya sebelum semua itu diambil darimu.”
Feliciano merengut namunt tak menunjukkan intensi akan berdebat. Perutnya berbunyi begitu keras, membuatnya nyaris tertawa histeris kalau saja ia tak ingat ada Lovino yang sedang marah padanya. Jika ia mengotot bahwa perbuatannya benar, ia bisa mendapat hukuman dari Lovino. Hukuman yang selalu berbeda, tergantung intensitas kenakalan Feliciano.
Aih, menjelaskannya saja membuat Feliciano terlihat seperti kriminal cilik.
“Ayo, mari kita pulang. Ibu telah memasak untuk kita.” Kali ini tidak ada aksi menjewer atau menyeret, hanya langkah muram kakaknya yang berjalan menjauhi jejak adiknya.
Feliciano melirik painya kemudian mengunyahnya sebelum menyusul kepergian kakaknya.
‘Lovino sungguh rugi karena tak mau pai tersebut, padahal aku baru saja akan membaginya.’
.
.
.
I am a prisoner of life.
Contaminated by this strife.
With Death hanging by my side.
Contaminated by this strife.
With Death hanging by my side.
.
.
.
“Ibu!” Baru saja setengah kakinya
menginjak rumput di pekarangan rumah, Feliciano langsung berlari ke dalam
rumah, hampir terpeleset saat ingin berbelok ke dapur, dan menghambur ke
pelukan Francesca.
“Hai, anak-anak. Ibu sudah menyiapkan makan malam untuk kita.” Francesca menelusupkan jemari lentiknya ke rambut cokelat anak bungsunya yang berantakan.
“Kau adalah ibu terbaik yang pernah aku punya!” Jelas sekali dari gelagatnya, Feliciano hendak merayu ibunya agar ia diberi porsi yang lebih banyak, seperti malam-malam yang sebelumnya.
Lovino mendelik penuh sarkasme.
“Memangnya kau sudah punya berapa ibu?”
Sepasang lesung pipit muncul di pipi Francesca yang tertawa mendengar sindiran anak sulungnya. “Lovino, kemarilah, aku akan memelukmu juga.”
Lovino berdiri dengan kikuk di depan pintu. Wajah datarnya seolah tak membutuhkan sebuah pelukan, namun tangan Francesca yang memanggil meruntuhkan pertahanannya. Dengan gaya yang kaku Lovino berjalan pelan ke arah Francesca dan melingkarkan tangannya ke punggung Francesca dan adiknya. Tangan Lovino tak sampai ke ujung karena tubuh ibunya yang gemuk. Lelaki tersebut berusaha menahan nafas, namun bau tanaman yang segar dari tubuh ibunya membuainya.
Hangat, tapi aneh.
Sedikit rikuh, namun agak menyenangkan.
Tanpa sadar Lovino mengeratkan pelukannya.
Nikmatilah selama kau bisa, Lovino, tapi ketahuilah batasmu.
Lovino tersentak mendengar hatinya berdering, seakan ingin mengingatkannya agar tak terbuai. Ia langsung menarik diri dan menggaruk tengkuknya. Sebuah senyum simpul terukir di wajah Fransesca, seakan tidak sadar sikap canggung Lovino. “Aku telah menyiapkan sup tomat, apa kalian mau?”
‘Mau!” Feliciano melompat kegirangan. “Pasti enak—ve!”
Kikikan geli Francesca turut andil mengisi suara di ruangan. “Aku tahu itu hanya rayuan, tapi terima kasih, Feli.”
“Chigigi—Lovino! Jangan tarik jambulku!” protes Feliciano, sementara Lovino menyeringai jahil.
Namun ekspresinya kontan berubah saat Lovino menendang kakinya tepat di tulang kering. “Aduh! Feli!”
“Francesca, tak bisakah kau suruh mereka untuk diam?!”
Lovino dan Feliciano mengambil posisi tegak dan beku, menunduk dan melirik dengan perasaan yang mereka sendiri tak tahu apa namanya. Suara denting mangkuk dan sendok yang tengah disiapkan Francesca pun lenyap. Seolah ada mulut tak kasat mata yang menghisap kehangatan ruangan itu, atau tangan tak tak terlihat meraup keceriaan dari mereka. Musim panas dibanting menjadi musim dingin semudah membalikkan telapak tangan.
Sensasi takut yang spontan mencubit tubuh Lovino dan Feliciano, mengundang mereka untuk menggigil yang mereka berusaha keras sembunyikan.
Seorang pria paruh baya muncul dari tangga, dengan nafas yang berat sehingga terdengar seperti geraman. Guratan usia melukis wajahnya, berpadu dengan matanya tempat masa-masa kejayaan tatkala muda bermuara. Hidungnya mancung dan bengkok ke bawah. Bibirnya tertekuk, mempertontonkan deretan gigi yang tak rata. Sebuah botol anggur di tangan kanan ia teguk isinya bak minum air.
Francesca muncul dari dapur, berusaha terlihat tenang walau siapapun tahu semburat warna senja di pipinya sudah raib dicuri eksistensi pria di hadapannya. “Giogio, tenangkan dirimu.” ucap pendamping hidupnya yang nyaris putus asa—lima belas tahun pernikahan menyadarkannya bahwa tidak ada kata-kata yang cukup bagus untuk menghibur suaminya.
Atau pun tindakan.
“Tenang? Kau bilang tenang? Dua anak brengsek membuat kerusuhan di rumahku dan aku tak punya hak untuk menegur mereka?!” Giorgio meludah sembarangan dan mengelap mulutnya dengan punggung tangan dalam satu gerakan kasar. Diam-diam Feliciano menyembunyikan diri di balik tubuh abangnya. Sementara si sulung berdiri dengan dagu yang ia paksa untuk terus tegak, tak sadar bahwa jarinya memelintir ujung bajunya dengan erat.
Atmosfir menjadi intens. Pucuk perdebatan telah mekar tanpa ada yang memancing.
Walau mereka jauh dari konklusi, mereka sudah tahu siapa pemenangnya.
“Giorgio, jaga ucapanmu!” Lagi, terdengar sebongkah keputusasaan keluar dari tenggorokan Francesca.
Pandangan meremehkan Giorgio jatuh ke ujung ruangan, pada kedua anaknya yang merapat ke dinding. Sebuah tawa bercampur dengusan terdengar, mengundang kejijikan di dalam benak si dua bersaudara. “Cih. Aku mengadopsi mereka agar mereka bisa bekerja bagi kita, tapi nyatanya mereka hanya beban. Dasar anak tak berguna. Pantas saja mereka dibuang.”
Kedua mata cokelat istrinya membulat, tak percaya apa yang baru saja dia dengar. “Giogio!”
“Diam kau, Francesca! Kupukul kau nanti!” Tangan terancung ke atas namun tak sampai ke tujuan.
“Pengecut!”
Hening menang telak. Semua iris dengan berbagai warna tertuju pada bocah di pojok ruangan.
“Bangsat! Kau bukan ayahku!” maki Feliciano yang kalap, menjadikan saat itu sebagai momentum untuk memuntahkan isi hatinya.
“Feli, hentikan…” Susah payah Lovino menelan ludah akibat tenggorokan yang tercekat. Waktunya tidak tepat.
“Tidak! Aku tidak akan berhenti! Aku tak sudi punya bajingan seperti kau sebagai ayahku!” jerit adiknya semakin membabi buta. Sebuah kursi dilempar tepat ke sampingnya, pecah menjadi potongan kayu yang tak lagi utuh. Bunyi yang keras menciptakan suasana hening, hingga yang terdengar hanyalah deruan nafas ayah mereka. Dadanya naik turun dengan tidak menentu sementara sorot matanya penuh kebencian.
“Mati saja kau anak tak tahu diuntung! Kalau bukan karena kemurahanku, kau sudah mati di jalan!” Giorgio bergegas maju, memukuli Feliciano dengan balok kayu karena pecahnya kursi. Lovino merentangkan tubuhnya di tengah keduanya, namun tangan besar Giorgio mendorongnya hingga kepalanya terbentur dinding.
Francesca menahan tangan Giorgio, tetapi kalah kuat. “Giogio, emosinya sedang tidak stabil. Dia hanya anak-anak!”
“DIAM!” Satu sentakan dan tamparan yang keras membuat Francesca jatuh ke lantai. “Anak sundal! Mati saja kau! Kau tak pantas hidup!”
“Ayah, ayah!” Lovino merangkak dan memeluk kaki Giorgio, membuat si pria paruh baya terseok-seok. “Jangan pukul mama! Jangan pukul Feli!”
Persetan dengan harga diri, Lovino sudah terbiasa mengiba untuk hidup.
“Berengsek! Beraninya kau sentuh aku!” Wajah Lovino dipijak dan ditendang hingga ia mengaduh sambil memegangi wajahnya, meninggalkan jejak nyeri, panas dan sensasi terbakar. Sesuatu yang terasa seperti besi membuatnya meludah, yang ternyata adalah darahnya sendiri.
“Giorgio! GIORGIO! Pukul saja aku! Tinggalkan mereka!” Francesca bangkit dan memegangi tangan suaminya, yang hanya membuatnya menjadi korban dari hantaman balok kayu.
“Memuakkan!” Giorgio meludah dengan ekspresi wajah jijik yang kentara. “Anak jalang melahirkan jalang! Astaga, apa yang kupikirkan saat aku mengambil kalian?!”
“Ayaaah, jangaaan!” Kayu bertemu dengan lengan Lovino, terbelah dua setelah melukiskan warna biru-ungu. Serbuk kayu yang tajam tertancap di tangan, mengucurkan darah segar yang tak sedikit.
“Lovino, bawa adikmu ke kamar! Cepat!”
Spontan, Lovino menyeret adiknya yang berusaha keras tak bergeming, seakan ingin hendak mengadu siapa yang jauh lebih jantan dari ayahnya. Tetapi cengkeraman tangan kakaknya lebih kuat, terlalu kuat hingga ia hampir memuntir lengan adiknya. Mereka mengambil seribu langkah menjauhi orang tua mereka, masuk ke kamar dan mengunci pintu.
“Bangsat! Untuk apa kau membela sampah?! Anak seperti dia akan tumbuh besar jadi sampah!” menjadi kalimat terakhir yang mereka dengar malam tersebut.
.
.
.
Black tears were all I cried.
Anger was built in my blood,
This is what you made me.
.
Anger was built in my blood,
This is what you made me.
.
.
.
Suara jangkrik menjadi nina bobo yang
paling akrab, terlalu akrab hingga saat suara itu sirna, mereka merasa hampa.
Suara debat masih terdengar hangat, seakan waktu berhenti hanya sekedar untuk menonton
mereka. Suara hewan nokturnal terbukti tak terlalu efektif dalam meredam
kicauan Giorgo yang semakin larut semakin ganas.
Bahu kecil Feliciano gemetar. Kasur yang ia tiduri basah, dan Lovino tahu persis mengapa.
“Kau tidak seharusnya memanggilnya ayah.” Suara tarikan ingus terdengar. Jika ini dalam kondisi normal, Lovino pasti mengejeknya. Namun, pernahkah mereka sungguh-sungguh berada dalam kondisi normal?
Lovino meluncur ke masa lalu, dan sadar bahwa jawabannya adalah tidak.
Mereka berusaha mencuri kesempatan untuk berpura-pura menjadi anak yang bahagia, namun itu hanya jika Giorgio tak ada di rumah. Hanya jika mereka menutup mata akan anak borju yang mengenakan kain lenan dan sandal dari kulit binatang. Hanya jika mereka mengabaikan cacian, makian, atau hinaan menjadi rakyat jelata.
Seumur hidupnya, mereka menanti roda kehidupan untuk mengangkat mereka ke status sosial yang lebih tinggi. Tetapi semakin hari semua terasa semakin hambar. Takdir seolah menciptakan mereka khusus untuk menjadi golongan yang bergumul di dalam debu, menunggu di sudut sambil menghitung asa.
“Apa aku terlihat seperti punya pilihan lain?” Hanya itu jawaban yang bisa Lovino tawarkan.
Adiknya tidak menjawab. Mungkin terlalu lelah melihat ketololan saudaranya. Atau mungkin dia ingin lekas ke dunia mimpi dimana semua yang ajaib telah menunggu. Atau mungkin bibirnya sudah tahu diri—percuma berdebat, tak akan mengubah nasib.
Sesekali terdengar adiknya meringis, menahan nyeri di sekujur tubuh. Juga suara paduan suara kaca yang pecah dan logam yang terbanting di ruang keluarga. Tangisan dan jeritan jadi satu, hingga Lovino mampu tak bisa membedakan.
Sang remaja mendekap dirinya, berharap usahanya cukup untuk menghalau dingin. Menahan gemertak gigi akibat hawa malam yang tak bersahabat. Mencoba terlelap walau benak berjuang melawan dingin yang bersemayam di dalam hati.
Ibu, maafkan aku. Dalam satu gerakan lamah, punggung tangan Lovino mengusap air mata yang menetes. Memori mengharubirukan dadanya, tatkala ia teringat perjuangan yang Francesca tempuh hanya untuk dia dan adiknya.
Tuhan, ampuni aku karena tak mampu membantu ibuku.
Ampuni juga, karena aku tak bisa memaafkan Giorgio.
.
.
.
These
chains will one day break.
You is all I will seek.
Like a snake I will slither.
Once you sleep I will smother.
You is all I will seek.
Like a snake I will slither.
Once you sleep I will smother.
.
.
.
Suara kasur yang bergerak membangunkan
Lovino. Matanya mengerjap, namun tubuhnya tak bergerak lantaran terlalu letih.
Gelapnya malam masih menggelayut di cakrawala, dan mereka tak punya penerangan
di dalam kamar. Ia hanya mampu melihat dari sudut matanya pemandangan adiknya
yang tengah duduk. Jemarinya saling tertaut, dan dari bibirnya keluarlah
kalimat demi kalimat, “Tuhan, namaku Feliciano. Umurku tujuh tahun. Orang tuaku
telah membuangku dan abangku, jadi kami tinggal dengan Francesca dan Giorgio.
Francesca sungguh baik, aku sayang dia. Tapi Giorgio jahat. Dia selalu mabuk
dan memukuli kami.”
“Tuhan, kata abangku kau ada. Aku percaya abangku, karena dia tak pernah bohong. Tapi Tuhan, kalau Kau benar ada, kenapa kau biarkan Giorgio berlaku kejam pada kami?”
“Tuhan, abangku juga bilang kalau kau menyayangi kami. Jika ya, Tuhan, tolong bunuh Giorgio. Amin.”
Tanpa sadar Lovino menahan nafas, bahkan saat Feliciano mengempaskan tubuhnya di samping kakaknya dan kembali mendengkur. Setelah yakin adiknya terlelap, ia mengulurkan tangan dan mempertemukan jarinya dengan rambut adiknya yang kusut. Saat ia lelah mengusap, ia memeluk Feliciano dan membenamkan wajahnya di lehernya.
Amin, adikku. Lovino mengatupkan kedua kelopaknya. Amin.
.
.
.
In my pocket I reached,
Grabbed the knife you once tried
But unlike you, I will not fail.
.
Grabbed the knife you once tried
But unlike you, I will not fail.
.
.
.
“Bangun, sayang, sudah pagi.”
Tubuh Lovino diguncang pelan, begitu juga tubuh mungil yang ada di dalam pelukannya. Sontak Lovino duduk dan mengusap matanya yang penuh kotoran di ujungnya, sementara adiknya menguap dan merentangkan kedua tangannya.
“Bagaimana tidur kalian, anak-anak?” Francesca menampilkan senyum yang bersahaja. “Nyenyak?”
Semua tahu itu hanya pertanyaan
retoris, namun mata Feliciano berbinar dan kepalanya mengangguk dengan antusias.
“Aku ingat aku bermimpi bermain dengan peri.”
“Peri itu tidak nyata, Feli,” cibir Lovino.
Saudara kandungnya mendelik. “Mereka nyata! Kau hanya belum pernah melihatnya!”
“Memangnya kau sudah?” goda kakaknya, dan dijawab dengan anggukan yang mantap dari adiknya.
“Di mana? Di mimpimu semalam? Oh, aku terkesan.”
“Peri itu nyata atau tidak nyata tergantung bagaimana kita melihatnya, sayang,” sela Francesca yang melihat Feliciano sudah mengambil ancang-ancang untuk menerkam kakaknya. Lovino memberi tatapan mengejek, yang dibalas dengan Feliciano menjulurkan lidah. Francesca pun memeluk mereka berdua, membenamkan mereka ke dalam kehangatan yang hanya bisa di dapat dari seorang ibu.
Lovino terkesan melihat bagaimana ibunya bisa membuat pagi hari terasa menyenangkan.
“Aku telah menyiapkan sarapan,” Ibunya menarik diri dan menatap kedua anaknya bergantian dengan penuh kasih. “Giorgio pergi entah kemana tadi pagi. Tapi setelah makan kita harus bersiap-siap dan pergi sebelum dia datang. Kita akan berjalan-jalan sebentar, bagaimana?”
“Benarkah? Asyik!” Feliciano melompat kegirangan dan mempertontonkan tarian yang aneh, dengan bokongnya menjadi pusat perhatian. Lovino ingin sekali memeluk adiknya karena gemas, namun ia sadar ibunya tak tertawa dan melihat ke arah mereka dengan pandangan kosong. Lovino mengikuti arah tatapan ibunya, dan sadar apa pusat perhatian ibunya.
Francesca melihat memar yang masih nyalang menodai lengan dan kaki Feliciano.
Menyadari bahwa ia tak digubris, Feliciano pun bertanya, “Ibu, kenapa? Ibu tak suka lagi tarianku?”
Ibunya menggeleng, dan tiba-tiba air
mata mengalir dengan deras menciptakan ceruk di pipinya, “Bukan begitu, sayang.
Aku selalu senang melihat kalian. Ibu hanya… hanya…”
“Ibu, jangan menangis.” Feliciano mengusap jejak air mata yang tercetak di sisi hidung ibunya. “Aku menyayangimu.”
“Ibu juga sayang sekali pada kalian. Maafkan ibu ya, sayang, maafkan ibu…” Tangan besar Francesca meraih Feliciano ke dalam dekapannya, dan mengusap punggungnya dengan pelan. Sementara Lovino hanya membeku di tempat, tak sadar jarinya menghujam telapaknya karena tangannya terkepal. Sebuah amarah muncul entah dari mana, menggelegak di dalam sanubarinya.
Ini semua karena Giorgio. Murka mulai merasuki hatinya. Dia lebih dari pantas untuk menjemput maut.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Lovino mengerti makna dari menyimpan dendam.
.
.
.
A
sharp pain opened your eyes.
You gave a look of surprise.
Look at me now daddy.
Aren't you happy?
You gave a look of surprise.
Look at me now daddy.
Aren't you happy?
.
.
.
During
your last breath
I grabbed the key.
I grabbed the key.
.
.
.
I am finally free.
I am finally free.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
A/N:
Reviews are appreciated.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”