#30 If Only You Know I'm Worthless (Incomplete)
If Only You Know I'm Worthless
An Ibitsu no Kakera fan fiction written by Asha D
Words: 531
A/N: This story is incomplete so I might add something to it in the future.
.
.
.
Aku terlahir sebagai bayi yang rapuh, kurus dan selalu terlihat letih. Seakan beban dunia ditumpukan pada kedua bahuku yang kecil, walau itu benar adanya. Nyaris tak pernah menangis, dan kalaupun iya, aku melakukannya sesenyap mungkin. Hampir tak pernah tersenyum, karena hanya akan menghabiskan energiku yang berharga. Sikap perfeksionis yang mendarah daging di dalam ayahku, mengalir di dalam darahku. Berkat takdir, kutukan sebagai kakak sulung menjadi sebuah titah yang tak terelakkan. Aku harus menjadi dan melebihi segala-galanya. Aku diberi nama Takumi.
Semua mata yang melihatku akan memuji nilaiku yang tak pernah di bawah sembilan, kesantunanku yang melebihi ekspektasi, atau parasku yang setampan ayahku. Kalau sudah begitu, kedua orangtuaku akan tersenyum lebar, dan aku tak pernah merasa lebih bahagia. Hanya saja pujian itu bak pedang bermata dua; orangtuaku akan menetapkan lebih banyak peraturan, standar yang lebih tinggi dan sanksi yang lebih berat.Lalu muncul adikku. Si manis, ceria, dan ramah Misaki. Dari awal kehamilan ibuku, aku sudah tahu dia hanya akan menjadi batu sandungan. Dan prediksiku benar adanya. Sejak kehadirannya tak pernah lagi kudengar pujian dari kerabat orang tua, karena mata mereka telah lebih dahulu tertuju pada Misaki. Kata-kata manis untuk adikku dengan mulus terlontar dari bibir mereka, bibir yang dulunya mereka pakai untuk menyanjungku. Sensasi yang aneh menggerayangi tubuhku, namun aku masih terlalu kecil untuk menyadarinya. Belakangan aku menyadarinya sebagai perpaduan rasa jijik, marah dan benci.
Aku menghabiskan waktuku menenggelamkan diri dalam pelajaran. Sedapat mungkin aku menghindari konversasi dengan Misaki dan mencari muka di depan orangtuaku. Namun usaha demi usaha yang kurajut terhempas hanya saat Misaki mencapai sesuatu yang sedikit lebih baik dari padaku. Jika sudah begini, maka babak pertama drama akan dimulai. Ayah akan mencampakkan kertas ulanganku dan menceramahiku. Namun rasa sakit yang sesungguhnya baru terkuak saat ayah membandingkanku dengan Misaki. Setiap kalimat terasa blur dan tidak nyata. Satu-satunya yang bisa membuatku yakin bahwa semua ini nyata adalah keberadaan luka yang menganga di hatiku. Ayah akan menyebut nama sekolah terkenal yang belum pernah kulihat, lalu memerintahkanku untuk menjadi salah satu siswanya. Sedangkan aku hanya akan diam tanpa respon, bagai klimaks yang menunggu konklusi.
Sayang, hingga pertunjukan berakhir, yang biasa ditutup dengan raut murka ayahku, aku tak kunjung mendapat resolusi. Ataupun kesempatan untuk bersuara.
Aku tumbuh dengan sebuah keyakinan bahwa, walaupun Misaki hanya duduk diam pun, dia tetap akan menjadi raja di hati setiap orang. Aku belajar menjadi buta sejak dia bertumbuh semakin baik, pintar dan tampan. Aku belajar menjadi mati rasa sejak kegemilangannya menjadi mimpi burukku. Aku belajar menjadi tuli sejak orang-orang mulai menganggapnya sebagai kakak sulungku, bukan sebaliknya. Hanya saja semua tanggung jawab tetap aku yang mengemban. Seolah Misaki mengambil semua kebanggaan, sementara aku yang menjadi hamba di balik layar. Seakan dialah matahari yang telah lama ditunggu, sementara aku hanyalah hujan yang menganggu.
Tetapi suatu hari, takdir berbaik hati memberiku kesempatan untuk memutar balik keadaan.
Aku tumbuh dengan sebuah keyakinan bahwa, walaupun Misaki hanya duduk diam pun, dia tetap akan menjadi raja di hati setiap orang. Aku belajar menjadi buta sejak dia bertumbuh semakin baik, pintar dan tampan. Aku belajar menjadi mati rasa sejak kegemilangannya menjadi mimpi burukku. Aku belajar menjadi tuli sejak orang-orang mulai menganggapnya sebagai kakak sulungku, bukan sebaliknya. Hanya saja semua tanggung jawab tetap aku yang mengemban. Seolah Misaki mengambil semua kebanggaan, sementara aku yang menjadi hamba di balik layar. Seakan dialah matahari yang telah lama ditunggu, sementara aku hanyalah hujan yang menganggu.
Tetapi suatu hari, takdir berbaik hati memberiku kesempatan untuk memutar balik keadaan.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”