#29 A Beautiful Mess (Incomplete)

 A Beautiful Mess
An original fiction made by Asha D
Words: 1053
A/N: This story is incomplete so I might add something in the future.
.
.
.

“Sejak kapan kau mencintaiku?”
 
“Mengapa kau mencintaiku?”
 
“Akankah kau tetap mencintaiku jika…”
Itu adalah sekian pertanyaan klise yang sering menguar di udara saat kita remaja, saat kisah terjalin usai sebuah perbincangan yang menjurus pada pernyataan cinta. Ironisnya semakin banyak tangga usia yang kau injak, semakin pertanyaan tersebut buram dan lekang oleh waktu. Salahkan rasionalitas. Salahkan logika. Salahkan realitas yang menyergapmu hingga kau nyaris demensia.
 
Namun benarkah pertanyaan ini telah menyatu menjadi seribu pertanyaan lain yang orang tua kita tak jawab saat kita kecil? Ataukah pertanyaan ini hanya luput, karena mata kita telah lelah untuk mencari dengan jeli?
“Kau menulis cerita baru?” Bunyi keyboard yang monoton akhirnya bertemu jeda. Bukan karena sang pencipta bunyi hendak merespon suara pria yang berdiri di ambang pintu, melainkan karena tangannya hendak meraih kopi. Kafein selalu berhasil membayar semua jerih payahnya yang terbalut dalam kantuk dan punggung yang pegal.


“Yep.” Bibir Anastasia melengkung. Simpul, singkat, tak banyak makna. Rambut merah yang bergelung asal di atas lehernya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. Bunyi gelas bertemu dengan meja kayu terdengar. Peter dengan rambut pirang bermodel klimis menghampiri, memegang kedua pundak Anastasia dan meremasnya. Kepalanya maju untuk melihat tulisan kecil yang tercetak di lembaran putih Microsoft Word.
“Memento Mori, huh?” Suara bariton mengisi gendang telinga Anastasia. Jarak yang tak aksa membuat pipi Anastasia terhembus nafas wangi pria tersebut. “Judul ceritamu cukup depresif.”
“Well, pihak penerbit menginginkan aku membuat sesuatu yang ‘berbeda’. Mereka bilang para pembaca tak henti-hentinya memintaku untuk menulis cerita bertema remaja dengan pria yang lebih tua. Tapi isinya tetap sama, gadis normal, pria tampan, kisah cinta yang rumit. Ah, aku tidak mengerti tipikal remaja zaman sekarang.”
“Para pembacamu mengira kau mengerti mereka.”
“Ralat. Mereka mengira ceritaku yang mengerti mereka.” “Banyak pembaca yang mengira aku sebaya dengan mereka. Enak saja. Kalau mereka tahu mereka berhadapan dengan wanita yang lebih tua, aku yakin gaya berbicara mereka di e-mail akan berubah total.”
“Terlalu pagi untuk menjadi uring-uringan, gadisku.” “Kau harus banyak beristirahat. Aku sudah menyusun surat di kotak posmu sesuai prioritas. Ah, aku juga sudah menyiapkan sarapan untukmu.”
“Terima kasih, Peter. Apa jadinya aku tanpa dirimu?”
“Menjadi novelis chick-lit yang barbar? Entahlah.”
“Peter, aku tidak tahu kemana saja kau selama ini, tapi aku memang novelis chick-lit yang barbar.”
“Apa tadi kubilang barbar? Maksudku, ‘sangat barbar’, melihat ada tikus busuk di ujung dapurmu.”
“Oh, astaga, pantas saja selama ini aku merasa diriku tak pernah sendirian.” Anastasia menampilkan cengiran ringan, yang disambut dengan gelengan kepala Peter.
“Aku sudah membuang mayat teman sekamarmu, juga sampahmu. Tikus yang malang, pasti sulit hidup bersama wanita sepertimu. Aku tidak tahu mana yang lebih sulit, masuk ke dunia orang mati atau tinggal dengan wanita eksentrik.”
“Well, aku menyewa apartemen ini, jadi tikus itu sebaiknya bersyukur aku berbaik hati berbagi wilayah dengannya sebelum aku menendang bokongnya dan menyerahkannya pada kucing jalanan.”
Peter mengangkat sebelah bahunya. “Good thing it was dead.”
Asap rokok yang membumbung mewarnai kertas dinding yang ujungnya telah terkelupas. “Peter, tidakkah kau pikir posisi kita terbalik? Kau begitu lemah lembut dan anggun, aku tidak. Kau harusnya menjadi seorang ibu.”
“Aku lebih suka jika kau yang menjadi ibu.”
“Aku pergi dulu, sayang. Aku akan kembali sepulang kerja seperti biasa.”
“Okay, bye.”
Semakin jauh waktu bergulir melangkahi kita, semakin mudah kita terpesona oleh hal-hal kecil yang selama ini kita lewatkan.
Kau tidak seperti itu? Well, aku iya. Screw you.
AAA

Peter Williams is that kind of perfect guy.
Kau tahu, tipe pria yang melakukan segalanya dengan benar. Ia bahkan membuat kesalahan dengan benar--ukh, aku tahu istilah itu tidak ada tapi ayolah, kau mengerti maksudku. Ia anggun untuk seorang pria--aku tak tahu kata apa yang tepat untuk mendefinisikannya, bisa tolong bantu aku?--tapi tak ada yang pernah menilainya metroseks atau homoseks.
Ia bukan bintang, melainkan matahari; semua orang mengitarinya, literally. Mulai dari atasan, rekan kerja, penjual hotdog di depan kantornya, pemilik kios koran di dekat apartemennya, penjaga loket karcis di bioskop yang rutin dikunjunginya seminggu sekali, you named it, he got it. Tiap insan memujanya dengan pandangan yang jelas sekali memancarkan kekaguman.
Yuck.

Tunggu sebentar, bukankah matahari juga bintang? Aish.
Intinya, dia adalah tipe pria yang paling tidak aku sukai di dunia ini. Oh come on, don’t you hate people like that, too? It’s so Gary-Stu. Memangnya dia apa, boneka Ken? Tapi entah kenapa ada sesuatu di dalam dirinya yang memecah stereotip yang selama ini kupegang dengan teguh. Umumnya kebaikan yang berlebihan membuatku jijik namun sikap formalnya sama sekali tidak membuatku muak. Mendekati pun tidak.
Ada sesuatu yang salah dengan dia… dan aku.
Aku tidak akan terkejut jika suatu hari ia mengaku bahwa ia ahli waris sebuah kerajaan kecil di Monako atau dia masih perjaka-he’s a good kisser, though. Aku pernah menanyainya saat kami menyantap yogurt sambil menonton stand-up comedy di flat yang kusewa. Ia hanya tertawa, entah karena si komedian di televisi, pertanyaanku atau perpaduan keduanya.
Aku terus menunggu sampai malam mengatupkan kelopak matanya.
Ia tak kunjung memberikan jawabannya.
Jadi aku tak pernah bertanya lagi.
Hanya saja aku punya firasat bahwa enigma yang ia simpan adalah poros yang membuat hidupnya tetap stabil. Seolah tubuhnya akan retak dan jatuh berserakan jika seseorang merebut keystone miliknya. Seakan jika ia membocorkannya, maka dirinya akan ikut lebur bersama rahasianya yang telah terkuak.
Dan hidupnya tak akan pernah bisa sama lagi.
Astaga, dari mana perumpaan itu muncul. Kurasa telenovela Spanyol yang kutonton kemarin malam membuatku sedikit melodramatis. Salahkan saja Enrico yang meninggalkan Isabella demi si penyihir Catarina. Cuih.
Meskipun begitu, tatapan yang polos dan sikapnya yang naif membuatku bertanya bagaimana ia bisa bertahan sejauh ini di dunia yang liar. Is he some kind of two-faced manipulative jerk? Ups, aku rasa aku terlalu berlebihan.
Yang jelas, dia aneh.
Tapi kurasa aku lebih aneh lagi karena setuju menjadi kekasihnya.
Well, a little adventure won’t hurt, don’t you think? ‘Cause curiosity kill the fat black cat.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.