#28 The Second Handed Memories Chapter 1 (Incomplete)
The Second-handed Memories
An original fiction written by ashadebora
Words: 406
Chapter 1 (Incomplete)
A/N: This chapter is incomplete so I might add something to this story in the future.
.
.
.
Troye terbangun dengan kepala yang berdenging, seakan sebuah palu raksasa menghantam tengkoraknya. Ia terlalu pusing untuk mengeluh, ia bahkan terkejut melihat dirinya mampu membuka mata. Kelopaknya mengerjap-ngerjap, berusaha menyelaraskan penglihatannya dengan intensitas cahaya. Sepintas semua terlihat putih, sebelum wajah seorang wanita memblokir pandangannya.
"Troye?" Suaranya pelan dan basah seperti rumput di pagi musim semi. "Kau tidak apa-apa?"
Yang dipanggil hanya diam, tak mampu mengatakan apapun. Tenggorokannya terasa kering dan perih, seolah seseorang memaksanya untuk menelan kemarau. Ruangan terlihat berputar, membuat Troye memutuskan untuk kembali menutup matanya. Walau begitu ia dapat menangkap suara derap kaki dan pintu yang terbuka, lanjut seruan wanita tadi, "Ma, Troye sudah sadar!"
Pemuda tersebut merasa kepalanya kosong, terlalu kosong hingga rasanya itu menakutkan. Seperti ada yang mencabut memorinya secara paksa tanpa berniat untuk menambalnya kembali. Setiap kali ia berusaha mengakses kenangan, otaknya seperti diperas, membuatnya mengerang dalam hati. Ia bahkan terlalu lelah untuk bertanya apa yang terjadi pada dirinya, dimanakah ia dan siapa perempuan yang tadi memanggilnya.
Sebuah tangan yang hangat dan lembut menggenggam tangannya, memicu dirinya untuk merasa terperanjat. Ia tak mampu merespon karena seluruh tubuhnya terasa berat dan kaku. Kepalanya seperti dijejali kapas, sehingga ia tak mampu mengingat siapa yang punya tangan seperti itu. Walau begitu tak dapat dipungkiri, ada sesuatu yang terasa familiar tentangnya.
"Troye, ini mama. Kau baik-baik saja?" Troye tahu seseorang menciumi punggung tangannya dan mengusapnya. Ia ingin membalas dengan pertanyaan konyol seperti, "Siapa kau?" tapi bahkan untuk menggerakkan jarinya saja terasa sakit. Ia memutuskan untuk menyerah dan mengizinkan gendang telinganya menangkap suara orang-orang yang tak dikenalnya.
Muncul suara yang tak familiar; berat, rendah, dan serak. Hanya saja ada sesuatu tentang suara tersebut yang membuat Troye tak menyukainya. "Dia masih belum pulih sepenuhnya, Janice. Bersabarlah."
Suara helaan nafas mengisi hening yang mencengkeram--itu jika suara air conditioner berderak dan obrolan orang asing yang terdengar dari kejauhan tak dihitung. Sensasi basah menyergap tangan pemuda tersebut, membuat kulitnya meremang. Troye mengenali itu sebagai air mata, walau ia tak bisa menebak milik siapa air mata tersebut.
Seseorang mengusap rambutnya dengan lembut, kemudian mengecup keningnya. Tak lama kemudian mereka mengubah topik, tentang hal-hal yang terdengar biasa bagi mereka namun aneh baginya. Troye menajamkan telinganya, dan mendengar sesekali namanya disebut, namun hanya itu yang ia dapat. Mereka berbisik seperti sesuatu yang buruk akan terjadi jika ada yang mencuri dengar konversasi mereka. Tanpa satupun sadari, hal itu membuat jantung Troye berdebar. Ketakutan tercipta di dalam benaknya, seakan sesuatu yang buruk tengah mencari celah untuk menerkamnya.
.
.
.
A/N: I'm so confused what to write next.
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”