#27 Peti Kenangan


Peti Kenangan
A Perahu Kertas fan fiction
Written by ashadebora
A/N: Unbeta. Young!Kugy and Young!Keenan. Inspired by one of Line Webtoon, Aisopos.
.
.
"Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan bernama Vegeta, hiduplah raja Jagung. Istrinya telah lama meninggal dunia dan ia memutuskan untuk tak pernah menikah lagi. Ia seorang putri tunggal bernama Putri Buncis, yang cantik dan bersuara merdu. Kemahsyurannya sampai ke kerajaan seberang. Setiap hari selalu saja ada yang melamarnya, namun semua ditolaknya tanpa alasan yang jelas."

"Suatu hari ada seorang badut bernama Badut Tomat Ia datang untuk mengadakan sirkus di Kerajaan Vegeta, namun sayang tak ada yang berniat menonton sirkusnya. Semua warga terlalu sibuk menyambut kedatangan Pangeran Bayam. Ia terlihat hijau, segar, dan tegap, berbeda dengan Tomat yang merah, bulat, dan sering oleng saat berjalan. Tiap gadis di kerajaan Vegeta nyaris pingsan saat melihat mereka--tentu karena alasan yang berbeda. Pangeran Bayam adalah pewaris kerajaan Artichoke, sebuah kerajaan yang kaya dan makmur. Sungguh bertolak belakang dengan Badut Wortel, yang adalah anak tunggal dari pasangan miskin di pinggiran desa Greenie."

"Karena penasaran, Badut Tomat pun mengikuti konvoi yang mengiringi Pangeran Bayam, dan mengetahui bahwa Pangeran Bayam datang untuk melamar Putri Buncis. Saat Pangeran Bayam memasuki istana, Badut Tomat menyelinap ke dalam istana."

"Saat ia menyaksikan sendiri betapa ayu paras Putri Buncis, ia terpesona dan menjatuhkan hatinya pada seorang perempuan, untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya."


"Kugy, waktunya makan..." Tiba-tiba Kevin muncul dari ambang pintu. Spontan perempuan cilik yang dipanggil sebagai Kugy memungut kertas-kertas yang berserakan di atas mejanya, lalu menyembunyikannya ke dalam peti di mejanya. Sebelah alis Kevin terangkat, kentara sekali bahwa ia penuh kecurigaan. "Kamu lagi apa?"

Kugy cilik memutuskan untuk berbohong, "Mmm... buat PR." Sebuah cengiran ia harap dapat menghapus kewaspadaan kakaknya, namun harapannya sia-sia. Kakak lelaki yang hanya terpaut tiga tahun darinya itu berjalan mendekat, dan Kugy secara refleks menghalangi petinya dari pandangan Kevin. "Oh ya? Terus kenapa dimasukkan ke dalam peti?"

"Ini... kata ibu guru ini tugas rahasia, kak. Hanya aku dan ibu guru yang boleh lihat. Serius." Kugy mengacungkan dua jarinya sebagai simbol 'peace', gestur yang ia pelajari dari kakak sulungnya, Karina.
"Sini, kakak mau lihat. Ibu guru tidak di sini, bilang saja pada ibu guru kalau tidak ada yang pernah baca. Dia pasti tidak akan tahu." Kevin hendak merampas barang yang ada di belakang Kugy, namun gagal karena Kugy telah lebih dulu memegangnya dengan erat.

"Tidak mau!" seru Kugy.

"Ayo, sini!" bentak Kevin, tak mau kalah.

"MAMA, KAK KEVIN USIL!" Kugy kecil mulai merengek dan menendang-nendang kakaknya, walau jelas tenaganya kalah kuat dibanding Kevin.

"KEVIN!" Teriakan mama dari ruang dapur menjadi pemutus pertengkaran mereka. Kugy tahu Kevin tak akan berani melawan mama, karena jika ya maka uang jajannya terancam akan dikurangi. Kalau sudah begitu Kevin tentu tak akan mampu membeli kartu permainan yang disukainya.

Kevin merengut, namun tak membantah mamanya. Sebaliknya ia mengancam adik kecilnya, "Awas kamu!"

Kugy menjulurkan lidahnya, menunjukkan betapa ia tak peduli akan gertak sambal kakaknya. Ia tahu Kevin tak akan berani mewujudkan apapun yang ia ucapkan. Kevin pun berjalan pergi dan membanting pintu kamarnya, sementara Kugy mengunci gembok petinya. Lalu ia membuka lemarinya dan menyembunyikan petinya di bawah tumpukan baju.

"Kak Kevin pasti tak akan bisa menemukan peti ini." pikir Kugy cilik, merasa puas dan bangga dengan pencapaiannya.

"Kugy, ayo makan!" Panggilan kak Karina menyadarkan Kugy. Ia pun tersadar bahwa sedari tadi perutnya keroncongan, namun terlupakan karena ia terlalu asik menulis kisah barunya.

"Iya kak, aku datang!" Untuk sejenak, Kugy dapat meninggalkan Putri Buncis, Pangeran Bayam dan Badut Tomat.

AAA

"Keisya, kenapa sayurnya tidak dimakan?" Mama memerhatikan adik bungsu Kugy dengan raut wajah cemas. Yang ditanya hanya merengut sambil mengayunkan kakinya yang belum menapak lantai. Untuk beberapa saat ia hanya memainkan sendok dan garpunya, tapi tak benar-benar menyentuh makanannya.

"Keisya tidak suka, ma," keluh Keisya dengan nada manja.

"Kalau tidak makan sayur, nanti kamu jadi jelek," goda Kevin, yang langsung disikut oleh Karina. Kevin mengomel tapi tak berani membantah saat ia melihat kakaknya melotot.

"Kamu harus makan sayur, sayang, supaya bisa sehat." Mama menyendokkan sesuap nasi dan wortel kepada Keisya. Keisya mau tak mau melahapnya, yang kemudian langsung meneguk air.

"Oh ya, papa ada pengumuman penting," ucap mama sambil menyendok nasi dan brokoli. Keisya merengut tak suka, tapi tak menolak saat mama menyuapinya. Semua mata memandng papa, yang mengangguk dan tersenyum. "Anak-anak, bulan depan kita akan pindah ke Jakarta. Papa punya pekerjaan di sana."

"Asik!" Kevin melonjak di tempat ia duduk, yang membuat piringnya hampir terjatuh kalau saja tak ditahan oleh Karina. "Aku bisa beli banyak mainan!"

"Mulai sekarang kalian bisa buat daftar barang yang dibawa dan yang ditinggalkan. Karena kita tidak bisa membawa semuanya," tutur papa.

"Berarti Kak Kevin tidak bisa bawa semua mainannya!" celetuk Keisya, yang membuat Karina dan Kugy menyeringai puas. Kevin cemberut saat mendengarnya, sebelum akhirnya berubah sumringah. "Aku bisa beli yang baru, yang lebih banyak dan keren!" Kevin membusungkan dada dan menepuknya.
Sontak mata Kugy berbinar. "Berarti aku juga bisa beli lebih banyak buku dongeng."

"Kalau sudah selesai makan, jangan lupa cuci piring, ya. Lalu sikat gigi dan berdoa sebelum tidur." Piring Keisya yang tadinya setengah penuh kini telah kosong. Kugy curiga Keisya tak ingin makan sayur bukan karena ia tak menyukainya, namun karena ia ingin mama memerhatikannya.

"Iya ma." Semua menjawab, nyaris serentak. Setelah papa beranjak dari meja makan, barulah mereka membawa piring mereka masing-masing ke wastafel dan mencucinya secara bergiliran. Tentunya diwarnai dengan perdebatan dan adu mulut antar saudara.

AAA

"Pangeran Bayam pun berlutut di hadapan raja Jagung dan mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Putri Buncis sebagai istrinya. Semua pegawai istana mengira bahwa Putri Buncis pastilah menerima lamaran Pangeran Bayam. Raja Jagung cemas, jika Putri Buncis menolak, maka akan pecah perang karena watak Pangeran Bayam yang cepat gusar. Maka ia pun meyakinkan Putri Buncis untuk mengiyakan. Putri Buncis merasa enggan, namun ia tak tega melihat ayahnya yang sudah tua. Karenanya ia pun memutuskan untuk menyetujui ajakan Pangeran Bayam."

"Selama sebulan Putri Buncis dilayani dengan makanan lezat, pakaian yang mahal dan pijatan dari minyak yang harum. Semua orang, baik dari kerajaan Vegeta maupun Greenie, menantikan pernikahan kedua calon mempelai dengan antusias. Hanya saja tak ada yang tahu mengapa Putri Buncis tak lagi terlihat secantik dulu. Seolah ada yang menghisap sinarnya, menjadikannya matahari yang sinarnya telah redup."

"Kugy, sudah waktunya untuk tidur!" Suara papa terdengar di sela-sela komentator sepak bola yang berasal dari televisi. Kugy mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu mejanya. Seolah tak ada gangguan apapun, ia kembali melanjutkan dongeng yang ia rajut.

"Sementara itu Badut Tomat tetap menjalankan sirkusnya tanpa kenal lelah, dan ia menjadi tenar. Semua orang terhibur bukan karena lelucon atau guyonan, melainkan karena wajahnya yang buruk rupa. Suatu hari, tersiarlah kabar bahwa Putri Buncis diserang depresi. Raja pun mengutus pengawal untuk memanggil Badut Tomat."

"Badut Tomat datang menghadap Putri Buncis, dan kembali merasa debaran di jantungnya seperti yang dulu ia pernah rasakan. Setiap hari ia selalu menghibur Putri Buncis dan membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka pun mengucap janji, bahwa Badut Tomat akan selalu ada untuk membuat Putri Buncis bahagia. Dan siapa sangka, Putri Buncis pun jatuh cinta pada Badut Tomat."

"Dan sehari sebelum pernikahan berlangsung, mereka memutuskan untuk kabur."
Tiba-tiba Kugy mendengar suara derap kaki yang mendekat. Dengan cepat ia mematikan lampu kamarnya, melompat ke tempat tidur dan menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Tak lama kemudian suara pintu yang berderak saat dibuka terdengar. Cahaya mengintip dari celah yang tercipta, dan Kugy menahan napasnya. Tak lama kemudian pintu kembali ditutup.

Dan Kugy pun memutuskan untuk mengunjungi dunia mimpi.

AAA

"Mama..." Kugy berjalan mengitari kamarnya dengan cepat dan gelisah. Ia masih mengenakan seragam sekolah dasar, bahkan kaos kakinya baru lepas sebelah. "Mama!"

"Ada apa?" Mama berjalan tergopoh-gopoh dari dapur, tak mengerti mengapa ia mendapati ekspresi wajah Kugy kusut.

"Mama lihat tidak petiku? Yang eyang beli untuk aku tahun lalu?" tanya Kugy tanpa memandang kepada mamanya, karena terlalu konsentrasi mencari barang kesayangan miliknya. Mamanya bersandar di ambang pintu dan bersedekap, terlihat sedang berpikir.

"Oh, tadi saat packing mama buang, sayang. Mama kira karena kamu tidak butuh karena kamu taruh di pojok lemari."

"Apa?!" Kugy melotot karena kaget. "Mama buang kemana?"

"Ke tempat sampah di depan rumah--Kugy, kamu mau kemana?"

"Ambil peti!" teriak Kugy sambil berlari keluar, seakan itu hal normal yang selalu ia lakukan. Betapa terkejutnya ia saat ia mendapati pemulung telah membawa pergi petinya.

"Om! Tunggu saya, om! Aduh, om!"

Jarak yang terpaut jauh membuat sang pemulung tak menangkap teriakan Kugy. Rumahnya berada tepat di sisi jalan raya, sehingga yang terdengar hanyalah suara klakson dan makian para pengendara. Apalagi di siang terik yang ramai dengan pengendara jalan. Kugy berusaha keras memperlaju larinya, namun usahanya tak membantu banyak. Hanya saja ia tetap bersikeras menyelamatkan puluhan naskah yang ia susun selama setahun.

"Om! Itu peti saya! Om!" Dada Kugy terasa sesak, dan nafasnya tersengal-sengal. Yang dipanggil telah mengayuh sepedanya dan berbelok, menghilang dari pandangan dari perempuan kecil tersebut. Kugy terduduk di pinggir jalan, menghiraukan bau parit yang kuat, dan menangis terisak-isak. Air matanya keluar tanpa ia bisa kontrol. Rasa malu tak ia gubris tatkala orang-orang yang berlalu lalang memandanginya.

Tak ada yang mengerti kesedihannya. Tak akan ada yang mengerti.

Tiba-tiba sebuah bayangan hitam menaungi Kugy, menghalau sinar matahari yang membuat kepala Kugy terasa seperti disengat lebah. Kugy masih menunduk dan mengusap ingus yang berlomba keluar dari hidungnya. Suara sebuah benda bertemu dengan tanah menarik perhatian Kugy.

Ia melotot.

Itu adalah petinya.

Ia mendongak dan mendapati sebuah wajah asing seorang anak lelaki tengah menatapnya dengan ekspresi datar.

AAA

"Pangeran Bayam marah, dan memanggil Penyihir Kol. Ia memohon agar Penyihir Kol mengurung Putri Buncis dan mengutuk Badut Tomat. Penyihir Kol mau asalkan ia dapat memiliki tongkat sihir keramat yang diwariskan kepada Pangeran Bayam. Tanpa pikir panjang Pangeran Bayam menyetujuinya, karena ia mengira tongkat sihir tersebut tak berguna."

"Ternyata Penyihir Kol punya rencana licik. Dengan tongkat sihir tersebut ia menyerang para penduduk kerajaan Vegeta dan Greenie dan mengubah mereka jadi layu. Raja Jagung dan Pangeran Bayam salah satunya. Ia pun membangkitkan arwah tumbuhan yang telah tiada untuk menjadi pasukannya. Siapapun yang disentuh oleh arwah tumbuhan tersebut akan menjadi layu juga."

"Putri Buncis dan Baduk Tomat yang mendengar kabar tersebut pun memutuskan untuk menyelamatkan kerajaan. Sayang, saat penyihir Kol melihat mereka, ia langsung mengurung Putri Buncis di menara. Ia juga mengutuk Badut Tomat agar menjadi lumpuh."

"Hei, kenapa masih menangis? Jangan bilang ini bukan petimu. Aku harus membelinya dari pemulung tadi, tahu."

Kugy merengut mendengar nada ketus dari si anak lelaki tak dikenal. "Ini petiku."

"Baiklah, aku akan pergi."

"Hei!" Kugy berdiri dan memanggil anak lelaki tersebut. Yang dipanggil berbalik dengan raut wajah acuh tak acuh. "Kenapa kamu membantuku?"

"Aku tidak membantumu. Aku hanya pusing mendengar tangisan anak cengeng, jadi aku berinisiatif mengambil peti itu untukmu." Sesaat kemudian ia mencibir, "Aku kehilangan lima ribu hanya untuk membeli petimu itu. Kau harusnya berterima kasih, bocah."

Kugy ingin sekali menerjang laki-laki di hadapannya dan menjambak rambutnya seperti yang ia lakukan pada Kevin, namun ia urung saat teringat jasa anak tersebut. "T-Terima kasih." Adalah  kalimat yang Kugy ucapkan sebagai ganti kata-kata maki yang ia siap utarakan.

Tak ada jawaban. Anak tersebut kembali berjalan seakan tidak ada yang terjadi. Kugy menyesali keputusannya dan terpaksa menelan sendiri rasa malu dan harga dirinya. Sesaat kemudian ia terkejut tatkala ia mendapati petinya tak lagi berada di tanah, melainkan di dekapan dua tangan pucat.

"Memangnya isi peti ini apa?"

Dan terbitlah senyum cerah Kugy, seakan dia menantikan pertanyaan tersebut muncul sejak seabad yang lalu.

AAA 

"Badut Tomat sangat kaget. Namun ia pantang menyerah. Ia menggulingkan tubuhnya untuk menghindari mantra Pangeran Kol, hingga ia sampai di tengkuk Penyihir Kol. Karena gegabah, Penyihir Kol mengarahkan tongkat sihir ke lehernya sendiri. Tanpa sadar ia mengutuk dirinya sendiri menjadi layu, yang langsung diikuti dengan layunya semua pasukan arwah tumbuhan miliknya. Para penduduk yang tadinya layu menjadi segar kembali. Menara yang mengurung Putri Buncis pun raib."

"Badut Tomat pun menyerahkan tongkat sihir tersebut pada Raja Jagung, karena ia merasa Raja Jagung yang berhak menentukan nasib tongkat sihir tersebut. Uniknya, Raja Jagung berkata bahwa Badut Tomat yang berhak memutuskan, karena Raja Jagung akan mengangkatnya sebagai raja."

"Lewat upacara yang singkat namun dihadiri semua orang, Badut Tomat ditahbiskan sebagai raja baru kerajaan Vegeta. Semua memberi penghormatan, kemudian bersorak dengan antusias. Badut Tomat--yang kini telah menjadi Raja Tomat--memutuskan untuk menyegel tongkat sihir tersebut di pusat istana, yang akan diawasi dengan ketat oleh para pengawal. Ia juga memutuskan untuk memenjarakan Penyihir Kol. Suara persetujuan didengungkan dimana-mana; semuanya terlihat puas dengan kebijakan Raja Tomat."

"Tiba-tiba seorang pengawal menyeret seseorang yang terlihat familiar. Ia terlihat begitu pucat, gemetar dan ketakutan. Ternyata itu adalah Pangeran Bayam! Akan tetapi Raja Tomat berbaik hati melepaskannya. Hanya saja jika Pangeran Bayam kembali berulah, maka Raja Tomat akan mengutuknya dengan tongkat sihir. Begitu pengawal tak lagi mengekangnya, Pangeran Bayam pun berlari tunggang langgang, cemas Raja Tomat akan berubah pikiran."

"Sejak saat itu, tak pernah ada lagi yang mengusik kedamaian di kerajaan Vegeta. Kerajaan itu tumbuh pesat menjadi kerajaan yang megah di bawah pimpinan Raja Tomat. Dan mereka semua pun hidup bahagia selamanya."

"Jadi kamu penulis dongeng?" Si bocah lelaki menggaruk rambutnya yang tak gatal, merasa ganjal dengan jenis profesi yang baru saja ia sebutkan. Perempuan cilik yang ada di sampingnya mengangguk sambil membuka gembok peti tersebut. Jangan tanya dari mana ia dapat kuncinya, sang lelaki cukup yakin si perempuan pastilah membawanya ke mana pun.

"Menurutmu bagaimana cerita ini? Aku baru saja menyelesaikannya semalam." Kugy menyerahkan beberapa lembar kertas kepada si anak lelaki. Mereka duduk di kursi taman di bawah pohon yang rindang, sehingga tak banyak air hujan yang dapat menyentuh mereka.

Selama lima belas menit bocah tersebut membaca dengan ekspresi wajah yang hikmat, kemudian tersenyum sumringah.

"Boleh juga. Ceritamu bagus. Aku suka sifat tokoh Badut Tomat. Tapi tulisanmu jelek."

"Terima kasih." Kugy sama sekali tak menghiraukan kritik di akhir kalimat. "Aku bisa menunjukkan kepadamu cerita yang lain kalau kau mau."

"Aku mau, tapi aku tidak bisa. Aku harus pergi." Sang lelaki menangkap kekecewaan Kugy dari sudut matanya, dan entah kenapa perasaan senang membuncah di dalam dadanya. Kugy meletakkan naskah miliknya dengan hati-hati ke dalam peti dan menguncinya.

"Oh ya, namamu siapa?" Pertanyaan Kugy memecah hening.

Si bocah mengusap hidungnya sebelum menjawab, "Keenan. Kamu?"

"Kugy. Namamu aneh," cela Kugy.

Keenan balas memandang dan memberikan tatapan menghina. "Namamu lebih aneh."

Kugy tak berniat melanjutkan perdebatan tersebut. Malah, ia mengucapkan sesuatu yang keluar dar jalur topik. "Terima kasih, Keenan."

"Untuk apa? Kau sudah mengucapkannya tadi." Keenan terdengar kesal, walau entah mengapa Kugy tak menangkapnya seperti itu.

"Kurasa sekali saja tak cukup. Kau sudah begitu baik mau membaca ceritaku." Kugy memberikan senyum yang ia anggap sebagai senyum terbaiknya.

Keenan tercenung di tempat ia berdiri, bingung apa perkataan yang tepat untuk ia berika bagi Kugy. "Sama-sama, bocah. Dan berhentilah tersenyum, wajahmu membuat mataku sakit."

Alih-alih tersinggung, Kugy tertawa geli. "Kau malu, ya?"

"Diam kau." Bagaimanapun juga, semburat merah dari pipi ke telinga tak mampu menyembunyikan fakta.

"Astaga, kau pemalu!"

"Kubilang diam!"

"Kugy, kamu kemana saja? Mama mencari kamu?!"

"Keenan, ayo! Kita mau berangkat!"

"..."

"..."
TAMAT
 
A/N: Jadi ceritanya Kugy dan Keenan pernah bertemu dulu saat masih kecil, tapi mereka lupa saat sudah dewasa. Keenan is such a cute tsundere, don't you think?

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.