#26 I Try to Find You (Who I Can't See) Chapter 1
Kuas
bergagang merah mencium warna coklat pucat di palet, yang lalu bertemu dengan
kanvas polos yang menunggu menjadi media sebuah mahakarya. Pemiliknya, seorang
pria muda berambut pirang dengan mata bak elang, terhisap ke dalam dunia yang
ia ciptakan sendiri. Inspirasi menjadi
dalang yang mengambil alih pusat perhatiannya. Dalam waktu satu jam, kanvas
tersebut telah sarat oleh teknik melukis yang sempurna, menyuguhkan potret
seorang gadis manis dengan gaun putih yang tersenyum ke arahnya.
Hanya
perlu bubuhan inisial namanya dan lukisan itu siap dijual ke galeri manapun
yang mau menerimanya. Ralat, setiap galeri pasti akan membelinya dengan senang
hati.
Namun
pria itu malah melempar kuasnya dengan kasar, menggulingkan noda di lantai
marmer. Ia mengacak rambut pirangnya dengan kasar sambil berteriak frustasi,
menyandarkan kedua sikunya di lutut. Matanya memandang kosong lukisan di
depannya, seolah-olah dengan cara itu ia bisa masuk ke dalamnya.
Dan
tinggal disana.
Dalam
sekejap kanvas tersebut telah berubah bentuk menjadi robekan kertas tak
bernilai.
.
.
.
I Try To Find You (Who I Can’t See)
A fan fiction written by Asha D
Cast: Kris EXO, Suho EXO and Tiffany SNSD
Disclaimer: I gain no profit and I own nothing but the
story,
A/N: Inspired by EXO - Miracles in December. I
know KrisFany is not a common pairing but I love Kris and Tiffany so... yeah. I
don't really ship them, though, I just think they look good together.
.
.
.
Chapter 1
.
.
.
“Yo,
Kris, my brotha!” Pria yang memanggil Kris langsung meraih bahu Kris dengan
sebelah tangannya. Namun ia tak mampu merangkul Kris sepenuhnya, karena tubuh
Kris yang tinggi dan besar. Kris langsung berkelit, namun ia tahu itu sia-sia.
Walaupun tubuh pria itu lebih kecil, ia menguasai judo sehingga mengunci posisi
Kris bukan masalah besar baginya. Dan karena pria tersebut adalah sahabat Kris,
jadi Kris tidak keberatan dirangkul.
“I
don’t remember having the same mother with you, Chanyeol.” goda Kris.
Ucapannya spontan dibalas Chanyeol dengan sebuah jitakan di kepalanya, yang
omong-omong cukup sakit. “Aduh!” Kris mengerang pelan.
Chanyeol
tersenyum sebagai tanda kemenangan, lalu duduk di hadapan Kris. “Suka atau
tidak, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku.” Ia mengangkat tangannya untuk
memanggil pelayan wanita agar mendekat. Mereka berdua tengah duduk di kafe di
jalan utama Seoul yang sudah menjadi langganan mereka sejak berkuliah di Seoul
Institute of Arts. Salju tengah melanda Seoul, dan menghangatkan diri di kafe
favorit terlihat sebagai pilihan yang tepat.
“Saya
pesan satu Frapuccino. Oh! Dan satu cheese cake juga. Kalau kau
pesan apa?” tanya Chanyeol pada sahabatnya yang asik bermain dengan ponsel
miliknya.
Kris
tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel tersebut saat ia menjawab, “Terserah
kau saja.”
“Kalau
begitu satu American Capuccino untuk saudara saya ini ya,” ujar Chanyeol
sambil menyunggingkan seulas senyum dan tak lupa penekanan pada kata ‘saudara’.
Kris mendengus mendengarnya. Setelah sang pelayan mengulangi pesanan sambil
diam-diam melirik wajah tampan mereka berdua, Chanyeol mencondongkan tubuhnya
ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja dengan binar mata meluapkan
antusiasme. “Kris, aku mendapat berita bagus. Kau mau dengar?"
Kris
memutar bola matanya walau hal tersebut luput dari perhatian Chanyeol, tahu
bahwa itu hanya pertanyaan retoris semata. Namun ia rasa tak ada salahnya untuk
menjawab sahabatnya, ralat, saudaranya tersebut, “Hm.”
Chanyeol
mengabaikan sikap Kris yang setengah hati, “Pak Kim tadi datang berkunjung ke
galeriku dan…. Coba tebak! Ayo tebak! Ah, kau mana mau menebak. Oke, jadi dia
menawarkan kau untuk membuat pameran solo! Bayangkan itu Kris, pameran solo!
Untuk pelukis muda sepertimu! Aku yakin pameran tersebut akan menjadi sukses,
dan kau akan ditawari--”
“--Kau
berlebihan, Chanyeol.” Kris langsung menyela ucapan Chanyeol.
Chanyeol
tersenyum jauh lebih lebar. “Kau yang terlalu apatis, Kris. Dan aku ini bukan
daun muda--eh, maksudku, apa ya frase untuk menjelaskannya, ah ya--anak kemarin
sore. Aku sudah berbisnis dalam dunia ini sejak aku dilahirkan, secara
harafiah. Apa aku pernah gagal dalam mengadakan pameran?"
“Tidak.”
Jika Kris mengatakan ya, maka konversasi mereka tak akan bertemu ujung.
Chanyeol
menyandarkan tubuhnya ke sofa dan merentangkan kedua tangannya dengan ekspresi
puas. “Nah, itu kau tahu."
“Tapi
kau hanyalah manusia biasa, Chanyeol. Ada saatnya kau harus menyadari batasmu,”
“Berbicara
tentang batas, sudahkah kau menetapkan batas antara masa lalu dan masa kini?”
Telak.
Kalimat tersebut telah mengunci mulut Kris dengan mutlak. Melihat ekspresi Kris
yang menjadi kaku, Chanyeol langsung tahu bahwa ia telah mengucapkan sesuatu
yang salah. “Kris, maaf, aku... kau tahu persis bukan itu yang aku maksud.”
“Ya,
tak apa." Kris memaksakan sebuah senyum kaku. Dalam hati ia tahu tak ada
gunanya ia berada di sana untuk waktu yang lebih lama lagi. Dengan cepat ia
beranjak dan pamit, “Sebaiknya aku pergi.”
"Yaaa--Kris!
Aigoo, pemuda itu, cepat sekali merajuk." Chanyeol menggaruk rambut
cokelatnya yang keriting. Tak lama kemudian pelayan telah membawa pesanan
mereka, yang membuat Chanyeol semakin bingung.
"Aduh,
siapa yang akan menghabiskan semua ini?"
AAA
Kris
kembali mengisolasi dirinya di studio miliknya. Ruangan itu penuh dengan
gulungan kanvas, lukisan setengah jadi yang teronggok di pinggir, kuas yang
kaku karena cat yang telah kering, dan botol berbagai ukuran yang kosong. Baik
dinding maupun lantainya kotor, penuh dengan dengan luapan cat yang muntah dari
rasa frustasi Kris di masa emosinya tak stabil.
Suara
angin yang membuat jendela bergemeretak menjadi musik pengiring. Kris
membaringkan dirinya dengan miring di lantai, berusaha menyesap rasa dingin ke
dalam tubuhnya yang terasa panas. Debu yang kasar menempel di wajahnya,
membuatnya bertanya kapan ia terakhir kali menyapu dan mengepel ruangan itu.
Apakah enam bulan lalu? Entahlah. Bau tinner samar-samar tercium, bau yang
sudah terlampau akrab pad hidungnya. Ia tak bergeming, sampai dia yakin jika
Chanyeol menemukannya, mungkin saja ia mengira Kris telah meninggal.
‘Aku
suka coklat.’ Kris ingat gadis itu pernah berkata. ‘Rasanya enak dan hangat.’
Dahi
Kris mengkerut tatkala suara-suara familiar yang terasa jauh mulai mengisi
memorinya lagi. Suaranya. Dan suara gadis itu. Wajahnya. Dan wajah gadis itu.
Bergantian terus berputar di dalam pikirannya bagai kaset rusak.
‘Kalau
saja ada rumah yang terbuat cokelat, aku pasti sudah jadi orang pertama yang membelinya!’
Kris
ingat dirinya sendiri tertawa dan menggoda gadis tersebut. ‘Bagaimana kalau
uangmu tak cukup?’
Terbayang
dengan jelas di benaknya bagaimana gadis itu sontak berbalik dan menatapnya
dengan mata yang besar, lalu terbitlah senyum hangatnya. Kris menutup matanya
dan mengangkat jarinya, berusaha mengusap pipi gadis di dalam imajinya.
‘Tidak
apa-apa. Aku akan merelakannya. Karena aku sudah punya kau, rumah cokelatku.’
Jari
Kris membeku, menggantung di udara. Spontan ia membuka mata dan sadar bahwa ia
kembali terhanyut dalam khayalnya. Ia menggeram dan memukulkan kepalan
tangannya ke lantai, tak peduli betapa menyakitkan hal itu baginya. Ia
memporak-porandakan ruangan yang sudah mirip kapal pecah tersebut. Ia
menggulingkan kaleng, menjatuhkan kuas dan menumpahkan cat. Suara benda jatuh,
pecah, berguling, bercampur aduk hingga menjadi semacam dengungan tak jelas di
dalam gendang telinganya.
Kini
ruangan dengan dinding berwarna putih tersebut persis seperti sebuah lukisan
abstrak. Bagaikan kanvas yang berbicara dengan radikal lewat warnanya, namun
memendam kerapuhan yang sangat. Karena mahakarya hanyalah mahakarya; hanya
tinggal menunggu waktu sebelum tangan sang pencipta merobek dan membakar tiap
serpihan.
Sementara
Kris berdiri di tengah semua kekacauan, bak musafir yang tersesat.
Pemuda
tersebut mengusap wajahnya dengan kasar dan mengatupkan kelopak matanya. “Aku
kira aku kuat,” Pria itu mendesis, seakan kekuatan terakhirnya didekasikan
untuk kalimat tersebut. Untuk waktu yang cukup lama hanya suara helaan nafas
yang terdengar.
“Aku
kira aku kuat tanpamu, aku salah. Aku salah. Ini semua salahku." Di dalam
pendengaran Kris, dinding seakan tengah mengejeknya. Mereka menggemakan dan
memantulkan ucapannya sendiri dari berbagai sisi, seakan ingin menelanjanginya.
Kris
menelan ludahnya dengan payah. Ia membayangkan dirinya sebagai kapal besar yang
dulunya begitu gagah membelah air, namun kini goyah hanya karena badai. Dulu ia
adalah pelaut yang berani, namun kini petir membuatnya meringkuk di sudut.
Satu-satunya hal yang ia bisa pikirkan adalah mengapa saat sang Seniman Agung
melenyapkan jejak kekasihnya, miliknya tidak.
Wajah
yang selalu mengukir hatinya selama tujuh tahun mewarnai angannya, mencabik
hatinya yang tak mampu lagi menyisakan tempat untuk luka baru. Kris tak
menyangka bahwa karya seni Tuhan yang tak pernah gagal membuatnya bahagia, kini
menjadi sumber kepahitannya.
"Annabel."
Suaranya berat, kaku, dan terdengar seakan dari tempat yang jauh.
"Kumohon, kembalilah."
Dada
Kris naik turun dengan cepat, tetapi semakin lama semakin pelan. Ia kembali
menemukan ritmenya, polanya, melodinya.
Dalam
hati Kris bertanya-tanya apakah ia memang ditakdirkan untuk menjadi seperti
ini.
AAA
Kris
terbangun dengan tubuh yang kaku akibat dingin yang mencengkeram. Kepalanya
didera pusing yang hebat, hingga ia sendiri tak yakin ia mampu mendengar
dirinya sendiri berbicara. Ia pun teringat bahwa musim gugur telah merambahi
Seoul, dan tidur dengan pakaian tipis di lantai adalah sebuah cara yang halus
untuk bunuh diri. Ia beranjak dan merangkak untuk mencari ponselnya, melihat
waktu yang telah menunjukkan pukul setengah enam. Ia mengerang, kemudian duduk
untuk mengusap matanya yang gatal, lalu diam.
Studionya
tak terlihat seindah dulu, dan ia harus melakukan sesuatu tentangnya.
Ia
membawa penghangat ruangan ke studio, menyalakannya dan duduk di dekatnya
sampai ia merasa tubuhnya cukup hangat. Perutnya menahan lapar namun ia
abaikan, lantaran terlalu fokus memilah barang mana yang sebaiknya ia simpan
dan buang.
Satu
jam kemudian studio telah terbagi menjadi dua bagian--benda-benda yang bernasib
beruntung dan yang bernasib kurang beruntung. Kris membawa mereka yang kurang
beruntung dan membawanya ke tempat sampah besar yang ada di depan rumahnya. Ia
membuka tutupnya, berusaha keras mengabaikan bau makanan busuk, dan menaruh
barangnya dengan asal.
“Kenapa
kau buang?”
Kris
tersentak mendengar suara asing berbicara padannya. Ia menoleh untuk menemukan
seorang gadis tengah memandangnya dengan rasa heran. Si pemuda menatapnya
sejenak, tak yakin akan berbuat apa. Matanya yang berwarna hitam bulat masih
memandang Kris, menunggu Kris mengeluarkan jawabannya.
“Jelek,
hancur, tak butuh lagi.” Kris mengakui cara berbicaranya sekarang terdengar
bodoh dan berantakan. Seakan seseorang mencuri kemampuannya dalam merangkai
kata. Namun apa pedulinya? Toh dia tak mengenal gadis di hadapannya.
Gadis
tersebut tidak lanjut menanyainya, hanya mengalihkan perhatiannya kepada
lukisan setengah jadi yang Kris kerjakan. “Tapi lukisanmu tak seburuk itu.” Ia memandang
ke salah satu kanvas Kris yang robek saat ia berujar. “Malah mirip dengan
lukisan yang akhir-akhir ini muncul di galeri dan pelelangan. Siapa ya nama
pelukisnya? Kristof… ah, bukan, Kristian…”
“Kris
Wu Fan.”
“Ah
ya, Kris Wu Fan. Kau juga mengenalnya?” tanya gadis tersebut dengan pandangan
yang berbinar dan semangat yang kentara.
“Lebih
baik dari yang kau kira.” Kris memberi ekspresi datar. Ia meletakkan semua
barang ke tempat sampah, dan menutupnya dengan kasar. Pandangan kecewa gadis
tersebut tertangkap dari sudut mata Kris, namun ia mengalihkannya.
“Boleh
aku tahu namamu?” tanya gadis tersebut tepat setelah Kris mengira gadis
tersebut telah menyerah.
"Tidak.
Lebih baik kau tidak tahu." Kris bersedekap seperti anak kecil yang
memeluk dirinya sendirian. Angin musim gugur menusuk kulitnya, dan ia tak
menyukainya.
"Memangnya
kau apa? Mata-mata?" keluh gadis tersebut. Melihat Kris yang tak merespon,
gadis tersebut bertanya dengan raut lugu, "Kau benar-benar
mata-mata?"
"Oh
astaga, diamlah." Kris mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia memberikan
tatapan tajam setajam yang ia bisa, namun gadis tersebut tetap bergeming di
tempatnya berdiri. "Sebaiknya kau pergi. Sekarang."
Gadis
itu tersenyum lebar sekali, seolah telah menunggu bertahun-tahun untuk ditakuti
dan Kris adalah orang pertama yang melakukannya. Ia berinisiatif berjalan ke
arah Kris dan menjabat erat tangan pria di hadapannya itu. “Tiffany. Aku
Tiffany Hwang."
Kris
melotot. Mulutnya membuka menutup namun sampai gadis tersebut melepaskan
genggaman tangannya, tak ada suara yang kunjung keluar.
"Senang
berkenalan denganmu, Mister Neighbour." Gadis tersebut melambaikan
tangannya dan mengucapkan frase bahasa Inggris dengan fasih. Tak lama kemudian
ia berjalan pergi dan menghilang di belokan, meninggalkan Kris yang masih belum
mampu mencerna apa yang baru terjadi.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
A/N: I was trying to make an oneshot and I give
myself a multi-chapter. Geez, how I hate multi-chapter. And this story seems
like so cliche that I want to tear it off ;w;
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”