#24 Kata-Kata

04.51 , 0 Comments





Kata-Kata

An original fiction written by AshaD
Genre: general
Words: 424 

A/N: Well, this one is weird. Surealism-sarcasm-I don’t know? This story was written in 15 minutes while I’m reading Sepotong Senja Untuk Pacarku. Anyway, enjoy.


AAA


Kata-kata luber tanpa ada yang mengenali jejak mulanya, kemudian mencuat ke permukaan tatkala ada kesempatan yang membutuhkan. Kata-kata melompat dari otak, meluncur dalam saraf seperti menaiki roller coaster kemudian hinggap di mulut. Namun kata-kata harus mengunyah kekecewaan karena saat ia tampil, bukan karena hati yang berkehendak. Namun nafsu birahi yang mendominasi.


Murah. Menjijikkan. Gampangan. Memuakkan.


Kata-kata muntah tanpa diminta, tak tahan karena situasi terus menuntutnya untuk terus berlakon di pentas berlantaikan lidah. Dasar hidung belang. Dasar wanita jalang. Semudah itukah mengobral cinta? Semudah itukah menjual tubuh? Kata-kata diwarnai semburat merah, malu karena eksistensinya tak dihargai. Seharusnya ada tugu khusus untuk kata-kata. Tapi siapa yang peduli? Bagi insan yang meminjam keberadaan kata-kata, kata hanyalah kata. Lisan. Tulisan. Tersirat. Tersurat. Bah. Mereka terus bercuap-cuap hingga menghadiahkan ‘hujan lokal’ bagi para pendengar, tanpa pernah menghargai hebatnya kata-kata.


Kata-kata mengelus dada. Seharusnya ia menjadi langka saja. Agar para pria perut buncit di televisi tidak mengumbar pengakuan palsu. Agar para wanita yang mendadak saleh tidak menguarkan kebohongan. Kata-kata sungguh malu melihat sohibnya dipelintir dan didramatisasi menjadi sedemikian rupa di depan banyak orang. Kesalahan jadi kebenaran. Kebenaran jadi kesalahan. Bah, lagi. Sebagai sesama kata-kata, tentunya kata-kata merasa iba. Para homo sapiens melanggar prikemanusiaan para kata-kata.


Kata-kata heran, di tengah zaman yang semakin menggulingkan diri dan menjauh dari sejarah, masih ada ucapan nista. Monyet kau. Babi kau. Anjing kau. Kata-kata bingung, apa salah monyet? Apa salah babi? Apa salah anjing? Kalau kata-kata jadi mereka, kata-kata pasti tersinggung. Apa mereka begitu jelek hingga diasosiasikan dengan konotasi negatif? Kata-kata juga harus menanggung malu, karena kerap kali yang mengucapkannya adalah mereka yang bergelar sarjana. Atau mereka yang menghuni bawah kolong jembatan. Entahlah. Kata-kata bingung. Dia tidak bisa membedakan lagi status para manusia karena mulutnya sama-sama jorok.


Kata-kata lelah. Ia merasa dieksploitasi secara masif. Ia diperbudak di bawah kaki mereka yang tak mengapresiasi keadaannya. Ia hendak mengadu nasib tapi tak tahu harus kemana, karena di planet yang ia tinggali belum ada Komisi Perlindungan Kata-Kata. Kata-kata merasa seperti ditempa bencana alam. Bencananya adalah manusia, yang sudah secara natural lebih condong kepada hal-hal bersifat destruktif. Kalau bisa, kata-kata ingin menghukum para manusia. Agar mereka tak bisa berkata-kata lagi. Supaya mereka sedikit banyak memahami penderitaan kata-kata. Sekalian saja mereka meraung tanpa ada yang mengerti satu sama lain.


Kata-kata itu magis. Kata-kata itu kuat. Kata-kata itu berkuasa.


Jangan bermain api dengan kata-kata, kata-kata tidak suka.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.