#23 Being A Human





Aku rasa inilah resiko menjadi manusia.

Aku terus mengatakan hal-hal yang tak ingin kudengar.

Aku terus menanyakan hal-hal yang tak ingin kutahu jawabannya.

Aku terus memikirkan hal-hal yang tak ingin kuingat.

Aku terus melakukannya.

Berulang kali.

Seribu enam ratus tiga puluh tujuh kali setiap harinya.

Aku rasa itulah gunanya menjadi manusia.

Menjadi rumit. Kompleks. Ambigu.

Itu bagian dari hidup.

AAA

Being A Human
An original fiction written by AshaD
Rating: K+
Genre: general
Words: 750
A/N: Nulis ini cepet banget so hepi. Tapi ya hasilnya random kayak hasil pemikiran sendiri gitu :9

AAA


Tisha menyarangkan handsfree ke kedua daun telinganya, membiarkan gendang telinga menyambut harmoni instrumental grup cover favoritnya di Youtube. Tulisan Vitamin String Quartet – Fix You berjalan di layar ponselnya. Jari-jarinya yang lentik menari salsa di atas keyboard, yang tampaknya tak keberatan menjadi lantai dansa. Sesekali mesin laptopnya berderik, menandakan usia yang mulai mencengkeram kesanggupannya. Tisha mengabaikannya, lebih memilih untuk menaruh perhatian pada kata-kata di monitor. Huruf-huruf yang berdiri tegak di belakang garis yang berkedip-kedip.

Sebuah tulisan ‘Jurnal’ di pojok tengah atas menandakan identitas dokumen yang tengah ditulisinya.
Tisha hanya menulis beberapa kalimat. Beberapa kalimat yang jauh lebih magis dari pada yang orang kira. Tisha hanyalah gadis biasa, namun tiap kata yang ia adopsi dari kamus tesaurus tersusun menjadi untaian kalimat yang penuh kekuatan. Kekuatan untuk mengajukan semangat di dalam jiwa yang lebur. Kekuatan untuk menciptakan sebuah dunia imaji yang telah lama tertidur di dalam sanubarinya. Kekuatan untuk berada di awang-awang angan, walau hanya sekejap.

Tisha punya sihir jauh melebihi dari yang ia tahu.

Hanya saja sebuah pertanyaan membebani pundaknya.

Laiknya siswi kelas tiga SMA lainnya, ia akan meniti jejak pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di kota lain. Sendirian. Takdir menggiringnya ke tempat yang tidak begitu menyenangkan bagi banyak orang  karena eksistensi tugas, tugas, dosen yang galak, dan tugas. Disana ia akan bertemu dengan berbagai macam orang asing dari latar belakang yang tak familiar. Diteliti dari sudut pandang manapun, itu sama saja seperti The Hunger Games. Bedanya The Hunger Games yang harus Tisha jalani berjalan selama empat tahun, dan jika ia lulus ia tak mendapat profit. Sebaliknya akan ada The Hunger Games lain yang akan menunggunya--dunia kerja.

Tisha rasa The Hunger Games yang diperankan Jennifer Lawrence jauh lebih menarik.
 

Walau inteligensi Tisha lebih dari cukup untuk beradaptasi, Tisha masihlah seorang gadis kecil yang terisolasi dalam sebuah keluarga bahagia di kota mungil. Ia lahir dimana memakai celana pendek dan baju tak berlengan adalah batas toleransi terjauh yang bisa dihadapi masyarakat. Ia tumbuh di tempat dimana ciuman bukan sesuatu yang harus diacuhkan. Ia hidup dengan sudut pandang konservatif, memicunya untuk bergidik tiap kali ia mendengar kisah pergaulan bebas di kota lain.

Sesuatu yang bagi orang lain adalah hal yang biasa adalah hal yang luar biasa aneh baginya. Saat ada bibir yang membisikkannya setitik realitas, Tisha menutup telinganya dan berteriak. Jika ada tangan yang menyuguhkan sesuap kenyataan, Tisha menutup matanya dan mengambil langkah seribu. Tisha ingin mengurung dirinya di sebuah kotak kecil dimana hanya ada dia, orang tuanya dan sahabatnya. Ia tak peduli dengan mata yang memandangnya rendah dan mengecapnya ‘spoiled brat’, atau iba karena paranoid yang menjeratnya, atau marah karena ia tak kunjung menjadi dewasa.

Tisha masih tak mengerti kenapa ia harus jadi dewasa. Dewasa berarti lidahnya yang sudah terlatih untuk hal manis akan tertimpa sensasi pahit. Walau ada bagian dari otaknya yang mengerti bahwa cepat atau lambat kotanya juga akan menjadi vulgar. Penuh gemerlap di bagian yang terang juga di bagian yang gelap. Tisha tak mau kembali pulang untuk melihat kotanya telah berubah menjadi sesuatu yang selama ini ia hindari.

Dia ingin menjadi masokis, menyaksikan sendiri kotanya hanyut dan terselip jatuh dari genggamannya.

Tisha berhenti mengetik. Pupilnya yang berwarna hitam memperhatikan layar laptop tanpa intensi. Benaknya menafakurkan betapa ia hanyalah seorang anak kecil yang masih terlalu hijau untuk dunia yang pekat.

Kalau bukan kamu yang keras dengan dirimu sendiri, dunia yang akan keras padamu.

Ceramah mama ada benarnya juga.

Tapi tak bisakah ia melihat kotanya, empat tahun kemudian, sebagaimana ia dulu mengingatnya, empat tahun yang lalu?

Kita tak selalu mendapatkan yang kita inginkan.’

Ah, lagi-lagi ucapan mama yang bergaung.

Aku rasa inilah resiko menjadi manusia.

Terus mengatakan hal-hal yang tak ingin kudengar.

Terus menanyakan hal-hal yang tak ingin kutahu jawabannya.

Terus memikirkan hal-hal yang tak ingin kuingat.

Terus melakukannya.

Berulang kali.

Seribu enam ratus tiga puluh tujuh kali setiap harinya.

Aku rasa itulah gunanya menjadi manusia.

Menjadi rumit. Kompleks. Ambigu.

Itu bagian dari hidup.

Waktu tak lagi muda. Riak bulan yang samar menjadi pertanda kantuknya tak lagi tertahankan. Tisha menyimpan datanya, lantas mematikan laptopnya. Ia menyeret dirinya ke tempat tidur, berdoa sebelum merebahkan diri. Rasa sakit mulai menjalari punggungnya akibat terlalu lama duduk dengan posisi bungkuk—mungkinkah dia mengidap kifosis?—dan kepalanya karena terlalu dipaksa untuk berpikir.

Ia menutup kelopak matanya. Sayup-sayup terdengar debar jantung yang menggedor tulang rusuknya terdengar.

Tisha tahu bahwa ini hanyalah satu dari sekian pertanyaan yang tak akan terjawab. Dan akan selalu begitu karena pada esok paginya Tisha tak akan mengingatnya lagi. Sementara pertanyaan itu menguap menjadi oksigen yang ia hirup. Menyublim diri menjadi satu beban lagi yang mengimpit dada Tisha.

Tisha sungguh harus belajar berhenti berpikir negatif.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.