#22 Crawling and Not Alone



Crawling and Not Alone
An original fiction written by AshaD
Genre: general
Rating: K
Words: 816
A/N: Semi-curcol. Terinspirasi dari saran mama pada saat saya curhat tentang menulis. Mengikuti saran kak Shen yang menulis berdasarkan hal-hal yang terjadi di sekitar kita ;) It took me 15 minutes to write this muahahaha #what.

AAA
...

Every talented authors were used to be otherwise.

Rasanya sulit untuk meyakinkan diriku bahwa penulis yang berbakat dulunya itu tulisannya tidak sebagus sekarang. Ya, mereka lebih dulu belajar, ya, aku sudah melupakan 3 tahun SMP yang aku sia-siakan tidak untuk menulis, ya, aku tidak punya penyesalan walau aku banyak membaca cerita yang tidak berkualitas hingga akhirnya mempengaruhi kualitas ceritaku sendiri. Rasa iri telah luput, keinginan ‘tuk bersaing telah lenyap. Tetapi sulit untuk menutup matamu dan hanya menulis sementara orang-orang di sekitarmu membentuk pesawat kertas dengan cerita mereka dan melesat ke angkasa.

Mereka terbang bagai ngengat yang tak kenal gravitasi, sementara aku? Aku bahkan tidak bisa tertawa saat membicarakan diriku sendiri.

Aku masih merangkak.

Setidaknya aku merangkak ke depan. Ke kanan dan kiri pun tak masalah, asalkan masih ke depan.



Gina menatap monitor laptopnya dengan ekspresi datar. Frustasi yang membuncah mengundangnya untuk menggaruk rambutnya dengan kasar. Ia membiarkan rambutnya yang berantakan terjuntai di punggungnya. Jarinya mengetuk meja tanpa ada indikasi akan berbuat hal lain. Tangannya meraih segelas kopi, mengizinkan tenggorokannya menyerap sensasi pahit, kemudian meletakkannya ke atas meja dengan kasar sementara tangannya yang lain membersihkan mulutnya.

Jam di nakas memendarkan cahaya merah yang membentuk tulisan ’00.27’. Ia tahu kemungkinan orang tuanya akan memergokinya masih terjaga sekitar lima belas persen. Itu jika di hari biasa. Di hari liburan, presentasenya meningkat jadi delapan puluh persen. Sementara itu, kemungkinan Gina akan dimarahi karena begadang adalah sembilan puluh sembilan persen.

Satu persen lagi berlaku jika orang tuanya tidak sedang dalam mood untuk marah.

Sialnya, orang tuanya selalu punya cadangan energi untuk memarahinya.

Sialnya lagi, hari ini adalah hari liburan.

Telinga Gina menangkap bunyi derit lantai tangga yang terbuat dari kayu, disusul suara ibunya yang bercakap-cakap sendirian. Gina menduga ibunya sedang menelepon. Dengan satu gerakan spontan—Gina hampir terpeleset karena boneka Winnie the Pooh tapi ia selamat—ia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Tepat saat ia menarik selimut ke atas wajahnya, derik engsel pintu yang terbuka berbunyi.

Tangan Gina gatal ingin memindahkan boneka Minions yang mengganjal di pantatnya., namun satu gerakan ringan saja akan terlihat oleh ibunya.

Saat itulah ia mengingat suatu hal yang krusial.

Ia lupa mematikan laptopnya.

Barulah saat Gina memikirkan skenario terburuk yang mungkin saja ia terima malam itu, bunyi pintu yang ditutup memecah keheningan. Dan bunyi itu menjadi bunyi terakhir yang mewarnai kamar Gina pada  malam itu.

Gina tidak sadar bahwa ia bahkan sudah terlalu lelah untuk mengindahkan Minions yang harus betah ditimpa tubuhnya yang tak langsing.

AAA

Tipikal seorang remaja di masa liburan, Gina bangun tatkala angka 10 terukir di jam. Ia menguap dan memutar tubuhnya yang terasa kaku. Matanya belum terbiasa pada sinar matahari yang menari di dalam kamar dari balik tirai tipis jendela. Gina tak punya intensi akan melakukan apapun hari itu, sehingga ia kembali bergulat dengan mimpi.

Tiba-tiba ia tersentak dan memandang sekeliling kamarnya dengan tatapan linglung. Seperti ada sesuatu yang kurang di sana. Ia sadar bahwa benda pribadinya berbentuk kotak tipis berwarna hitam tak lagi bersarang di tempat kebangsaannya—meja belajar Gina yang amburadul.

Laptopnya sudah raib.

Gina pun mengitari kamarnya dengan panik, menyibak seprai, melempar benda sembarang arah, hingga menyuarakan bunyi gemeresak yang tak nyaman didengar. Tak lama kemudian teringatlah dia bahwa semalam laptopnya masih ada di atas meja sebelum ibunya masuk ke dalam kamarnya.

Dia membuka pintunya dengan tergesa dan hampir saja menginjak sebuah benda di hadapannya.

Itu adalah laptopnya yang masih dalam keadaan stand by.

Ia pun menekan tombol di sebelah kiri atas laptopnya. Tak lama kemudian monitornya menyuguhkan jurnal yang terakhir kali ia tulis. Ia menggeser tampilan jurnal ke bagian paling bawah dan terkejut saat menemukan satu paragraf tambahan yang tidak ia tulis.
.
.
.
Mereka terbang bagai ngengat yang tak kenal gravitasi, sementara aku? Aku bahkan tidak bisa tertawa saat membicarakan diriku sendiri.

Aku masih merangkak.

Setidaknya aku merangkak ke depan. Ke kanan dan kiri pun tak masalah, asalkan masih ke depan.
.
Mama mengerti perasaanmu. Mama dulu ingin sekali ceritanya masuk ke majalah. Di jaman mama tidak ada komputer atau laptop, jadi mama harus tulis tangan di kertas double folio. Tapi ceritanya tidak pernah selesai. Mama tahu kamu akan jadi penulis melebihi mama atau penulis manapun. Saat kamu sedih, mendongaklah ke langit dan pandanglah bintang yang hendak kamu raih. Kalau itu terlalu sulit, lihatlah ke depan, pasti kamu lihat papa dan mama dengan tangan yang terentang, siap untuk menyambut kamu. Mama yakin, beberapa pelukan hangat cukup untuk mengisi kembali tenagamu.

Apapun yang terjadi, ingat bahwa mama dan papa selalu mendukungmu.
.
.
.
Kehangatan menyeruak di dalam hati Gina entah dari mana, mengundangnya untuk tersenyum. Dia semakin sadar bahwa ia memang masih merangkak dalam menulis.

Tapi setidaknya dia tidak merangkak sendirian.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.