#21 Secangkir Moka Berdarah

source

Secangkir Moka Berdarah
An original fiction written by AshaD
Genre: thriller/tragedy
Words: 890 (dikit juga yaaa.)
A/N: Was written for nothing, really. Kayaknya kerajaan klise telah mengambil alih teritori imajinasiku >’: I’m one sad girl right now. Yaudahlah yang penting nulis lumayan buat latihan.

AAA

“Satu moka sesuai pesanan anda.”

Kuacuhkan suara lembut yang bergaung ke telingaku. Sebuah tangan asing meletakkan secangkir moka di atas meja mahoni yang kutempati. Aku tak mau bersusah payah menoleh untuk melihat wajahnya. Yang kutahu adalah ia salah satu pelayan kafe. Pandanganku jatuh ke kopi yang menyesapku ke dalam nostalgia tanpa akhir. Dari ujung mata, aku dapat melihat sang pelayan kafe menyunggingkan seulas senyum tipis yang tak sampai ke matanya yang sendu.

Tak lama kemudian ia berlalu.

Kafe tak begitu sepi. Aku tak pernah melihat kafe ini sepi, mungkin karena racikan kopinya paling enak. Hanya saja lidahku tengah enggan mengecap kopi yang kupesan. Aku mengetuk-ngetukkan jariku di meja dengan gelisah. Alunan musik orkestra yang mengisi udara tak mampu meredakan rasa cemasku. Jendela di sampingku menyuguhkan pemandangan jalan yang didominasi gradasi warna hijau—berkat dedaunan yang mencumbu gravitasi. Sayang, hatiku bergeming, tetap tak tersentuh.

Matahari menggantung di barat, seolah matanya sudah terlalu berat untuk tetap terbuka.

Tanganku dingin, berkeringat. Aku mengusapnya pada celana jins yang kukenakan. Setiap ada insan yang menjejakkan kakinya ke dalam kafe, aku melirik untuk melihat siapakah gerangan. Namun orang yang kutunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku cukup terkejut  melihat diriku masih sabar walau satu jam telah bergulir.

Mungkin karena orang yang kunanti adalah orang yang pantas mendapatkan pengecualian.

Ah, maafkan kelancanganku yang bercerita tanpa memberitahu identitas. Namaku Stefano Zefryn. Orang biasa memanggilku Stefan tetapi dia memanggilku Fano. Layaknya insan berdarah Indonesia, rambut dan iris mataku berwarna obsidian. Aku ada di pertengahan umur dua puluh, menjenjang pendidikan di sebuah universitas negeri di Jakarta.

Dua jam sudah berlalu tatkala ia akhirnya muncul. Dia berdiri di seberang jalan, melihat ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada kendaraan bermotor yang melaju. Penampilannya dalam terusan berwarna pastel menawanku. Rambut ikal panjangnya tergurai, membuatnya mirip malaikat yang baru saja turun ke bumi.

Namanya Latisha, kekasihku sejak dua tahun yang lalu. Seorang mahasiswi di universitas yang sama denganku, hanya beda jurusan. Kami bertemu di sebuah toko buku, akibat selera kami yang ingin membeli novel yang sama. Klise sekali, aku tahu. Aku rasa takdir kehabisan ide untuk mempertemukan kami, dan itu tidak masalah. Kegilaan kami terhadap moka akhirnya menyeruakkan kata-kata ‘cinta’ untuk pertama kalinya di tengah konversasi kami. Tentu saja, aku yang mengucapkannya. Tanpa diduga, namun sesuai harapan, Latisha mengangguk. Ia mau menjadi orang yang mengisi hari-hariku.

Aku mencintainya melebihi tiap kata yang tersedia di bumi. Terlalu abstrak hingga dadaku sesak dan dapat meledak kapan saja tiap kali aku melihatnya. Atau mendengarnya. Atau membicarakannya. Sebuah kotak terselip di dalam genggamanku, berisi cincin yang hendak kuberikan saat aku mengucapkan kata-kata magis.

Kata-kata magis yang kuharap dapat membuatnya setuju menjadi pendampingku selamanya.

Aku yakin mataku berbinar saat melihatnya. Ingin rasanya kurengkuh dia dalam rangkulan, kalau saja aku tak ingat ada jarak yang memisahkan kami. Tatapannya terarah padaku. Seketika itu juga wajahnya berubah ceria. Dia melambaikan tangannya. Aku membalasnya, tetap berusaha terlihat kalem walau wajah mematrikan senyum sumringah.

Tak lama kemudian sebuah mobil meluncur entah dari mana, menerjang badannya yang rapuh.

Aku terkesiap. Mulutku membuka menutup tanpa petunjuk akan mengatakan sesuatu.

Tubuhnya terlempar begitu saja seakan dia hanyalah onggokan daging tanpa jiwa. Orang-orang di sekitar sana hanya bisa memandang atau memanggil bala bantuan. Sedangkan mobil yang menghancurkan belahan hatiku kabur begitu saja bagai tanpa beban. Seakan ingin mengolok aku yang tak mampu melakukan apapun selain menonton. Sebagian besar tamu kafe berbondong-bondong keluar untuk melihat kejadian dari dekat. Seolah gadisku adalah badut sirkus yang pantas mati.

Aku yang tak pernah kehabisan kata kini tak mampu mengucapkan sepatah. Bagai bibirku membeku dan kakiku terpaku. Kaca jendela merefleksikan pantulan wajahku yang pucat. Aku tidak percaya hal ini bisa terjadi. Aku menolak untuk percaya. Apa kau bisa tahu kecelakaan dapat menimpa pacarmu tepat sebelum kau akan melamarnya? Jika ya, maka aku akan menjadi orang yang berada di sana. Bukan Latisha.

Aku ingin merenggang nyawa bahkan menjemput ajal jauh sebelum Latisha menyentuhnya.

Saat aku berhasil mengumpulkan kesadaranku, aku meninju kaca jendela. Orang-orang menatapku dengan ekspresi bingung yang kentara. Aku tak berusaha menjawab, biarlah mereka larut dalam beragam tanya. Pipiku teperawani oleh hidroksida yang mengalir dari mata tanpa dikomando. Kata-kata makian terlontar dari mulutku tanpa penyaring. Semua hinaan kutujukan pada pengendara mobil sialan yang kuyakin bukanlah manusia. Pada para pejalan kaki yang terlalu bodoh untuk melakukan apapun. Pada pengunjung kafe, yang menghiadiahiku bermacam ekspresi, tanpa berusaha untuk membantu.
Dan pada diriku sendiri, seorang pengecut yang hanya mampu mencinta tanpa merelakan.

Aku menatap cangkirku meskipun penglihatanku buram oleh air mata.

Mokaku berubah menjadi dingin dan penuh dengan darah.

Telingaku menangkap jeritan samar sebelum kuserahkan diriku dalam kegelapan.

***

Pelayan kafe yang tadi mengantarkan secangkir moka berbisik kepada rekannya, “Aku merasa kasihan padanya.”

“Siapa?” Si pelayan kafe mengedik, dan pandangan rekannya langsung mengikuti. Mereka berdua mencuri pandang seorang pemuda berwajah muram yang tengah menyaksikan jarinya menari di atas meja. “Kenapa? Apa kau mengenalnya?”

“Kau tidak tahu? Dia Stefano, salah satu pelanggan setia kafe lebih dari tiga tahun. Tapi sejak pacarnya jadi korban tabrak lari di depan kafe setahun yang lalu, dia berubah. Sejak kematian pacarnya, setiap hari dia ke sini, di waktu yang sama, duduk di tempat yang sama, memesan moka, dan berteriak mokanya penuh dengan darah.”
TAMAT

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.