#20 Bintang Lampion
Bintang Lampion
An original fiction written by AshaD
Genre: romance/hurt/comfort
A/N: Based
on true story tanpa ada ganti nama. Ha. Enjoy.
xxx
Malam itu, 28 Juni 2014…
Aku hanya ingat lima hal.
Bintang, Lampion, Aku, Kamu dan Merelakan.
xxx
27 Juni 2014.
Namanya Yehezkiel.
Namanya Yehezkiel.
Manis.
Mancung. Tinggi. Kalem. Berbakat. Berkacamata.
Terutama
berkacamata.
Aku
rasa kau sudah tahu kemana arah pembicaraan ini akan berjalan. Yup, aku
menyukainya, walau kami hanya bertemu setiap hari Minggu di gereja. Walau kami
tak pernah saling berbicara. Walau aku hanya memandangnya dari jauh—secara
harafiah. Aku bahkan tak yakin dia tahu namaku.
Ah,
mungkin dia tahu. Namun hanya sebatas itu.
Hanya sebatas itu.
Akan
tetapi tak dapat dipungkiri bahwa aku menikmatinya. Aku selalu menyukai sensasi
menjadi pengagum rahasia—minus kebiasaan menguntit sosial media—karena aku
berada di jalur yang aman. Tak tersentuh. Tak tersakiti. Tak tergenggam.
Setidaknya
itu menurutku.
Pada
awal Juni, gereja mengadakan acara dimana kami akan berlibur bersama selama
tiga hari di luar kota. Aku ikut. Dia juga. Dia masih tidak mengenalku. Aku berusaha
untuk tak peduli—aku tak bisa.
Semua orang
di gereja tersebut ramah, walau aku baru mengenal mereka selama sebulan lewat
empat kali pertemuan ibadah. Di pertemuan ketiga aku sudah dapat menunjukkan
diriku yang sebenarnya—heboh, ceria, ekspresif—dan mereka tidak mengeluh. Tidak
butuh waktu lama bagiku untuk menjalin pertemanan dengan mereka.
Biarpun
begitu, aku tidak dapat berbohong. Di tiap kesempatan, di tengah keramaian,
mataku selalu melirik kearahnya.
Dia tidak
pernah melihat balik.
Tatapan
kami tidak pernah bertemu.
Aku
tidak mengerti mengapa ada pemuda yang tak menyadari ada seseorang yang
melihatnya dari jauh. Mungkin karena dia tak peka. Atau dia pura-pura tak
peduli.
Jumlah
kalimat yang dia ucapkan dalam sehari dapat dihitung dengan jari.
Namun bagiku,
dia tetap atraktif.
Walau di
sepanjang acara, kami tak pernah saling berbicara.
Saling
tersenyum pun tidak.
xxx
28 Juni 2014.
Kawan-kawan
sebayaku tengah membakar jagung, mengunyahnya sambil tertawa girang. Yehezkiel bermain
gitar, dikelilingi sebagian perempuan yang bernyanyi. Sebagian lagi hanya
menonton dan terkikik geli saat ada yang menyanyi dengan fals.
Cemburu?
Pasti.
Aku duduk
tak jauh dari tempat ia memetik senar gitar. Aku berharap juga dapat bernyanyi dengan
lantang di sampingnya. Aku mendamba agar ia terpaut padaku dan tak pernah
beralih. Aku mengidamkan senyumnya ditujukan hanya padaku dan tak pernah
berpindah. Walau realitas mengungkapkan bahwa aku hanya memandangnya.
Di dalam
benak terselubung harapan ia akan tanpa sengaja menatapku balik. Walau sekilas.
Sekejap pun tak mengapa.
Hingga waktu merangkak menuju hilir malam, harapanku tak kunjung terkabul.
Kegiatan
makan diganti dengan menyiapkan lampion yang akan dihembuskan api ke langit. Semua
kelompok telah menulis harapan mereka di lampion. Aku tidak menulis namamu
disana. Hatiku iya. Setelah menulis, kaki kami berjalan menyusuri jalanan pasir
yang kasar dengan batu yang menyesaki menuju lapangan yang terbuka. Hatiku tidak.
Aku masih
dalam pergumulan.
Tuhan, tolong ajar aku untuk melihat matahari di balik hujan.
Saat yang
lain terpikat oleh pesona lampion yang menyala, aku tengah berjuang menahan
hidroksida yang hendak mengalir dari mata.
Jiwaku
tengah berdiri di antara sebuah jalan yang bercabang. Akankah aku memilih
Yehezkiel, atau Penciptaku. Penciptaku yang cemburu jika biji matanya tak menyerahkan
segenap hidupnya untuk Dia, atau Yehezkiel yang tak peduli.
Tuhan, tolong kuatkan aku untuk menari di bawah hujan, bukan menunggu badai untuk berlalu.
Tuhan, tolong kuatkan aku untuk menari di bawah hujan, bukan menunggu badai untuk berlalu.
Semua orang tersenyum. Aku rasa tak ada salahnya menyunggingkan seulas senyum juga, walau hati teriris.
Air mata
menggantung di pelupuk bukan karena aku tak tahu jalan mana yang akan kupilih, melainkan
karena jawabannya sudah sejelas kristal.
Aku sedang
meratapi perpisahanku dengan perasaanku.
Karena
aku tak rela jika seorang pemuda merentangkan jarak antara aku dan Penciptaku.
Tuhan, tolong ingatkan aku bahwa Kau memberikan perang
tersulit kepada prajurit-Mu yang tertangguh.
Lampion
telah terbang (sambil membawa pergi kepedihanku).
Semua bersorak
(aku juga dengan tangis yang mengiringi).
Aku menengadah
(untuk mengucapkan selamat tinggal).
Langitnya
indah, karena langitnya berbintang (dimana
para bintang telah menyimpan lukaku dan berjanji takkan membukanya lagi).
Dan kami
beranjak kembali untuk bertemu dengan peraduan mimpi (dan aku beranjak kembali untuk bertemu peraduan mimpi).
xxx
Air mataku telah dihapus.
Hatiku telah diubah.
Kakiku telah meniti jalur menuju awal yang baru.
xxx
The End
xxx
A/N: Kenapa
saya berani pasang nama asli orangnya, padahal bisa saja orang tersebut
membaca? Karena saya pintu yang terbuka. Dan saya telah melangkah maju. Jadi saya
tak keberatan membagi cerita saya dengan siapapun, bahkan dengan orang yang
dimaksud.
Ini menulisnya lima belas menit hahaha what do you
expect, people?
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”