#18 Frozen Time, Frozen Bus Stop
![]() |
| source |
Frozen Time, Frozen Bus Stop
An original story written by Asha D
Words I’m using from my words table: Salju, Tidak Sendirian, Masa Depan, Sempiternal
(Abadi)
Words: 2202
A/N:
CLICHÉ. CLICHÉ EVERYWHERE. The power of ngebuuut! Quality not guaranteed. Anyway
I just found this app called Thumbstory. It’s actually a fun app but with too
little facilities. I wish I can make a cell phone novel, you know? But the app
won’t allow. Sigh. Indonesia kapan majunya seeeh?! Kalo bikin ponsel novel di
website lain harus bahasa Inggris -_-
AAA
Kita kerap kali menyakiti diri kita sendiri.
Bagai sebuah orbit yang tak kenal lelah, siklus yang
tak kenal akhir, dan rantai yang tak kenal ujung.
Kita selalu mencari pembenaran atas tindakan yang kita
perbuat.
Walau nurani telah berteriak, sanubari telah
mengingatkan, dan hati berdenyut perih.
Seiring waktu, kebiasaan menjadi darah daging.
Kita adalah masokis untuk diri kita sendiri.
Hingga mata kita buta oleh jalan buntu.
Dan maut terlihat lebih menggiurkan.
AAA
Malam
itu Eirii tak mengharapkan apapun selain dingin yang menggigit, beku yang
menyelubungi, dan hawa angin yang menyergap. Eirii dapat melihat uap yang
keluar dari mulutnya, dan tertawa sinis karenanya. Sialan kau Seoul, batinnya, tak
puas kau membuatku merana?
Sesekali
gadis bertubuh langsing tersebut melangkahkan kaki jenjangnya di sekitar halte
bus yang kosong. Seolah berusaha untuk menghangatkan tubuhnya dengan gerakan
yang ia buat. Tiap menit tangannya tak pernah absen mengeratkan jaket,
memblokir salju yang mengintip. Iris mata segelap obsidian menatap gelisah jam
tangan yang menunjukkan pukul 10.17 waktu setempat. Sesekali ia mengibaskan
rambutnya dari kristal yang mencumbu dan melontarkan gerutuan pada bus yang tak
kunjung datang.
Waktu
bergerak lambat, seolah telah apatis terhadap dunia.
Eirii
telah melakukan semua hal yang ia bisa untuk membuatnya tetap sibuk. Kini ia
mulai menguras otaknya yang buntu untuk mengeluarkan daftar kegiatan yang dapat
mengusir kegelisahannya. Ah, tidak, bukan untuk membuat tubuhnya tidak terkena
hipotermia.
Ia
hanya ingin belajar untuk lupa.
Dan
saat semua aktivitas telah ia lakukan, memori itu kembali merebak ke permukaan
tanpa bisa ia cegah.
Matanya
perih. Pandangannya nanar. Kelopak mengerjap, sakit. Tenggorokannya seolah
menjadi sempit tatkala ia mencoba untuk menahan air mata. Sial, sial, sial, maki Eirii dalam hati. Hidroksida telah meluncur
ke pipi saat gravitasi memanggil. Belum sempat Eiiri mengusapnya dengan kasar,
salju telah lebih dulu mengurung air mata dalam gumpalan abadi. Mencetaknya ke
wajah muram Eirii, dan mengentalkannya ke luka yang menganga di hati.
Waktu
bergerak lambat, seolah telah apatis terhadap insan yang kesepian di halte bus
yang membeku.
Suara
gesekan sepatu dengan tanah yang kasar menyentakkan Eirii ke dunia nyata.
Dengan sigap ia menoleh ke sumber suara. Eirii tidak tahu kenapa punggungnya
mendadak tegang—entah karena ia takut kepergok menangis atau ada yang berniat
jahat kepadanya. Seorang pria dengan topi kupluk dan rambut gondrong duduk tak
jauh dari Eirii di halte bus yang sama. Tubuhnya ia sandarkan pada kursi
panjang yang sejak tadi tak mampu menarik minat Eirii—terbukti Eirii terus
berdiri tanpa tergugah untuk mengempaskan bokongnya disana.
Eirii
baru sadar kakinya kesemutan. Ini semua karena perihal hati sialan, terlalu
menyita fokus hingga jasmani diabaikan. Diam-diam Eirii melirik pada pria
tersebut. Walau penampilannya terlihat 'sembrono', Eirii tahu jelas bahwa
pakaiannya rapi dan dari merek ternama. Tak lama kemudian, tanpa ada aba-aba
kedua tatapan mereka bertemu. Eirii langsung membuang muka, enggan dianggap
aneh. Namun walau hanya sekilas, Eirii kenal jelas tilikan yang terlontar dari
mata pria tersebut. Pandangan tajam bak elang khas orang intelek.
“Kau
menangis?” Suara pria asing tersebut merobek hening. Aksen Seoulnya terdengar
menawan dan kharismatik. Eirii mendengus, pria ini pastilah tipikal pria yang
menggaet hati para wanita semudah menginjak kecoak. Dan uh… Sial. Salah satu
ketakutannya terbukti. Tangis yang beku terbukti menyisakan jejak, terlalu
jelas hingga orang asing dapat melihatnya.
Eirii
hanya memandang jalan kosong di hadapannya, walau ia sadar betul terhadap gerak
gerik pria tersebut. Pria tersebut berdiri. Menjalan mendekat. Kemudian menyunggingkan
senyum. Samar, tipis, tapi sejuk.
"Kenapa?"
Ada simpati tulus yang tersirat di dalam suaranya. Bukan urusanmu, Eirii mencibir. Apa Eirii terlihat seperti remaja
labil? Demi Tuhan, dia adalah mahasiswi universitas ternama dengan beasiswa. Apa
kepintaran tidak terpancar dari wajahnya? Atau mungkin pria tersebut terlalu
bodoh untuk melihatnya. Jika jawabannya adalah yang terakhir, maka Eirii tidak
bisa menyalahkannya.
"Kau
sakit?" Pria tersebut mengeluarkan sebungkus rokok baru dari kantong mantelnya,
kemudian merobek bungkusnya. Eirii mengatupkan mulutnya. "Kau
tersesat?" tanya pria itu sambil mengeluarkan sebatang rokok dari
kotaknya. Eirii memalingkan mukanya, berlagak seolah tak ada orang lain selain
dirinya di sana. Salju roboh ke bahu saat rambutnya mengikuti arah gerak
kepalanya.
"Kau
dicampakkan?" Eirii menggigit bibirnya. Betapa tangannya gatal ingin
mencakar wajah pria dengan ekspresi santai tersebut. Sesaat kemudian, pria
tersebut mendesis, “Dicampakkan, huh?”
Dia menyalakan rokok dengan pemantik dan menghisapnya. “Menyedihkan sekali,”
“Terima
kasih,” Sarkasme. Sinis. Muak. Eirii jauh lebih kesal dengan ucapan pria
tersebut dibanding dengan kepulan asap rokok yang membentur rambutnya.
“Wow,
aku tak tahu kau bisa berbicara,” Bukannya tersinggung, pria itu menyuguhkan
tawa hangat. Tawa yang terlalu hangat bagi telinga Eirii yang telah kebal
dengan apapun yang manis. “Kau mau kopi? Aku tahu kafe yang menyajikan kopi
terenak di dekat sini. Kau tidak akan menyesal,”
Kopi.
Kopi, ya? Rasanya itu benda terakhir yang dibutuhkan Eirii saat ini. Kopi
mengingatkannya pada pertemuan pertamanya. Pada kencan pertamanya. Pada ciuman
pertamanya. Pada seks pertamaya. Pada pertengkaran pertamanya. Pada perpisahan
pertamanya. Tentu Eirii mau kopi, jika ia adalah seorang masokis kenangan lama.
Air
mata mengental di pelupuk mata secara inisiatif. Eirii risih, namun ia terlalu
malu untuk menghapusnya di depan orang asing. Dalam hati ia berdoa agar salju melenyapkannya
air mata yang terasa membakar kornea. Hanya saja Eirii tersendu-sendu tanpa
diminta, hingga akhirnya tangisan sunyi tersebut pecah menjadi isakan yang
menganggu.
Pria itu
hanya menatapnya, kemudian menghela nafas. Ia memajukan badannnya hingga kepala
Eirii terbenam dalam dadanya. Eirii terkesiap dan hendak mundur, namun tangan kanan
pria tersebut merengkuh pinggangnya dengan lembut dan menariknya maju.
Terlalu
lembut. Terlalu dekat. Tangannya terlalu besar, terlalu kokoh.
“Menangislah,
sobat, aku tak akan menghakimimu,” Pria itu masih meresapi kenikmatan rokok
dengan sebelah tangannya. Tangannya yang lain ia benamkan di dalam saku
celananya, tanpa terlihat ada niat untuk berpindah.
“Diam
kau. Aku bukan sobatmu. Kau orang asing,” Eirii tidak perlu orang asing untuk
membuatnya merasa hancur lebih dari yang ia bisa rasakan.
Ia
tidak butuh dikasihani.
“Aku
tahu apa yang kau rasakan,” Pria itu kembali mengeluarkan suara baritonnya,
diiringi dengan asap yang menguar.
“Aku
tahu itu basa-basi, tapi terima kasih telah mencoba,” cela Eirii sambil memaki
dirinya sendiri yang bisa saja menangis di hadapan orang tak dikenal.
Pria tanpa
nama tersebut terbahak-bahak tanpa diminta, kemudian melepaskan ‘pelukannya’—jika
memang tindakannya tersebut dapat disebut sebagai pelukan. Dadanya bergerak
naik turun saat ia tertawa, bergesekan dengan rambut Eirii yang tergelung
berantakan. “Ah, kau ini! Aku baru saja akan mengarang cerita sedih untuk
membuatmu merasa lebih baik.” Pria tersebut mengangkat bahunya dan menyeringai,
“Tapi ya, sudah nasibku untuk menjadi orang beruntung.”
Menyebalkan, maki
Eirii. Ia pun melangkah mundur dan mendorong jauh pria tersebut. Semburat merah
menyala mendominasi wajah pucatnya. “Terima kasih telah meminjamkan pundakmu. Aku
akan pergi.”
Pria tersebut
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dengan ekspresi cuek. “Kau yakin tidak
ingin menunggu bus? Aku tidak yakin Seoul cukup aman bagi wanita yang berjalan
sendirian di malam hari.”
Eirii
berhenti di tempatnya berdiri. Sial, dia
ada benarnya juga, Eirii bersungut-sungut dalam batin. Namun rasa gengsi
menahan kakinya untuk berbalik dan membuat hatinya merasakan malu lebih dari
pada yang ia bisa tanggung.
Pria itu
seolah dapat membaca pikiran Eirii, karena tak lama kemudian ia tersenyum bak
seorang sahabat lama, “Ayolah, kawan, apa kau akan membiarkan rasa malumu
melebihi rasa takutmu?” Bau rokok berdifusi dengan suramnya langit Seoul di
tengah musim dingin.
“Aku
tidak takut.” Eirii mau tak mau melahap martabatnya sebagai seorang gadis asing
yang baru saja menangis di hadapan pria asing. Ia pun berjalan pelan ke kursi
panjang di halte bus dan duduk di ujung. Wajahnya melihat ke arah lain, tak
sanggup melihat wajah si pemilik rambut gondrong. “Aku hanya kasihan melihat
kau menunggu sendirian di halte bus. Anggap aja ini balas budiku.”
Pria tersebut
berusaha keras menahan tawa, namun usahanya tersebut membuatnya mengeluarkan
suara-suara aneh. Eirii mendelik, walau masih tak berani menatap langsung. Untungnya,
pria misterius itu tak memaksakan keberuntungannya—ia duduk di ujung yang lain
dari kursi panjang tersebut. Setelah lima menit yang bergulir telah kenyang
oleh kesenyapan, pria aneh itu bertanya, “Apa kau orang Asia?"
Eirii mengangguk
pelan, masih memandang direksi lain. “Kau?"
"Aku
orang Jepang-Kanada. Ah, betapa kasarnya aku, lupa mengenalkan diri pada wanita
cantik di hadapanku,” Pria tersebut menggaruk rambutnya yang tak gatal dan
tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. “Namaku Keishiro John
Watanabe,"
Eirii
bertingkah seolah tangan Keishiro sedang tak tergantung di udara. "Aku
Eirii. Aku rasa kau tak perlu tahu nama lengkapku,”
Keishiro
menarik tangannya dan melipatnya di depan dada. "Wow. Aku tak menyangka
kau punya darah Jepang juga,"
"Jepang-Prancis,
sebenarnya.” Eirii mengoreksi.
"Apa
itu artinya kau bisa berbicara dua bahasa?" tanya Keishiro, walau lebih
seperti pertanyaan retoris.
"Tidak.
Aku berbicara lima bahasa. Jepang, Prancis, Inggris, Mandarin dan Korea."
Keishiro
menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdecak kagum, membuat sebersit rasa bangga
meluap di hati Eirii. Tak lama kemudian, Keishiro mulai berkomentar,"Aku
tak mengerti mengapa ada yang mau mencampakkan gadis sepintar kau,"
Ada sesuatu
yang terasa menusuk di dada Eirii saat mendengarnya, namun ia sembunyikan dalam
diam.
Ah,
Keishiro. Betapa pintarnya kau membuat hati seorang wanita melambung kemudian
kembali terhujam duri kenyataaan.
Keishiro
pastilah tak menyadari perasaan Eiiri, karena ia langsung berbicara dengan raut
wajah santai, "Ada seorang gadis. Dia cantik. Dia seorang gadis Prancis.
Aku jatuh cinta padanya," Eirii cemberut. Seingatnya ia tidak meminta
Keishiro untuk bercerita. Namun ia tak mampu meluncurkan protesnya atau
melanglang pergi, karena Keishiro sudah lebih dulu menyela, "Kami telah
bertunangan. Then shit happened.
Sehari sebelum pernikahan dia kabur bersama sahabatku sejak kecil,"
Eirii terpaku.
Tak berani menengok, ataupun melirik. Kepalanya yang tertunduk membuatnya hanya
mampu melihat sepatu Converse butut yang
dipakai oleh sang pria. Sebuah kontradiksi dengan wajahnya yang seperti pria di
pertengahan tiga puluh dan pakaian mewahnya. Sebuah paradoks, jika ditambah
dengan ekspresi riangnya tatkala menceritakan kisah yang sedih.
"Aku
membujuknya untuk kembali. Aku tidak tahu dimana harga diriku, aku tak peduli.
Aku tak berusaha memungut, ataupun mencari. Di dalam pikiranku hanya ada dia.
Aku hanya ingin bersama dengannya,"
Linu
mengisi ulu hati Eirii. Pengkhianatan. Sensai pahitnya familiar. Tanpa bisa ia
cegah, bibirnya terbuka dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Keishiro
tertawa mendengus. "Aku rasa kau sudah tahu jawabannya, nak. Maksudku,
ayolah, apa ada pria beristri yang menceritakan kisah masa lalunya pada remaja
asing di halte bus? Dia pasti memilih berguling di ranjang bersama istrinya
sekarang," Dia tertawa. Hambar. Hampa. Dan saat dia diam, kecanggungan
yang kentara berdiri di tengah-tengah mereka.
Padahal
Eirii benci lelucon dewasa.
Kelengangan
yang meliputi hancur tatkala suara pria itu kembali mengalir ke telinga Eirii, "Eirii,
aku punya perasaan kau punya hidup yang cerah. Kau hanya harus menendang bokongmu
dan melakukan yang terbaik."
"Apa
kau semacam paranormal? Karena aku alergi pada bullshit," cemooh Eirii.
Keishiro
tersenyum lebar, tak terlihat sedang menyembunyikan sakit hati akiabt ucapan
Eirii. "Kau tahu? Aku berharap ada diriku yang lain yang menghiburku saat
aku terpuruk, sama seperti aku menghiburmu sekarang,"
"Kau
tidak sedang menghiburku, pak tua. Kau sedang membuatku berharap kau membawa
bokong baumu ke tempat lain secepatnya," hina Eirii.
"Ouch.
Kau menyakiti egoku, bocah," Keishiro terkekeh walau bagi Eirii tidak ada
yang lucu sama sekali. "Tapi aku suka sarkasme. Jadi tidak ada kopi malam
ini?"
Eirii menghela
nafas. Ucapan kasarnya tak menghentikan perbuatan baik Keishiro, yang sedikit
banyak meluluhkan hati dinginnya. "Terima kasih untuk tawarannya, tapi
tidak, tidak ada kopi malam ini. Mungkin lain kali, kalau kita bertemu di
keadaan yang lebih baik."
Keishiro
beranjak berdiri dan membuang puntung rokoknya sembarangan. "Tapi tidak
ada lain kali. Sampai jumpa, sobat."
Bus
yang Eirii akan tumpangi baru saja tiba bertepatan dengan kepergian Keishiro. Eirii
belum sempat bertanya apa maksudnya, namun siluet Keishiro telah menghilang di
balik gang, dan tak pernah muncul lagi.
Saat Eirii
hendak menjejakkan kakinya ke dalam bus, ia mendengar seseorang memanggilnya, “Kakak…”
Eiiri melihat ke sekelilingnya, namun tak kunjung bertemu sumber suara. Barulah
saat sebuah tangan yang mungil dan dingin menarik ujung jaketnya, ia mengetahui
siapa pemanggilnya.
Seorang
anak kecil bermata lapis lazuli dan surai hitam dengan mata yang berbinar oleh
air mata. Ia mengulurkan sebuah foto kusam dan bertanya dengan penuh harapan, “Apa
kakak lihat abang saya?”
Mata Eirii
menelusuri foto tersebut. Belum sempat ia menjawab, dua tangan besar telah
menarik tubuh anak kecil tersebut dan menggendongnya. Anak itu meronta,
sementara pria berumur yang memeluknya berbicara, “Maaf, keadaannya sedang
tidak stabil. Kenichi, ayo pulang,”
“Maaf…
tapi saya baru saja bertemu dengan abangnya,” sela Eirii.
Kakek tersebut
tidak jadi berjalan pergi. “Apa kau bercanda?”
“Tidak.
Aku baru saja menangis—ah, maksudku, bertemu dengannya,” jawab Eirii, merutuki
kebodohannya yang hampir saja membeberkan aib.
Muka Kenichi
berseri-seri mendengar ucapan Eirii, sementara sang kakek memelototinya, “Anak
muda, aku tidak tahu siapa kau. Tapi Keishiro meninggal setahun yang lalu
akibat kecelakaan tepat di depan halte bus ini, akibat ditinggal oleh calon
istrinya sehari sebelum pernikahan. Kau sebaiknya tidak mengada-ngada.”
Eirii tak
beranjak dari tempatnya berdiri, masih menunggu sesuatu atau seseorang
menyadarkan kakek ini bahwa dia salah.
Sementara
bus yang akan membawanya kembali ke rumah telah lebih dulu melaju.
Baginya
waktu bergerak lambat, seolah telah membeku di halte bus yang dingin.
AAA
TAMAT
AAA
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”