#12 Impian Dalam Mimpi
Impian Dalam Mimpi
An EXO fan fiction,
written by Asha D
Genre : general
Words : 1147
A/N: Yang terakhir dari serial 'orderan teman buat ujian praktek'. Phew. Kualitas gak terjamin karena buatnya buru-buru dan tanpa mood.
Ujianku
telah kulewati. Impianku pun telah tercapai. Wow! Aku telah melewati masa SMA-ku dengan
sangat baik. Setelah melewati hari-hari yang melelahkan itu, aku terbebas dari
kesendirian selama aku tinggal di Indonesia, tanpa pernah terdengar suara papa
mama. Mereka pasti bangga atas keseriusanku hingga mendapat beasiswa untuk
melanjutkan kuliah ke negeri asalku, Cina. Aku tak akan lagi tinggal bersama
tanteku yang berbaik hati menampungku di Indonesia.
Seminggu
lagi terasa bagaikan satu abad bagiku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu
dengan kedua orangtuaku disana dan melanjutkan studiku. Aku berbaring di tempat
tidur sambil mendengarkan lagu dari grup idola favoritku, EXO. Setiap kali aku
mendengar lagunya, rasa senang dan hangat membanjiri hatiku. Aku paling
menyukai anggota EXO yang bernama Kris.
Seminggu
kemudian, di malam hari, aku dan sahabatku, Friska, akan berangkat ke Cina. Aku
memeriksa segala perlengkapan pribadiku yang telah kukemas. Rasa lelahku
ditutupi oleh ketidaksabaranku untuk sampai disana. Aku mengirim pesan kepada
mama bahwa aku dan temanku sudah di atas pesawat, yang akan lepas landas dalam
beberapa menit lagi. Dalam hitungan detik aku pun mendapat balasan darinya.
Seperti biasa, isi pesan mamaku penuh dengan penuh kekhawatiran karena aku
mabuk udara. Namun anehnya, aku bisa tidur nyenyak selama di pesawat.
Ketika
aku membuka kedua mataku, aku telah sampai di Cina. Begitu turun dari pesawat
dan berdiri di ruang tunggu, kami dijemput oleh kedua orangtuaku. Aku dengan
senang hati memperkenalkan Friska dan bertukar rindu dengan kedua orangtuaku.
Sesampainya di rumah aku bermain dengan adikku, Mario, yang rasanya terlihat
makin tinggi, gagah, dan tampan dibandingkan sebelumnya. Aku tinggal di
kamarku, sementara Friska tinggal di kamar tamu.
Dua
hari kemudian, aku dan Friska memulai hari pertama kuliah dengan sangat berat. Di
Beijing University, orientasi mahasiswa tidak dijalankan dengan khusus. Kami
hanya diajak berkeliling universitas. Untungnya kendala bahasa tidak
memberatkan kami karena kami sudah fasih berbahasa mandarin. Semua mahasiswanya
baik dan ramah.
Tak
terasa setahun telah lewat. Setelah melamar di sebuah hotel, aku dan Friska
dapat bekerja magang, berhubung jurusan kuliah kami adalah di bidang pemasaran
dan manajemen. Nilai dan predikat kami yang baik membantu kami untuk mendapat
tempat di hotel ternama. Aku bekerja sebagai resepsionis karena resepsionis
yang dahulu tengah cuti melahirkan, sedangkan Friska bekerja sebagai manajer
pemasaran karena pekerja yang dahulu sudah keluar.
Aku
dan Friska pun menjalani hari kami tanpa mengetahui peristiwa spesial akan
terjadi di dalam hidup kami.
***
Aku
berlari dari halte bus menuju ke hotel. Karena teledor, aku terlambat bangun.
Aku takut pimpinan akan mengetahui bahwa aku terlambat dan memecatku. Sialnya,
saat aku berusaha masuk dari lobi, lobi yang biasanya hanya diisi oleh beberapa
orang tiba-tiba menjadi sesak. Wartawan dan sejumlah banyak perempuan memenuhi
lobi. Aku pun bertanya pada gadis asing yang berdiri di sebelahku, “Apa ini?
Apa yang terjadi?”
“EXO
menginap di hotel ini!” teriak gadis tersebut. Sesaat kemudian, aku melihat
sebuah van hitam berhenti di depan hotel, dan sejumlah pria yang kukenal
sebagai anggota EXO berjalan keluar. Para wartawan berusaha bertanya sementara
para fans menjerit histeris dan berusaha memegang para anggota. Aku berusaha
masuk ke lobi, namun para wartawan dan fans terus mendorongku, hingga akhirnya
aku terjatuh.
“ADUH!”
Anehnya, saat badanku terjatuh, badanku tidak menyentuh tanah. Malah, sepasang
tangan telah memegang kedua tanganku dari belakang.
“Kau
tidak apa-apa?” Sebuah suara familiar berbisik di telingaku. Saat aku menoleh,
aku sungguh terpana. Ternyata itu… Kris!
“Tidak…
aku… aduh!” Tanpa sengaja aku menabrak Luhan, anggota EXO yang lainnya.
“Maafkan aku,” ucapku pada Luhan dan Kris. Luhan hanya tersenyum memaklumi,
sementara Kris masih menatapku. Aku pun bertanya padanya, “Kenapa kau bisa ada
di sini?”
“Karena
besok ada fansign EXO di mall Haute Cuture,” jelas Kris. Aku
sadar bahwa tangannya masih memegang tanganku. Belum sempat aku mengobrol lebih
lanjut pada Kris, Friska sudah lebih dulu memanggilku, berkata bahwa pimpinan
mencariku. Aku pun buru-buru pamit dari Kris sambil berharap pimpinan tidak
memecatku.
***
Setelah
hari yang sibuk dan panjang, aku telah sampai di rumah. Pimpinan tidak memecatku.
Ia terlihat begitu senang hari ini, mungkin karena itu ia berbaik hati untuk
‘hanya’ mengomeliku. Aku sungguh senang bahwa EXO akan mengadakan fansign apalagi saat aku tahu bahwa
ternyata orangtuaku diam-diam meminta Friska untuk membeli tiket fansign kepadaku. Aku pun tidak dapat
tidur dengan nyenyak karena memikirkan akan bertemu dengan idolaku.
Esoknya,
aku dan Friska pergi ke mall Haute Cuture. Antrian sungguh panjang dan
melelahkan. Hingga tiba giliranku untuk bertemu dengan idolaku. Kris duduk di
paling ujung kanan, sementara aku di ujung kiri. Aku sudah berjabat tangan dan kartu
fotoku telah ditandatangani oleh kesebelas anggota EXO. Kini, tiba saatnya aku
bertemu dengan Kris. Kris menandatangani kartu fotoku. Saat berjabat tangan,
anehnya, Kris tidak mau melepaskan tanganku.
“Apa
kita pernah bertemu?” tanyanya. Aku sungguh terkejut, juga gugup karena semua
fans memandangku dengan bingung, cemburu dan kesal.
“Ya.
Aku adalah gadis yang kemarin kau tolong di depan hotel,” jawabku jujur. Kris
pun tersenyum, kemudian memberiku high
five. “Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu,” Ia pun menoleh
kepada pria di sampingnya dan memanggil namanya, “Chanyeol! Ayo beat box untukku!”
Chanyeol,
anggota EXO yang lain, mulai beat box,
sementara Kris mulai menyanyikan bagian rapp
dari lagu Nothing on You. Aku
sungguh senang, bahkan mulai mengeluarkan ponselku untuk merekam penampilan
itu. Saat mereka selesai tampil, semua fans bertepuk tangan. Aku dan Friska pun
pulang dengan hati yang sungguh senang.
***
“Tania!
Tania!” Sebuah suara familiar berseru memanggilku. Aku membuka mataku dan
sungguh bingung saat melihat bahwa aku berada di kamar tidurku. Aku pun bangun
dan semakin bignung saat menyadari bahwa mamaku telah berdiri di sampingku.
“Ada
apa, ma?” tanyaku sambil menguap. Mamaku menggeleng melihat tingkah lakuku. “Hei,
bukannya kamu ingin pergi ke fansign EXO?
Friska tadi sudah coba membangunkanmu, tapi kamu tetap tidur. Dia terpaksa
pergi duluan dan titip pesan pada mama agar membangunkanmu,”
Aku
terperanjat mendengarnya. Aku pun buru-buru melihat jam. Mama benar! Sekarang
sudah pukul sepuluh, sementara fansign diadakan
pada pukul tujuh! Aku buru-buru mengganti baju dan berlari ke halte bus. Tidak
ada bus yang kunjung lewat. Aku berusaha menelepon Friska, namun tak kunjung
diangkat. Aku pun menyetop sebuah taksi dan meminta supir untuk mengantarku ke
mall Haute Cuture.
Aku
benar-benar tidak percaya, apa benar yang kualami selama ini hanya mimpi? Aku
melihat isi tasku, dan aku menemukan kartu pelajarku sebagai mahasiswi di
Beijing University. Aku juga melihat kartu identitasku sebagai resepsionis di
hotel. Aku segera mengecek ponselku. Tidak ada video penampilan Kris dan
Chanyeol. Jadi apakah acara fansign tersebut
hanya sebuah mimpi?
Begitu
taksi sampai di depan mall, aku segera turun. Aku semakin terkejut lagi saat
menyadari bahwa acara fansign telah
bubar. Sesaat kemudian kulihat Friska berlari kearahku dan bertanya, “Hei!
Kenapa kau baru datang? Acara fansign
telah bubar!”
“Aku
terlambat bangun!” Aku masih tidak percaya. Apa benar hanya mimpi? Mengapa
rasanya sungguh nyata? Aku berusaha mencari satu bukti lagi di tasku, yaitu kartu
foto EXO yang selalu kubawa kemana saja. Saat aku merogoh isi tasku, aku pun
menemukan kartu foto tersebut.
Betapa
terkejutnya aku dan Friska saat aku melihat bahwa kartu foto tersebut telah
ditandatangani oleh Kris.
TAMAT
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”