#11 Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan


Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan

An original fiction, written by Asha D

Genre : romance/hurt/comfort

Words : 1056
A/N: Order temen juga *udah kayak series aja* Pokoknya yang buat temen kualitasnya ga maksimal karena emang mereka yang request/waktu kepepet/gak ada mood #watados #notgomen

AAA

Hai, namaku Kara Ayunda. Aku adalah gadis yang berasal dari Pekanbaru. Suatu hari orangtuaku memutuskan agar aku melanjutkan sekolah menengah atas di Medan. Aku sungguh sedih karena harus meninggalkan keluarga dan temanku. Namun orangtuaku berjanji akan rutin mengunjungiku. Aku pun menyetujuinya.


Aku masuk ke sebuah SMA ternama, yaitu SMA Guna Bangsa. Selama di Medan, aku tinggal dengan tanteku. Masa orientasi kujalani dengan senang hati, namun ada satu hal yang mengganjalku—tepatnya satu orang. Orang itu bernama Arya. Dia adalah temanku di sekolahku sekaligus tetanggaku. Ia selalu saja ribut dengan mobilnya, sehingga menganggu para tetangga khususnya aku. Ia juga sombong; ia tahu wajahku dan namaku namun ia tak pernah menyapaku. Bahkan, ia selalu membuang muka setiap kali kami bertemu pandang.

Suatu hari, sekolah kami mengadakan festival menari tarian tradisional. Acara ini mewajibkan semua murid untuk ikut latihan tari tradisional. Aku sungguh tidak ingin ikut karena aku benci menari, sehingga aku membuat alasan kepada guru bahwa pada hari festival akan diadakan, aku pergi ke luar kota. Aku dan temanku yang juga izin pun duduk di kantin, sementara yang lain berlatih di aula. Saat itulah aku melihat Arya berjalan ke arahku. Anehnya, ia tidak membuang muka, malah bertanya kepadaku, “Kenapa tidak ikut latihan?”

Aku sungguh bingung dan terkejut. Arya yang selama ini sombong itu tiba-tiba menyapaku, tanpa ada angin dan hujan? Aku pun menjawab dengan jujur, “Aku malas. Kalau kamu, kenapa di sini?”

Mendengar pertanyaanku, dia menggaruk kepalanya dan menyeringai, “Ya, ikut, tapi terpaksa. Memangnya boleh ya tidak ikut?”

Aku mengangguk. “Boleh, asal izin ke wali kelas dengan alasan yang jelas. Kenapa kamu ada di sini? Bukannya semua sudah di aula?”

Arya hanya tersenyum tipis. “Aku terlambat. Lagipula, untuk apa cepat-cepat ke sana? Menari itu tidak enak,”

Jadilah Arya mengobrol denganku dan temanku pagi itu. Arya mengajak kami bermain di kelasnya. Ternyata ada murid lain juga yang membolos. Jika ada guru yang bertanya mengapa kami ada di kelas, bukannya di aula, Arya yang menjawab bahwa kami semua sudah izin. Benar-benar tipikal murid yang nakal, beraninya berbohong kepada guru seperti itu.

Kami bermain ponsel, mencoret papan tulis, dan bernyanyi dengan iseng. Aku tidak menyangka, ternyata Arya punya sisi yang menyenangkan. Tanpa terasa waktu latihan sudah hampir berakhir. Saat aku hendak berjalan keluar, Arya menanyakan nomor ponselku. Aku sungguh tak menyangka, pemuda cuek tersebut tiba-tiba menjadi ramah bahkan bertingkah seolah dia adalah teman dekatku. Aku pun tak ragu memberikannya. Saat semua murid yang berlatih sudah keluar dari aula, kami pun berpisah…

... tanpa menyadari bahwa bibit rasa suka telah tumbuh di hatiku.

***

Sejak hari Arya meminta nomor teleponku, kami menjadi lebih dekat. Tiap kali kami bertemu di koridor di sekolah, kami selalu menyapa. Arya juga sering mengirimku pesan dan berbasa-basi. Terkadang ia juga meneleponku. Anehnya, walaupun berbeda kelas dan berbeda hobi, kami tetap nyambung. Kami tak pernah kehabisan topik. Tiap kali aku melihat wajahnya, mendengar suaranya, jantungku mulai berdebar. Aku mulai gugup, hingga tanpa terasa wajahku menjadi merah dengan sendirinya. Aku menjadi salah tingkah tiap kali ia berdiri di dekatku. Aku pun mulai cemas, apa Arya tahu perasaanku padanya?

Aku pun menanyakan pendapat sahabatku, Isabel. Isabel berpendapat bahwa jika Arya tak kunjung mengetahui perasaanku, ada baiknya aku menyatakan dulu perasaanku terhadapnya. Aku semakin bingung. Aku tidak berani menyatakan perasaanku pada Arya, karena aku tak pernah melakukannya.

Tanpa terasa, selama setahun aku telah memendam perasaanku padanya. Arya tak terlihat seperti orang yang tahu bahwa aku menyukainya. Ia tetap berlaku biasa padaku. Hanya kelakuankulah yang berubah. Aku menjadi serba salah. Aku takut Arya mengetahui perasaanku dan malah menjauhiku.

Selama aku memendam perasaan ini, aku harus menderita dengan banyak perasaan cemburu. Kadang ada saat-saat dimana aku ingin sekali memberitahu perasaanku pada Arya agar ia tak selalu membuatku cemburu, namun entah bagaimana aku selalu berhasil menahannya. Namun rasa suka itu terus bertumbuh, hingga tak dapat dibendung lagi.

Hingga tiba malam itu… malam dimana duniaku seolah terjungkir balik.

***

Malam itu, Arya meneleponku seperti biasa. Aku pun mengangkatnya, “Halo?”

Arya, kenapa, terdengar gugup. “K-kamu lagi apa?”

Aku mengulum senyum saat mendengar suara Arya tanpa menyadari kegugupannya. Aku yang tadinya sedang mengerjakan PR menjadi tidak konsentrasi. Namun tak apalah, demi Arya apa yang tak akan kulakukan.

“Aku tadinya lagi buat PR, tapi sekarang kamu lagi menelepon,” jawabku.

Arya semakin salah tingkah. “Aduh, maaf ya, aku ganggu ya?”

Aku tertawa pelan, “Tidak, kok, santai saja. Ada apa?”

Arya berdehem, kemudian kembali berbicara, “Ada yang ingin kuberitahu,”

Aku sungguh kaget. Tidak biasanya Arya terdengar begitu serius. Aku menjadi semakin gugup, apa yang Arya akan katakan? Apa dia… akan menyatakan perasaannya padaku? Atau jangan-jangan dia akan bilang bahwa dia sudah punya pacar dan tidak bisa berhubungan dekat lagi padaku? ‘Aduh, Tuhan, jangan sampai kemungkinan kedua yang terjadi,’ batinku.

“Halo, Kara, kamu masih di sana?” tanya pemuda tersebut.

“Iya. Ada apa? Kalau mau ngomong ya ngomong saja, tidak perlu serius begitu,” ujarku, mencoba untuk mencairkan suasana.

“Kara, sebenarnya aku…” Beberapa detik berjalan, suara Arya tak kunjung muncul.

“Halo? Arya?” Rasa bingung dan gugup bercampur aduk di dalam hatiku. Hubungan telepon kami masih tersambung, tapi kenapa Arya tak kunjung mengucapkan apa-apa?

“Iya, Kara, tenang saja, aku masih di sini. Aku hanya bingung bagaimana mengucapkannya,” Arya pun mengambil nafas dan menghelanya panjang.

“Sebenarnya aku mau pindah, Kara,”

Mendengar berita itu, aku hanya bisa melongo. Dadaku berdenyut oleh rasa nyeri. Hatiku seakan telah retak. Arya sepertinya tidak menyadari keterkejutanku, karena ia terus melanjutkan ucapannya, “Orangtuaku akan pindah ke Jakarta, dan aku harus ikut. Saat kelas sebelas nanti, kita tidak akan bertemu lagi,”

Air mata sudah menggantung di ujung pelupuk mataku, namun aku tetap menahannya dan berusaha terdengar normal, “Asyik, dong, pindah ke Jakarta? Kita masih bisa bertemu saat liburan, tenang saja!”
Arya diam sesaat, sebelum akhirnya berucap, “Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Aku baru memberitahumu. Aku tidak mau teman-temanku heboh hanya karena aku, idola mereka, pindah. Nanti mereka menangis,”

Aku menggerutu, walau sebenarnya air mataku telah meluncur ke pipiku, “Enak saja, memang kami fans kamu!” Aku mengusap air mataku sambil berusaha mengumpulkan kekuatanku untuk terus melanjutkan percakapan kami, “Aku pergi dulu ya, tante memanggilku,”

Aku pun buru-buru memutuskan hubungan telepon. Aku berbohong. Tante tidak memanggilku. Aku hanya ingin menangis, karena aku tidak tahan dengan fakta yang baru saja kuterima. Saat aku sudah begitu yakin bahwa aku jatuh cinta pada seseorang, orang itu pergi begitu saja. Aku tidak yakin bisa tahan tidak melihat wajahnya lagi, selain dari saat liburan.

Tuhan, mengapa takdir sunggh tega kepadaku…
 

TAMAT

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.