#7 Dan Dunia Pun Terkristalisasi


Dan Dunia Pun Terkristalisasi
An original fiction, written by Asha D
Genre : romance/hurt/comfort
Words : 3276
A/N : Saya stress apa ya sampe lupa punya projek apa aja. Pas mau baca fanfic ada yang sertakan #365StoriesProject di summary and I was like “Whaaat…” Jadinya keinget dan semangat lagi deh buahaha #gataumalu. Udah deh pokoknya cerita ini klise abis buahahaha. But I still like it anyway. Best to read while listening to Miryo ft Sunny – I Love You I Love You (click here to hear the song). UNBETAAA!!!

AAA

Bunyi alarm yang repetitif menyadarkan Atheya dari mimpinya. Kepalanya terasa berat pagi ini—apa itu artinya ia terserang flu? Atheya mengeluh dalam hati. Ia berharap tidak. Pekerjaan yang menumpuk di akhir tahun takkan bisa selesai tepat waktu jika ia absen sehari saja. Ia tidak rela menghabiskan pergantian waktu tahun baru di apartemennya, bukan merayakannya di festival kembang api. 

Huh,’ keluh Atheya lagi. ‘Seperti aku punya teman untuk merayakannya saja.’ 


Atheya benar, ia tak punya teman untuk merayakan tahun baru. Apakah kucing peliharaan termasuk teman? Jika ya, maka Atheya punya satu kawan yang akan bergelung di dalam pelukannya saat orang-orang menghitung mundur menuju tahun 2014. Namanya Crystopher, dan percayalah; sifatnya tak secantik penampilan dan namanya.
Atheya menjejakkan kakinya ke lantai dan langsung mengangkatnya sambil menjerit pelan.  Suhu lantainya sama bekunya dengan gelanggang es. Kemarin malam ia lupa menyalakan penghangat ruangan—sebuah tindakan yang bodoh, mengingat Seoul telah memasuki musim dingin—karena ia begitu lelah. Ia bahkan tak yakin sudah memberi makan Crystopher. 

Ah ya, di mana kucing berbulu putih tersebut?

“Crys…” Atheya menyelipkan kedua kakinya ke dalam sandal rumah, masih menggigil oleh tajamnya esensi dingin yang ada di bawah telapak kakinya. “Crys… kau dimana?” 

Tidak ada sahutan. Atheya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lantas mengedikkan bahunya. Keheningan pecah oleh deringan monoton yang keluar dari teleponnya. Atheya mengerang, seolah ia bisa melihat langsung wajah orang yang tengah menghubunginya. Siapa lagi kalau bukan rekan kerjanya yang membosankan, Jung Myun-Jae?

‘Halo, ini Atheya. Silakan tinggalkan pesan!’ Atheya terkejut oleh rasa jijik yang menjalari tubuhnya begitu ia mendengar nada ceria dari mesin penjawab panggilan. Nada ceria yang notabene dilontarkan oleh bibirnya sendiri. Namun kebahagiaan yang kentara itu ada jauh sebelum ia terperangkap dalam momen itu. 

Momen yang hingga kini terkristalisasi di dalam hatinya.
  
“Kim Atheya,” Angan Atheya terusik oleh suara bariton mitranya yang maniak ketepatan waktu tersebut. “Aku tahu kau ada di sana.” 

Atheya merengut. Dengan cepat ia menapaki kakinya dan mengangkat gagang teleponnya, “Aku akan datang,” Dengan satu sentakan yang kasar, Atheya yakin ia telah membuat Myun-Jae keki di seberang sana.

Atheya menghela napas, kontan melongo ke benda berbulu yang melingkup di samping lemari bukunya. “Ternyata di situ kau rupanya,” Wanita tersebut membungkuk untuk menggendong Crys. Sudut matanya tanpa sengaja menangkap kartu ucapan yang ia biarkan tergeletak di bawah lantai, penuh dengan coretan tinta dan jejak kering yang ia kenali sebagai air matanya. 

Atheya dapat merasakan dirinya menjadi kaku oleh kenangan yang menyeruak paksa dari dalam peti ingatannya. Kenangan yang mendesak dan ingin menuntutnya karena telah dikurung begitu lama. Barulah saat Crys mengeong pelan, Atheya tersadar dari lamunannya.

“Crys, apa yang kubilang tentang bermain di dekat lemari buku?” Pertanyaan retoris yang dijawab dengan suara manja Crys. Atheya menggendong Crys, mengelus bulunya dan menggumam pelan, “Jangan bermain di dekat ke sini.” 

Karena kau hanya akan membuka luka lama yang tak mampu kubuang.

AAA

“Oh, akhirnya kau datang juga,” Nada masam yang kentara menyambut Atheya begitu ia membuka pintu kantornya. Myun-Jae bersandar pada kursi miliknya dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau tahu? Tadi aku hampir saja menelepon paramedis. Siapa tahu kau pingsan di dalam apartemen dan tidak ada yang tahu.” Tatapan sinis pria tersebut menghujam sosok wanita di depannya. 

“Hahaha, lucu sekali.” Atheya meletakkan tasnya di meja dan mulai mengeluarkan laptopnya. Sesaat kemudian ia tersadar sebuah benda persegi asing telah duduk manis di mejanya, seolah menunggu untuk dibuka.

“Apa ini?” 

Myun-Jae tidak mengalihkan pandangan dari laptopnya saat ia menjawab, “Undangan pernikahan. Apa kau tidak pernah melihatnya? Well, aku tidak akan menyalahkanmu.”

Atheya memutar bola matanya. Jika kau terlambat sedikit aja, atau dia sedang kesal, siap-siap aja menjadi korban sindiran maut Myun-Jae. Untungnya Atheya punya telinga yang kebal. Namun tetap saja dalam hati ia merutuk kenapa dari sekian pengacara yang ada di kantornya, ia harus ditempatkan di ruangan yang sama oleh Myun-Jae. Hanya berdua saja. 

Pertemuan pertama Atheya dan Myun-Jae tiga tahun lalu berdua tidak begitu baik, sebenarnya. Myun-Jae yang punya jiwa kompetitif terganggu dengan kualitas yang dimiliki Atheya. Sementara Atheya yang saat itu baru mulai bekerja, tidak peka dan cenderung berterus terang tanpa melihat situasi. Myun-Jae yang saat itu membuang sampah sembarangan merasa tersinggung saat Atheya menegurnya. Mereka berargumen hingga akhirnya harus dilerai oleh pimpinan mereka sendiri. Dan karena keduanya menolak minta maaf, akhirnya sang pimpinan memutuskan upaya mediasi dimana mereka harus ditempatkan dalam ruangan yang sama.

Atheya benci dirinya karena telah menegur Myun-Jae hari itu. 

Ironisnya, tidak ada yang pernah menemui Atheya di sana karena tidak ada yang tahan bertemu dengan Myun-Jae. Sementara Atheya sendiri hampir tidak pernah keluar dari ruangannya, karena dia tipe orang yang tidak senang membuang waktu untuk bersantai.

Jadilah Atheya tidak punya teman untuk berbagi penderitaannya. 

Sungguh, jika ada orang yang bersedia berbagi ruangan dengannya dan Myun-Jae, atau bertukar ruangan dengan Atheya, Atheya akan menangis lebih histeris dibanding saat ia lulus kuliah hasil beasiswa dengan cum laude.

Atheya merogoh undangan pernikahan berwarna merah marun di atas mejanya. Sesaat ia tercenung melihat kedua nama mempelainya. 

Kristofer dan Jenna.

Atheya begitu terhisap akan kedua nama itu hingga ia tidak menyadari seseorang telah memanggilnya. “Hei,” Myun-Jae menjentikkan jarinya di depan wajah Atheya. “Pimpinan memanggilmu.” 

“Aku?"

“Lebih tepatnya, kita.”

AAA

Atheya berjalan keluar dari ruang pimpinan dengan tubuh lesu. Pimpinan memberi tahu bahwa berhubung dia dan Myun-Jae telah akrab (Ha, akrab katanya) dan bersaing secara sehat, mereka akan dipromosikan. Semua klien dari golongan menengah-atas akan diserahkan pada mereka. Pimpinan bahkan rela melepaskan mereka menjadi pengacara pribadi seseorang atau sebuah perusahaan jika ada klien yang berminat. Tentu saja gaji yang mereka terima jauh lebih tinggi dibandingkan menjadi pengacara di firma hukum. 

Namun berita baik itu tetap tidak dapat mengusir kegalauan yang bersemayam di hatinya.

“Hei, kau baik-baik saja?” Itu pertama kalinya Myun-Jae bertanya dengan lemah lembut. Atheya mendelik, namun tidak berkata apa-apa. Ia langsung bergegas menuju kafe yang berada di sebelah kantornya, tempat sebagian besar rekan kerjanya berkumpul di situ. Tepat saat ia memesan frapuccino dan duduk di meja favoritnya—meja di ujung kafe yang bersebalahan dengan jendela—ia langsung menyesali keputusannya. 

Sekumpulan wanita yang duduk di meja di dekatnya bergosip diselilingi cekikikan yang mengganggu. Atheya mengirim tatapan sinis, berharap mereka akan segera menyadarinya dan langsung menurunkan volume bicara mereka. Namun selain bodoh, mereka juga tak peka. Tak lama kemudian salah satu dari mereka menyodorkan benda kotak bewarna merah marun ke meja.

Sudut mata Atheya dapat menangkap benda itu. Astaga, benda itu… 

“Kalian tahu tidak, Kristofer dan Jenna akan menikah minggu ini?” Wanita yang memegang undangan memandang masing-masing temannya dengan tatapan puas. Apalagi saat melihat mereka berebutan ingin memegang undangan tersebut. Ia semakin bangga karena telah menjadi pelopor topik.

“Mereka bukannya baru berpacaran 6 bulan? Kenapa cepat sekali?” 

“Katanya karena mereka dijodohkan. Mereka juga sudah cukup berumur, bukan? Atau jangan-jangan…,” Salah satu wanita mulai mengompori.

“…Married by accident?” Suara cekikikan yang menganggu kembali terdengar. 

“Aku dengar Jenna itu centil. Kris juga tidak terlihat seperti pria alim,” Tiba-tiba saja para gadis menyadari keberadaan Atheya. “Hei, Atheya! Untuk apa duduk sendirian di sana jika kau bisa bergabung dengan kami?"

Atheya meringis mendengar ajakan wanita tersebut. Kelihatannya mereka baru saja kehabisan topik dan berniat menjadikan Atheya sebagai topik baru. “Maaf, aku sedang ingin sendiri,” 

“Ayolah, gadis bujang mana yang ingin sendiri,” Seorang wanita yang ia kenal sebagai rekannya yang bernama Ji-Min mulai menarik sebuah kursi ke sampingnya dan menepuk-nepuknya. Atheya menyerah, apalagi jika sudah ditatap oleh mereka semua. Rasanya malas sekali untuk berdebat. Ia pun mengambil tas dan cangkirnya dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dengan segera para wanita kembali merapat seperti posisi mereka saat bergosip tadi.

“Atheya, apa kau sudah pacar? Aku dengar kau dan Myun-Jae sangat dekat,” Ji-Min seolah moderator yang haus akan gosip terpanas. 

Atheya mendengus, “Dari mana kau dapat gosip seperti itu? Lucu sekali,”

“Kalian bertemu setiap hari selama tiga tahun, apa mungkin tidak ada benih cinta yang bersemi? Atau jangan-jangan kalian sudah melakukan perbuatan terlarang saat kalian berdua saja di kantor? ” Sarang menumpukan dagunya pada kedua tangannya di meja. 

Atheya memutar bola matanya. Benih cinta apanya? “Jika saling mencaci maki adalah perbuatan terlarang maka ya, kami melakukannya setiap hari."

“Kalian manis sekali! Apa kau tidak lihat cara Myun-Jae melihatmu? Dia melihatmu dengan tatapan cinta,” Mereka semua mulai bersorak ‘Awww… sungguh manis,’ yang entah bagaimana terdengar menjijikkan di telinga Atheya. 

“Kalian mengada-ada,” Atheya geli sendiri melihat rekannya yang begitu perlu gosip untuk bertahan hidup hingga rumor yang tak pasti pun dilahap. Mereka bahkan tidak menyadari sarkasme di dalam nada bicaranya.

“Lalu kapan kau akan menikah? Kalau tidak salah tahun ini umurmu dua puluh empat, ah, salah, dua puluh lima. Aku benar, tidak? Sudah waktumu untuk menikah,” Seo-Min mulai berceramah sementara yang lain mengangguk-angguk. 

Oh oke tentu saja aku akan menikah, saat neraka membeku, pikir Atheya. Ia selalu benci dengan ide ‘mari kita jatuh cinta pada seseorang dan menikah dengannya’. Keputusannya telah bulat sejak TK. Dia tidak akan pernah menikah. Tidak setelah melihat semua perlakuan ayahnya pada ibunya dan perceraian mereka.

Sebagai seseorang yang mendewakan logika beserta segala isinya, dia benci sesuatu yang tidak pasti. Cinta adalah salah satunya. Dan sebagai wanita karir yang tengah mengejar puncak kesuksesan, permainan hati hanya akan menjadi beban yang tak diperlukan. Mencintai seseorang hanya akan menciptakan drama serumit gulungan benang yang dimainkan Crystopher saat jenuh. 

Tak dapat diuraikan. 

Sama seperti perasaannya saat ini tiap kali ia melihat undangan merah marun yang melampirkan nama kedua calon mempelai.

AAA

Saat Atheya menuju ke ruangannya usai rehat di kafe, Myun-Jae sudah menunggunya. “Atheya, kemana saja kau? Ah, itu tidak penting. Aku ingin kau menemuiku di kafe malam ini pada pukul 7. Ada sesuatu yang penting yang ingin ku—"

“Dan siapa kau hingga bisa memerintahku begitu saja?” Atheya langsung menyela dengan nada suara yang tinggi, cukup tinggi hingga membuat Myun-Jae terlonjak. Sejak insiden di kafe Atheya dapat merasakan sesuatu yang asing dan tidak nyaman menggantung di hatinya, yang berusaha keras ia abaikan.

Myun-Jae membetulkan dasinya, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. “Maaf, maksudku… Maukah kau menemuiku di kafe malam ini?” 

Atheya menatap Myun-Jae secara intens, berusaha mencari niat terpendam. “Tidak, terima kasih. Aku sibuk,” Atheya mengempaskan tubuhnya di kursi dan mulai mengerjakan laporannya yang belum selesai.

Tanpa memedulikan Myun-Jae yang masih menatapnya dari seberang meja.

AAA

Pintu apartemen yang terbuka menyumbangkan cahaya ke dalam kamar Atheya yang gelap. Setelah menutup pintu Atheya langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa, tanpa mempedulikan fakta bahwa ia belum menyalakan lampu. Sontak ia menyadari bahwa ada sesuatu yang kurang dari ruangan tersebut.
Crystopher tidak ada. 

“Crys, kau kemana saja?” Dengan panik Atheya mencari kesana kemari. Alangkah terkejutnya ia saat kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan mendengar suara jeritan lirih dari kucingnya. Atheya langsung memeluknya erat, seolah Crystopher adalah satu-satunya benda berharga yang ia punya, “Crys, jangan pergi kemana-mana. Aku kesepian.” 

Kucing itu mengeong pelan, seolah telah memaafkan perlakuan sang pemilik. Perlahan bulir demi bulir air mata Atheya mulai berderai, hingga menjadi isakan yang tersendu-sendu. Di dalam kesunyiannya, Atheya sendiri tidak yakin ia sedang memanggil kucingnya atau pria yang dulu pernah menghiasi hidupnya.

AAA

Jalanan yang basah yang menciprat jins-nya tidak menghentikan langkahnya untuk mengejar pria di depannya. Berkali-kali Atheya memanggil nama tersebut dengan lirih, sambil berusaha menyamai langkah jenjangnya. Namun tindakannya tersebut dibalas dengan tatapan tajam. “Tidak ada lagi ‘kita’, Atheya. Hentikan semua omong kosongmu. Aku tidak lagi membutuhkanmu. ‘Kita’…” Dia menunjuk Atheya dan dirinya sendiri, “…sudah selesai.” 

Atheya bagai tersampar petir. Ia merasa seolah dunia terkristalisasi saat pemuda tersebut mengucapkan kalimat itu. Waktu berhenti berguling sejenak. Arakan awan menangis, membuat kelabu langit yang tadinya sejernih batu lapis lazuli. Bintang meredupkan cahayanya dan melongo untuk melihat kedua insan manusia yang tengah berdiri di bawah guyuran rinai hujan.

Atheya seakan-akan sedang terpatri dalam momen ini. 

Ketidaksetiaan Kris yang menjadi dalang atas semua ini. Bagi Atheya, hati Kris tidak ada bedanya dengan tetesan hidrogen monoksida yang ia biarkan bebas meluncur di wajahnya; dingin. Dan ternyata hal tersebut karena Kris sudah terlebih dahulu dijodohkan pada gadis yang jauh lebih cantik, kaya, pintar… apapun yang Atheya tidak akan pernah mampu miliki.

Baginya Atheya hanyalah permainan. 

Kekeraskepalaan Atheya yang membuatnya terlalu lumpuh untuk mencegah semua ini. Jika saja ia menolak untuk jadi buta, jika saja ia peka, jika saja ia mau meluangkan waktunya mendengar gosip miring dari rekan-rekannya, perpisahan yang menyakitkan akan dapat terhindari.

Jika saja ia tidak mencintai Kris terlalu dalam, tidak akan ada luka yang kini bersemayam di hatinya yang rapuh.

AAA

Suara ketokan di pintu dan panggilan memecah tangisannya. Atheya mengabaikannya, tidak ingin seorangpun melihatnya dalam kondisi lemah. Ia hanya memeluk Crys semakin kuat, berharap bulu-bulu lembutnya dapat meredam tangisan Atheya.

 “Atheya?” Atheya tersentak saat mendengar sebuah suara pria di dalam apartemennya. Ia pun bangun dan menyalakan saklarnya, terkejut saat melihat pemuda yang berdiri di depan pintunya, “Myun-Jae? Apa yang… bagaimana kau bisa masuk di sini?”

“Maaf aku masuk tanpa izin. Aku bisa masuk ke gedung ini karena kebetulan ada tetanggamu yang mau pindah jadi pintu terbuka lebar. Aku sudah mengetuk pintu dan memanggilmu, namun kau tak menjawab. Dan ternyata pintumu tidak terkunci,” Myun-Jae mengusap hidungnya dan memandang ke arah lain, seolah baru saja dipergoki melakukan sesuatu yang salah. 

Untuk beberapa saat Atheya hanya diam dan memandang Myun-Jae, seolah ingin memastikan bahwa yang ada di hadapannya adalah nyata.

“Apa kau tidak akan menawarkanku untuk masuk?” Pertanyaan Myun-Jae menyadarkan Atheya. 

Atheya memasang raut wajah cemberut, “Aku rasa itu tidak perlu karena kau sudah masuk. Ayo, kau mau apa? Aku rasa aku masih punya beberapa kopi di dapurku,”

AAA

Ini aneh. Sungguh aneh. Atheya tidak menyangka ia akan mendapati Myun-Jae duduk di meja makannya sementara ia menuangkan kopi untuk mereka berdua. Ia bahkan tidak pernah membayangkan Myun-Jae sudi datang ke apartemennya, bahkan di dalam mimpi terburuknya. Walau begitu, Atheya tetap waspada kalau tiba-tiba Myun-Jae melontarkan kalimat pedas. 

Pernyataan Myun-Jae merobek keheningan, “Maaf untuk semua perbuatanku selama ini,”

Kopi di gelas yang Atheya pegang hampir saja tumpah ke wajah Myun-Jae kalau saja dia tidak memegang erat. Atheya berusaha terlihat tenang saat menaruh kedua gelas di meja, walau  sebenarnya hatinya was-was. “Apa kau akan meninggal, Myun-Jae? Karena aku tidak sudi mayatmu ada di apartemenku,” 

“Hahaha, kau lucu,” Myun-Jae menjawab sarkastis dengan raut wajah datar. “Tapi tidak, aku tidak akan meninggal, setidaknya tidak hari ini,”

“Lalu untuk apa kau datang ke apartemenku dan meminta maaf? Apa kau baru saja dipecat dari perusahaan?” Atheya menyeringai. 

“Hei, kau senang ya, jika aku dipecat?” Myun-Jae memasang raut wajah asam yang entah bagaimana terlihat lucu di mata Atheya.

Atheya melotot. “Kau kira aku nyaman disindir, dihina dan diintimidasi selama tiga tahun?” 

Myun-Jae terlihat rikuh, “Aku sudah minta maaf, bukan?"

“Tidak cukup,” Atheya menyeruput kopinya dan merasa puas karena rasanya yang enak. “Jadi apa benar kau dipecat?” 

Myun-Jae berdecak, “Kau jangan terlihat bahagia sejelas itu, aku jadi kesal,”

“Aku hanya bercanda. Apa yang membawamu ke sini, Myun-Jae?” tanya Atheya dengan raut wajah serius. Gelas yang Myun-Jae pegang baru setengah jalan menuju mulutnya, namun Myun-Jae mengurungkan niatnya untuk minum kopi. Ia kembali teringat oleh tujuan awalnya untuk datang. 

“Kau ingat tadi siang aku memintamu untuk menemuiku di kafe malam ini?” Atheya terlihat bingung sebentar sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Myun-Jae menghele nafasnya. “Aku menunggumu di sana sejak jam 7,”

Atheya melongo, terlebih lagi saat ia melihat jam yang tergantung di dindingnya. Sekarang pukul sembilan! Apa Myun-Jae sudah menunggunya selama dua jam? Belum sempat Atheya mengutarakan pertanyaannya, Myun-Jae sudah lebih dahulu berbicara, “Kau tidak kunjung datang, aku mulai gelisah. Aku cemas sesuatu yang buruk terjadi padamu,” 

Dalam hati Atheya tercengang. Myun-Jae berhati dingin mengkhawatirkannya? Apa dunia sedang terbalik? Apa ini mimpi? Apa ini semacam lelucon yang para rekan kerjanya buat?

“Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Semua perlakuan burukku selama ini kekanak-kanakan. Namun itu semua caraku untuk menarik perhatianmu. Cara yang aneh, memang, bahkan kau menjauhiku karena itu. Namun aku tak tahu lagi cara apa yang bisa kulakukan agar kau melihatku, hanya melihatku,” 

“Myun-Jae, apa kau sedang bertaruh dengan rekan-rekan kerja untuk mengerjaiku? Dan kata-katamu kuno sekali, seperti kau menghafal mati dari sebuah novel picisan,”

“Aku memang menghafal kalimat itu dari sebuah novel terkenal… hei! Kenapa kau menyelaku, konsentrasiku jadi buyar!” 

Atheya tertawa cekikikan, apalagi melihat semburat merah di wajah Myun-Jae. “Sudahlah, hentikan permainanmu. Aku mau tidur."

“T-Tapi aku tidak berbohong,” Myun-Jae terlihat tidak nyaman, “Aku… jatuh cinta…padamu. Dan aku tidak sedang bertaruh. Aku memperhatikanmu sejak hari pertama kau bekerja. Aku cemburu melihat rekan kerja lain menginginkanmu. Tapi aku tidak punya pengalaman menjerat hati wanita. Karena itu aku belajar dari drama, buku, internet, riset dan observasi. Aku berusaha membuatmu membenciku, agar kau jatuh cinta padaku,” 

Beberapa detik berjalan tanpa Atheya memberi respon apapun. Sesaat kemudian Atheya tertawa terbahak-bahak, begitu keras hingga Crystopher langsung terbangun dan berlari pergi.

“Astaga, buku jenis apa yang kau baca? Love for Dummies? Dan internet… astaga… kau polos sekali, Myun-Jae!” Atheya menepuk mejanya berkali-kali karena gemas melihat ekspresi Myun-Jae yang seakan tidak mengerti. 

“Apa? Mama dan kakakku sendiri yang memberi referensi,” Jawaban ini sukses membuat Atheya tergelak-gelak.

Atheya menyeka air mata di pelupuk dengan ujung jarinya sebelum berujar, “Mereka pasti sangat membencimu hingga rela menjerumuskanmu,” 

Myun-Jae mencubit pipi Atheya hingga Atheya mengaduh kesakitan, “Aku membiarkanmu tertawa kali ini hanya karena aku ingin menebus perlakuanku selama ini padamu,"

“Apa? Semua kata-kata kejam yang kau luncurkan selama 3 tahun hilang hanya karena aku tertawa selama 15 menit? Kau tidak adil,” Atheya merengut.

“Kau juga tidak adil. Kau menawanku ke dalam cinta,” Myun-Jae tersenyum, yang membuat Atheya tersadar dengan situasinya saat ini.

“Jadi… apa aku harus menjawab pertanyaan cintamu sekarang?” tanya Atheya. 

Myun-Jae membetulkan letak kacamatanya, menyandarkan punggungnya ke kursi dan bersedekap, “Hanya jika kau siap.”

Atheya memandang cangkirnya yang kini setengah kosong. Untuk beberapa saat hanya suara detak jam dinding yang mengisi keheningan. 

“Aku sedang tidak ingin berpacaran,” Kalimat itu akhirnya terlontar dari mulut Atheya.

Myun-Jae hanya diam memperhatikan Atheya dari seberang meja. 

“Tapi aku mau membuka hatiku, untuk melihat sejauh mana bodohnya dirimu,”

Myun-Jae terkekeh, walau ia tak mampu menyembunyikan ekspresi senang di raut wajahnya. Ia pun memajukan tubuhnya dan mengusap rambut Atheya, “Kau aneh.” 

Atheya menepisnya dan mencubit hidung Myun-Jae. Siapa sangka, setelah Atheya mengetahui isi hati Myun-Jae, ia dapat menjadi akrab dengannya dengan cepat. Semua salah sangka dan kebencian sirna sekejap mata. “Kau jahat,”

Myun-Jae dengan cepat menangkap tangan Atheya dan menggelitiknya. “Aku tidak akan berhenti sampai kau bilang aku pria paling tampan di dunia,” 

“Huh, lebih baik aku mati saja—ah, geli! Jangan gelitik di sana!” Atheya langsung memberontak, namun usahanya gagal. Ia terus tertawa karena tidak tahan dengan rasa geli yang menjalar ke tubuhnya. Mereka terus bercanda dan berkelakar hingga akhirnya jam telah menunjukkan pukul sebelas.

“Cepat pulang, aku tidak ingin tetanggaku bergosip karena seorang pria ada di apartemenku sampai larut malam.” ucap Atheya saat melihat jam dindingnya. 

“Baiklah, aku pulang.” Mereka berdua bertatapan cukup lama, hingga akhirnya Myun-Jae berinisiatif untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Atheya. Atheya hanya diam dan menutup matanya. Myun-Jae mengecup pelan dahi Atheya dan berbisik pelan di telinganya, “Aku akan menunggu sampai kau siap," Atheya hanya menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang merah. Myun-Jae melambaikan tangannya kepada Atheya yang berdiri di samping pintu. “Sampai jumpa besok, Atheya. Aku mencintaimu.”

Atheya menyeringai. “Aku juga mencintai diriku, terima kasih.”

AAA

Satu tahun kemudian, undangan pernikahan berbentuk putih dengan bordiran emas menghiasi meja di firma hukum tempat Atheya bekerja. Tak lama kemudian, Atheya berdiri di altar gereja berbalutkan gaun putih yang mempesona, dengan Myun-Jae memegang kedua tangannya erat

Semua itu dilakukannya tanpa dibayang-bayangi masa lalu.

Dan dunia pun terkristalisasi oleh momen itu.

AAA
TAMAT
AAA


A/N : Aku nulis nih cerita 2-3 jam muahaha hasilnya ya... :'D #mingkem. Betewe buat yang penasaran, ini penampakan Crystopher.

Y U SO KIYUT. KIYUTNESS OVERLOAD. I SHALL EAT U.

Betewe nih kucing namanya Snoopybat (Snoopy bukannya nama anjing ye?) dan diklaim sebagai kucing terimut di internet. Si Snoopybat udah kembang-kempis kali idungnya diblang imut. Sedangkan Snoopy anjing malah bilang...


Emang hidup ini gak adil ye... #freepukpuk

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.