#4 Whatever You Think, Think the Opposite
Whatever You Think, Think the Opposite
Inspired by the book with the same title written
by Paul Arden, a book about the art of taking risk.
A/N : It’s
been a while since I’m posting my last story. I hope you enjoy this story!
|||
Sebagian
besar orang akan mengenyam jenjang pendidikan di universitas saat mereka telah
dinyatakan lulus dari sekolah menengah atas-nya.
Thalia tidak. Dia. Selalu. Benci. Bermain. Aman. Baginya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada berlari kesana kemari untuk mengurus tugas dan mencari dosen yang selalu raib bak jin saat dibutuhkan.
Saat orang-orang menanyai alasan dari keputusannya, Thalia berkata keinginannya menjadi penulis yang mendasari keputusannya. Sejak kecil ia selalu menjadi penulis lebih dari apapun, walau ia tak mampu menjawab mengapa. Ia hanya merasa bahwa ia harus menulis. Ia menikmati esensi menghasilkan klausa yang terangkai menjadi kalimat, menguntai kalimat menjadi paragraf dan menciptakan sebuah cerita dari paragraf-paragraf tersebut. Toh, untuk jadi penulis, dia tak butuh gelar sarjana. Jika ia membutuhkan ilmu, ia dapat mencarinya dimana dan dari siapa saja.
Thalia tidak. Dia. Selalu. Benci. Bermain. Aman. Baginya tidak ada yang lebih menyebalkan daripada berlari kesana kemari untuk mengurus tugas dan mencari dosen yang selalu raib bak jin saat dibutuhkan.
Saat orang-orang menanyai alasan dari keputusannya, Thalia berkata keinginannya menjadi penulis yang mendasari keputusannya. Sejak kecil ia selalu menjadi penulis lebih dari apapun, walau ia tak mampu menjawab mengapa. Ia hanya merasa bahwa ia harus menulis. Ia menikmati esensi menghasilkan klausa yang terangkai menjadi kalimat, menguntai kalimat menjadi paragraf dan menciptakan sebuah cerita dari paragraf-paragraf tersebut. Toh, untuk jadi penulis, dia tak butuh gelar sarjana. Jika ia membutuhkan ilmu, ia dapat mencarinya dimana dan dari siapa saja.
Keputusannya
sukses membuat ibunya mengurut-urut dada, sementara ayahnya
menggeleng-gelengkan kepala. Saudaranya yang sudah bekerja tak pernah absen
menyindir Thalia yang memegang status penggangguran. Baginya Thalia hanya
membuat malu saja. Apalagi saat ada tamu yang datang, mereka senantiasa menanyai
dimana Thalia kuliah, dan Thalia berterus terang. Tak peduli dengan ekspresi
bingung dan canggung yang muncul tiap kali Thalia memberi jawaban apa adanya.
Semua
orang, bahkan sahabat terdekatnya, menyayangkan keputusan Thalia. Di hari-hari
dimana mendapatkan sebuah pekerjaan saja sudah sangat bagus, Thalia memutuskan
untuk menekuni profesi yang tidak jelas pemasukan finansialnya. Thalia tidak
bodoh. Dia juga tidak pintar. Dia tidak malas, juga tidak begitu rajin.
Biasa-biasa saja. Dia bahkan bukan penulis yang handal. dia Dia sadar betul
akan fakta tersebut, karena realitas selalu mengingatkannya.
Karyanya sering dicaci-maki di situs web tempat ia menunjukkan karyanya. Thalia tidak mau ambil pusing pada sebagian besar kata-kata kasar yang ditancapkan padanya bak panah. Namun Thalia berbohong jika dia bilang kata-kata tersebut tidak menggoyahkan keinginannya. Jika saja Thalia bukan tipe orang yang senang mengasihani diri, mungkin dinding pertahanannya telah hancur sejak dulu. Thalia tetap bersikeras pada mimpinya, dan menjadikan kritik yang diterimanya sebagai pedoman untuk mengintropeksi diri.
Setelah bertahun-tahun bersusah payah mengembangkan kemampuan menulisnya, Thalia memberanikan diri untuk mengirim naskahnya ke penerbit ternama. Setelah menunggu selama berbulan-bulan, Thalia tak mendapat balasan. Ia tak menyerah dan mengirim naskahnya ke penerbit lain. Naskahnya mendapat balasan, namun berupa kritik yang pedas dari salah satu editor di penerbit tersebut. Thalia dapat merasakan keraguan menggerogoti dirinya, namun dia berusaha untuk tetap tenang. Kali ini ia meminta seorang novelis untuk mengkritik ceritanya, dan hasilnya tak jauh beda dibanding kritik yang diterimanya dari editor di penebitan tempatnya mengirim naskah.
Di balik responnya yang tak acuh, ada malam yang sepi dimana ia menangis sendirian dan berpikir apa dia mengambil keputusan yang tepat. Wajah orangtuanya yang kecewa dan tatapan sinis dari kakaknya yang kentara terbayang dengan jelas. Penolakan yang seolah tak ada ujungnya. Sia-siakah semua yang ia lakukan? Apa semuanya sepadan?
Thalia memutuskan untuk berhenti khawatir dan menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa. Rasa khawatir tidak menambah kemampuannya seincipun, sehingga ia berhenti berpiki dan mulai menggunakan hati. Hatinya berbicara lantang lewat tulisan, walau kadang pikirannya merasa gatal ingin mengoreksi tulisannya sesegara mungkin, dan mulutnya gelisah ingin gelisah.
Perlahan Thalia diingatkan oleh waktu akan apa alasan awalnya berani mengejar sesuatu yang bahkan belum pasti. Karena ia menyukai—ralat, mencintai—menulis. Ia sadar bahwa itu adalah talenta yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk dia kembangkan dan dia pertanggung jawabkan. Ia merasa, jika ia berhenti menulis, maka ia tidak melakukan tugas yang sepatutnya ia emban, yaitu mensyukuri talenta yang Tuhan berikan.
Thalia kini telah berusia tiga puluh tahun. Sudah dua puluh dua tahun sejak dia memutuskan untuk tidak kuliah. Dia masih tidak lepas dari ketidaksempurnaan, yang tentunya mengundang kritik. Terkadang rasa tidak yakin akan dirinya sendiri datang menghinggapi di tengah-tengah cerita yang ia tulis. Namun Thalia yakin bahwa tidak ada yang sia-sia di dalam hidupnya. Kegagalan, masalah, hambatan, semua diizinkan terjadi padanya untuk mengujinya dan membuatnya semakin kuat.
Keluarganya akhirnya bisa menerima keputusan Thalia. Sahabat terdekatnya pun membantu ia mencari referensi buku yang mungkin dapat menginspirasi Thalia, dan memberi semangat saat Thalia rasanya ingin menyerah. Thalia mampu menemukan pasangan hidup yang suportif, walau kadang suaminya masih tidak dapat mengerti akan tekad Thalia untuk menjadi penulis.
Berkat bantuan keluarga, sahabat dan editor yang senantiasa mendukung, Thalia akhirnya dapat menerbitkan sebuah novel. Tidak langsung tenar seperti novel milik penulis ternama, namun ia mendapat banyak komentar dari pembaca yang menikmati karyanya.
Thalia merasa bahagia. Semuanya sepadan.
Thalia mendapat hikmah dari perjuangannya. Pengalaman dan suara Tuhan telah berbicara banyak padanya, lebih banyak daripada yang ia bisa temukan dari semua ilmu tentang menulis di dunia ini. Dan ia bersyukur karenanya.
Sungguh, tidak ada yang sia-sia dari hidupnya.
Karyanya sering dicaci-maki di situs web tempat ia menunjukkan karyanya. Thalia tidak mau ambil pusing pada sebagian besar kata-kata kasar yang ditancapkan padanya bak panah. Namun Thalia berbohong jika dia bilang kata-kata tersebut tidak menggoyahkan keinginannya. Jika saja Thalia bukan tipe orang yang senang mengasihani diri, mungkin dinding pertahanannya telah hancur sejak dulu. Thalia tetap bersikeras pada mimpinya, dan menjadikan kritik yang diterimanya sebagai pedoman untuk mengintropeksi diri.
Setelah bertahun-tahun bersusah payah mengembangkan kemampuan menulisnya, Thalia memberanikan diri untuk mengirim naskahnya ke penerbit ternama. Setelah menunggu selama berbulan-bulan, Thalia tak mendapat balasan. Ia tak menyerah dan mengirim naskahnya ke penerbit lain. Naskahnya mendapat balasan, namun berupa kritik yang pedas dari salah satu editor di penerbit tersebut. Thalia dapat merasakan keraguan menggerogoti dirinya, namun dia berusaha untuk tetap tenang. Kali ini ia meminta seorang novelis untuk mengkritik ceritanya, dan hasilnya tak jauh beda dibanding kritik yang diterimanya dari editor di penebitan tempatnya mengirim naskah.
Di balik responnya yang tak acuh, ada malam yang sepi dimana ia menangis sendirian dan berpikir apa dia mengambil keputusan yang tepat. Wajah orangtuanya yang kecewa dan tatapan sinis dari kakaknya yang kentara terbayang dengan jelas. Penolakan yang seolah tak ada ujungnya. Sia-siakah semua yang ia lakukan? Apa semuanya sepadan?
Thalia memutuskan untuk berhenti khawatir dan menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa. Rasa khawatir tidak menambah kemampuannya seincipun, sehingga ia berhenti berpiki dan mulai menggunakan hati. Hatinya berbicara lantang lewat tulisan, walau kadang pikirannya merasa gatal ingin mengoreksi tulisannya sesegara mungkin, dan mulutnya gelisah ingin gelisah.
Perlahan Thalia diingatkan oleh waktu akan apa alasan awalnya berani mengejar sesuatu yang bahkan belum pasti. Karena ia menyukai—ralat, mencintai—menulis. Ia sadar bahwa itu adalah talenta yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk dia kembangkan dan dia pertanggung jawabkan. Ia merasa, jika ia berhenti menulis, maka ia tidak melakukan tugas yang sepatutnya ia emban, yaitu mensyukuri talenta yang Tuhan berikan.
Thalia kini telah berusia tiga puluh tahun. Sudah dua puluh dua tahun sejak dia memutuskan untuk tidak kuliah. Dia masih tidak lepas dari ketidaksempurnaan, yang tentunya mengundang kritik. Terkadang rasa tidak yakin akan dirinya sendiri datang menghinggapi di tengah-tengah cerita yang ia tulis. Namun Thalia yakin bahwa tidak ada yang sia-sia di dalam hidupnya. Kegagalan, masalah, hambatan, semua diizinkan terjadi padanya untuk mengujinya dan membuatnya semakin kuat.
Keluarganya akhirnya bisa menerima keputusan Thalia. Sahabat terdekatnya pun membantu ia mencari referensi buku yang mungkin dapat menginspirasi Thalia, dan memberi semangat saat Thalia rasanya ingin menyerah. Thalia mampu menemukan pasangan hidup yang suportif, walau kadang suaminya masih tidak dapat mengerti akan tekad Thalia untuk menjadi penulis.
Berkat bantuan keluarga, sahabat dan editor yang senantiasa mendukung, Thalia akhirnya dapat menerbitkan sebuah novel. Tidak langsung tenar seperti novel milik penulis ternama, namun ia mendapat banyak komentar dari pembaca yang menikmati karyanya.
Thalia merasa bahagia. Semuanya sepadan.
Thalia mendapat hikmah dari perjuangannya. Pengalaman dan suara Tuhan telah berbicara banyak padanya, lebih banyak daripada yang ia bisa temukan dari semua ilmu tentang menulis di dunia ini. Dan ia bersyukur karenanya.
Sungguh, tidak ada yang sia-sia dari hidupnya.
|||
Friends, sometimes in writing we meet obstacles. But
I hope these quotes can remind us why we’re writing stories in the first place.
Most of these quotes are taken from the book that inspired me to write this
fiction. At last but not least, let’s keep writing with enthusiasm!
| You are the person you chose to be.| Hanya ada satu orang yang dapat menentukan bentuk kehidupan anda. Anda.| Instead of waiting for perfection, run with what you’ve got, and fix it as you go.| The biggest fight is to conquer yourself.| Truth hurts, but in the long run it’s better than a pat on the back.| He become what he wanted to become before he knew he could do it.| Ide yang bagus adalah ide yang terwujud.| It’s not where you taken things from—it’s where you take them to.| It is better to live in ignorance than with knowledge.| Don't let a small misfortune get in your way.| No tears in the writer, no tears in the reader. No surprise in the writer, no surprise in the reader ― Robert Frost| The scariest moment is always just before you start ― Stephen King| You can make anything by writing ― C.S. Lewis| You can, you should, and if you’re brave enough to start, you will ― Stephen King| Everytime you write, you are one step closer to be an expert.| You can ask hundreds of million words from me, but believe me, not any single of those words that could actually make your hands move and arrange another hundreds of billions to awe the world
.png)




mungkin tidak ada percakapan, tapi aku mencoba meresapinya dan hasilnya, mau menangis. hahaha..
BalasHapusmakasih ya sudah nulis cerita ini. semoga dinding yang benar-benar runtuh ini bisa kubangun ulang dan aku buat lebih kuat dari sebelumnya :3
keep writiny ya :)
@Anggi : waduh kok malah jadi mau nangis? OvO okedeh semoga bisa nyemangatin kakak ya, pantang menyerah ya kak! :D
BalasHapusgua kok kurang nangkap hubungan antara judul dgn isi ya? kurang tepat aja gitu menurut gua. hehe
BalasHapustapi, bagus sih ini cerpennya. jangan pernah menyerah walau banyak hinaan datang
harapan, semangat, doa, tidak mudah menyerah..
BalasHapussayang tidak banyak orang yang seperti itu, berani menggapai mimpi, salah satunya kayak gue~
@arman : sebenarnya maksud judulnya tuh, kan banyak orang lebih suka main aman, nah jadi si Thalia berani ambil resiko. Itu yang bikin dia anti-mainstream, seperti yang judulnya bilang "Whatever You Think, Think The Opposite." hehehe :D
BalasHapus@christina : yaaah, kenapa ? masih belum telat lho untuk menggapai mimpi, walaupun emang ga segampang ngomonginnya. semangat terus! ;))