#1 Everything Has Always Been Like This


Gambar asli di dapat dari sini



Suho yakin ia telah kehilangan separuh jiwanya di hari Suzy pergi.

Ratusan lembar kertas penuh tinta tidak akan cukup untuk mencurahkan perasaan Suho. Tidak ada kata yang cukup baik untuk mendeskripsikan isi hatinya di antara trilyunan kata yang telah ada di muka bumi. Suho tahu ia terdengar begitu klise dan dramatis, namun kau tidak akan benar-benar tahu sampai kau merasakannya. Bagaimana saat kau berada di puncak, saat kau merasa aman dan utuh di sampingnya, dan tiba-tiba ‘sesuatu’ merenggut jantungmu dengan paksa, mencengkeramnnya hingga sari kehidupanmu habis.

Namun ‘sesuatu’ itu begitu baik. Ia membiarkan tubuh Suho—yang kini tak lebih dari onggokan daging dan darah—jatuh dan mencium duri realitas. Suho mengikis waktu dengan jeritan yang tertahan, seiring dengan ‘sesuatu’ yang telah membawa gadisnya pergi. Suho menangis. Ia yakin ia tak pernah menangis sekencang itu. Maka dari itu, ia tak mengerti kenapa tak ada yang bisa mendengarnya.

Suho pun pasrah. Ia sadar kini ia adalah boneka yang tergantung oleh tali yang dimainkan oleh majikannya. Ia hanyalah aktor dari kehidupan yang kejam. Dan ‘sesuatu’ tak puas dengan riwayat Suho—kurang tragis, komentarnya—sehingga ia membawa tokoh baru ke dalam hidup Suho.

‘Sesuatu’ itu bernama takdir kehidupan.



|||

Everything Has Always Been Like This 

A fan fiction written by Asha D

Genre : Romance/Hurt/Comfort 

Disclaimer : I gain no profit and I own nothing but the story. 

Cast : Kris of EXO (28), Suho of EXO (28), Baekhyun of EXO (24), IU alias Ayu (25) 

Words : 3,126

Best to read while listening to any mellow songs you have


|||


Malam itu, seperti biasanya, ia menghabiskan waktunya dengan bekerja sebagai bartender di sebuah bar di Cheondam-dong. Memamerkan senyumannya pada pelanggan, meracik minuman yang dipesan dan mengobrol ala kadarnya. Bar dipenuhi oleh wajah-wajah yang familiar, dan beberapa di antara mereka menyapa Suho. Lantunan musik jazz dari band lokal mengisi udara, dan semua orang menikmati tiap harmoni yang disenandungkan.

Saat semua orang larut dalam kesenangan mereka masing-masing, Suho harus bertahan dalam kesulitannya untuk bernapas. Hal yang ada di dalam hatinya harus ia sembunyikan dalam balutan senyum tipis miliknya. Dadanya sesak bukan karena kepulan asap rokok, namun kenangan buruk yang terus membelenggu. Suho tidak yakin sampai kapan ia harus bertahan di balik tameng ‘sebuah senyuman’, namun ia bisa menjalani hidupnya berkat 'topeng' yang selalu ia kenakan.

Semuanya memang selalu seperti ini.

Suho mengerang dalam hati, berusaha keras agar mimik wajahnya tidak menyiratkan apa yang ia rasakan. Nyaris tak ada yang spesial malam itu, hingga ia melihat sahabatnya, Kris, berjalan mendekatinya sambil menarik tangan seorang gadis. Kris, pria Cina-Kanada dengan tinggi nyaris dua meter, memegang lengan seorang gadis yang hanya setinggi dadanya. Perbedaan tinggi yang kentara itu membuat Kris terlihat seolah sedang membawa adiknya yang masih SMA ke bar.

“Suho, bisakah kau menjaga Ayu? Ingat, pria manapun tidak boleh berbicara padanya. Pria manapun. Dan dia punya maag akut, jadi dia tak bisa minum apapun dari bar ini, kecuali kau punya susu dan jus. Kalau dia tak mau diam, ancam saja dia, kau mengerti?”

Ia masih ingat betapa merahnya wajah gadis yang berdiri di samping Kris. Gadis itu menggembungkan pipinya, yang anehnya membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Dan Suho, begitu ia sering dipanggil, hanya menatapnya bingung. Tanpa mengucapkan salam apapun Kris langsung memerintahkannya untuk menjaga orang yang belum dikenalnya. Siapa sebenarnya gadis itu?

“Apa dia adikmu?” Suho menyuarakan rasa penasarannya. Kris memutar kedua bola matanya, sementara gadis di sampingnya melongo mendengar pertanyaan Suho.

“Suho, dia Ayu, dan dia pacarku. Umurnya dua puluh lima tahun.” Kris menoleh ke samping dan Suho dapat melihat tatapan hangat terpancar dari kedua bola matanya. “Ayu, dia Suho, sahabatku. Dan dia memang selalu seperti ini.”

Suho tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk tidak menatap Ayu dari atas ke bawah. Dari sisi manapun gadis tersebut terlihat seperti ya, seorang gadis, bukan wanita dewasa. Namun dia terlihat familiar. “Kau yakin dia bukan adikmu? Lagipula aku harus bekerja, jadi aku tidak yakin bisa mengawasinya.”

Kris menghela napas. “Tentu saja, Suho. Dan kafe ini milikku, jadi kau tak perlu khawatir.” Ia mengalihkan pandangannya pada Ayu dan tersenyum. “Aku akan kembali ke kantor. Kau tunggu di sini, ya? Aku akan menjemputmu jam sembilan.” Kris mengecup pelan dahi gadis itu. “Aku mengandalkanmu, Suho.” Dan tanpa ucapan ‘terima kasih’ dan sebagainya, Kris melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu keluar bar.

“Hei! Kris! Hei!” Suara Suho dengan cepat tenggelam di balik suara berisik oleh orang-orang di bar. Suho mengusap wajahnya dan melirik Ayu yang kini sudah duduk di kursi bar. Ia memutuskan untuk memecah kecanggungan, “Kau pasti kesal, ya?” Sedetik kemudian Suho sadar itu bukan kalimat pembuka yang baik. Bisa saja gadis itu menumpahkan kekesalannya karena sikap protektif Kris dan menangis. Kris tidak akan senang mendapatinya kekasihnya menangis, tentu saja.

Namun Suho dapat bernapas lega saat, tanpa bisa ia duga, pertanyaannya dijawab oleh seulas senyum yang lebar dari gadis tersebut. “Hanya sedikit. Aku rasa aku akan terbiasa dengan ini semua.”

Senyum tersebut membuat Suho secara sekilas, hanya sekilas, merasa yakin bahwa wanita di hadapannya memang wanita karier berkepala dua. Dan sekilas, Suho seperti melihat orang lain.

Namun saat Ayu mengeluarkan sekotak susu dan meminumnya dengan tatapan antusias khas balita, Suho sadar ia masih harus meragukan umurnya.

|||

“Suho, siapa dia?”

Suho menoleh saat mendengar pertanyaan rekan kerjanya, Baekhyun. Baekhyun bekerja sebagai waiter. “Dia Ayu, pacar Kris.”

Baekhyun menangkat sebelah alisnya dan memandang Ayu lamat-lamat. “Apa dia cukup umur untuk masuk ke bar?” bisik Baekhyun, yang membuat Suho tertawa. Suho rasa ia bukan satu-satunya—atau yang pertama kali—mengira Ayu adalah siswi SMA.

“Tentu. umurnya dua puluh lima.” Suho dapat melihat ekspreksi kaget Baekhyun walau matanya terpaku pada racikan minuman yang ia buat.

“Oh ya, jangan pernah berbicara dengannya. Kris akan memecatmu jika kau melakukannya,” ujar Suho dan Baekhyun dapat mendengar nada tegas dalam suara pria tersebut. Baekhyun tertawa mendengus;  bekerja selama tiga tahun di bar tersebut membuatnya tahu seprotektif apa atasannya saat punya pacar. “Aye, aye, captain.” Ia mengambil liquor dan cocktail pesanan pelanggannya dan berjalan pergi.

“Aku rasa pria tadi juga mengira aku masih siswi, ya?” celetuk Ayu, yang dibalas Suho dengan anggukan. Ayu merengut. “Aku benar-benar dua puluh lima tahun. Aku bekerja sebagai stylist di agensi…”

“…yang sama dengan Kris, dan kalian telah berpacaran selama enam bulan. Biasanya Kris yang mengantarmu pulang, walau kau pulang jam lima dan Kris pulang jam sebelas. Aku tahu Ayu, kau sudah menceritakannya.” sela Suho sambil memutar bola matanya.

“Dan Kris sebagai CEO baru saja mendapat proyek besar, membuatnya terlalu sibuk untuk mengantarku pulang.” Ayu mengakhiri cerita dan menyeruput susunya. “Dan dia tidak akan pernah mau kau pulang sendiri atau bersama orang lain.”

Suho melanjutkan, yang membuat senyum Ayu terbit.

Suho sadar satu poin penting dari wanita itu; stok senyumnya tak terbatas.

“Kau benar. Selama satu bulan ke depan, Kris akan menitipkanku di sini. Padahal aku bisa pulang sendiri. Tapi dia selalu memperlakukanku seperti anak kecil,” jawab Ayu sembari memperhatikan Suho yang menuangkan champagne ke dalam gelas dan menyodorkannya pada pelanggan.

Suho mengelap tangannya dan kembali mengerjakan pesanan berikutnya. “Penampilanmu yang mendorong Kris berbuat begitu—aduh!” Ayu mencipratkan susunya ke wajah Suho, yang tentu saja membuat dirinya terkejut.

Ayu tertawa, dan Suho tidak yakin ia pernah mendengar tawa seorang wanita semerdu itu. Suho mengerjap sebentar—masih tidak sadar dari keterpanaannya akan gadis itu—hingga ia melihat Ayu menyodorkan selembar tisu kepadanya. Suho pura-pura cemberut dan tidak melihat, membuat Ayu berdecak, “Ambil saja ini, Suho. Lain kali berpikirlah dua kali sebelum mengejekku, karena aku pasti akan membalasmu.”

Suho akhirnya menerima sehelai tisu tersebut, menggantikan rengutannya dengan seringaian yang bersahabat. Dan Suho tidak menemukan kesulitan untuk mengulum senyum atau tertawa lepas tiap kali ia berbincang dengan Ayu. Untuk sesaat Suho dapat merasakan bebannya menguap dan bercampur dengan udara. Suho dapat melepas topengnya. Hari bersama Ayu sama dengan hari saat Suho bersama gadis itu. Malam yang biasa ia jalani secara monoton itu, tak terasa begitu monoton lagi.

Namun saat Ayu dijemput oleh Kris dan semua orang telah beranjak menuju peristirahatannya, Suho dapat merasakan dirinya terhempas kembali ke dalam kesendirian.

|||

Malam itu, tepatnya malam kedua pertemuan Suho dengan Ayu di bar, diwarnai perdebatan seputar hadiah ulang tahun untuk pria. 

“Menurutmu apa hadiah yang bagus untuk Kris?” 

Suho memutar bola matanya saat mendengar pertanyaan Ayu. Suho tidak ingat ia pernah membuka jasa konsultan memberi-kado-untuk-pacarmu. Namun ia rasa Ayu menganggapnya begitu. 

“Aku tidak tahu,” Menyadari tatapan tajam Ayu, Suho sadar bahwa Ayu akan terus menanyakan hal yang sama hingga ia dijemput Kris tiga jam lagi. “Bagaimana dengan jam?” usul Suho. Ayu menyandarkan dagunya di meja dan mengetukkan pensilnya, “Dia baru saja membeli jam dua bulan lalu,” Ayu menatap Suho. “Pacarmu memberi apa untuk hari ulang tahunmu?” 

Keterdiaman Suho membuat Ayu kembali bertanya, “Suho, apa kau tak punya pacar?” 

Suho menggeleng pelan. 

Sontak Ayu melotot dan menutup mulutnya dengan tangannya. “Suho, kau… gay?” ucapnya lantang, yang membuat Suho hampir saja menjatuhkan bir yang ia pegang. 

Pelanggan lelaki yang duduk di samping Ayu menatap dirinya dan Suho bergantian, lalu mengamati Suho lebih lama. Suho menghidangkan bir kepada pelanggan itu, lalu tersenyum kecut. Ia rasa pelanggan itu mempercayai ucapan Ayu. 

“Hei, dari mana pertanyaan itu berasal?” tanya Suho begitu pelanggan tersebut pergi, membuat Ayu tertawa cekikikan. Suho memijat pelipisnya yang terasa berdenyut lalu bersuara, “Aku punya pacar, tentu. Tapi itu dulu,” 

Melihat Ayu yang masih memandangnya, Suho menambahkan, “Dan dia seorang wanita.” 

Ayu tersenyum sumringah dan mempertemukan grafit pensilnya dengan kertas, membuat coretan gambar. “Nah, pacarmu pernah memberi apa untukmu?” 

Suho tidak langsung menjawab. Alih-alih dia malah membenamkan dirinya dalam nostalgia dan mengalihkan pandangan pada keramaian di sekitarnya. Suho tidak yakin ia mau membuka kenangan lama. Kalaupun ia mau, ini bukan waktu yang ia rasa tepat. 

“Dia memberikan semua cintanya padaku,” jawab Suho lirih dan singkat setelah lima menit hening di antara mereka berdua. “Dan itu sudah cukup.” 

Ayu dan Suho tak mengucapkan apapun setelahnya.



|||

Malam itu, tepatnya pukul dua malam, tidak ada Ayu di bar. Hanya pembicaraan khas dua pria dewasa yang sudah bersahabat sejak mereka masih menyandang status mahasiswa Seoul Institute of Art, Kris dan Suho. Bar sudah tutup sejak tiga puluh menit yang lalu, namun Kris menahan Suho untuk berbincang dengannya sejenak.

“Ayu memberikanku hoodie kembar sebagai hadiah ulang tahun—hei, apa yang kau tertawakan?” tanya Kris sengit saat melihat Suho tertawa terbahak-bahak.

Suho menyeka air mata yang berada di ujung pelupuknya. “Aku tidak tahan untuk tidak membayangkan dirimu memakai hoodie. Kau akan terlihat seperti pria tua yang berusaha terlalu keras ingin terlihat muda,”

Kris mendengus, memutuskan untuk mengabaikan komentar Suho. Suho mengangsurkan sebotol soju kepada Kris, yang tentu saja ia terima dengan senang hati.

“Hanya ini yang ingin kau katakan, Kris? Aku kira kau ingin membicarakan sesuatu yang penting,” tanya Suho. Pria itu hampir yakin ia melihat rona merah di kedua pipi Kris, kalau saja bar tidak terlalu gelap. Namun bukan seorang sahabat yang baik namanya jika tidak bisa menebak. “Is it just me or you really madly in love with her?

Kris meneguk soju miliknya dan mendesah. Ia tahu pasti siapa orang yang dibicarakan oleh Suho. “Mungkin. Dia tidak keberatan dengan sikapku yang mengekang. Aku senang akhirnya ada seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Namun kami baru berpacaran enam bulan. Aku tidak bisa terlalu yakin.”

Suho mengangguk. Ia hampir tidak ingat jumlah mantan pacar Kris karena begitu banyaknya. Bukan karena Kris cassanova, lebih karena tak ada satupun yang tahan dengan larangan Kris yang cukup banyak. Hubungan paling lama hanya berlanjut selama satu bulan dan selalu Kris yang diputuskan.

“Ayu terlalu naif.” Kris melanjutkan sambil menuangkan soju ke dalam gelasnya. “Dia mudah sekali percaya pada orang, dan tidak pernah kapok walau telah dimanfaatkan.”

Suho menatap Kris dengan tatapan yang menerawang. Memori akan Ayu mendesak ke permukaan benak Suho semudah gadis itu tersenyum pada semua orang. Mendatangkan getar listrik yang aneh di tubuhnya, sekaligus pendar nyeri di hatinya. Ada jeda yang panjang sebelum akhirnya Suho berucap, “Dan itu hanya membuatmu semakin ingin melindunginya.”

Kris menyeringai. “Sekilas Ayu seperti Suzy, bukan?” Sesaat kemudian Kris menyesali ucapannya, terlebih lagi saat ia melihat tatapan Suho. “Suho… aku… maafkan.”

Suho hanya tersenyum, seperti yang ia biasa lakukan. Wajahnya masih sama tenangnya dengan danau di musim dingin biarpun senyumannya segetir hatinya.  “Tidak apa-apa, sungguh. Aku rasa aku sudah bisa melupakan Suzy. Aku baik-baik saja, Kris.”

Kris menundukkan kepalanya, berharap dapat menarik kembali kata-katanya. “Aku harap kau bisa menemukan seseorang yang tepat untukmu,” ucap Kris akhirnya. Dan mereka berdua tahu, kalimat itu sepenuhnya tulus.

Mereka menghabiskan lima belas menit berikutnya membicarakan bisbol, sebelum akhirnya Kris menguap dan Suho melirik jam; sadar bahwa sudah seharusnya mereka pulang. Kris menawarkan tumpangan pada Suho yang berakhir dengan penolakan, tidak peduli dengan Kris  yang terus bersikukuh. Suho lebih nyaman berjalan kaki menuju rumahnya yang hanya lima blok dari tempatnya bekerja, dan Kris terpaksa menerima alasan itu.

Kris pergi tanpa tahu bahwa alasan Suho yang sebenarnya adalah karena ia ingin mengusir rasa hampa yang mengusik. Rasa hampa yang selalu mengintip di ambang pintu, siap mengisi celah di hati Suho tiap kali Kris membicarakan hubungannya dengan Ayu.


|||



Malam itu, satu tahun setelah Ayu didatangkan ke bar oleh Kris, Suho tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Ayu datang ke bar. Ayu masih terlihat seperti anak di bawah umur. Tatapannya masih diliputi binar antusias, dan senyumnya masih semanis permen. Tiga ratus enam puluh lima hari tidak membawa banyak perubahan, setidaknya untuk Ayu.

“Aku rasa aku sudah begitu lama tidak datang hingga membuatmu terkejut,” ujar Ayu.

Suho pura-pura merajuk. “Salahkan dirimu yang begitu jarang datang.”

Ayu tertawa geli mendengarnya. “Maaf, tapi karir girl band yang kutangani sedang melejit, dan aku harus mencari dan menjahit banyak pakaian untuk mereka. Apa kabarmu, Suho?”

“Seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?” Melihat senyuman Ayu yang lebih lebar dari biasanya, Suho tahu kabar Ayu seribu kali lebih baik dari dirinya. Ayu merogoh sesuatu yang ada di dalam tas-nya, dan mendorongnya pelan ke meja. Sebuah benda berbentuk persegi, yang akhirnya Suho ketahui sebagai undangan.

Undangan pernikahan, tepatnya. Berwarna merah beludru dengan sentuhan corak berwarna emas. Semerah lipstik yang dipulas Ayu di bibirnya. Dan mungkin semerah darah yang sedang mengucur deras dari luka hati Suho yang terbuka.

“Aku dan Kris akan menikah!” Ayu tidak dapat menyembunyikan nada ceria di dalam suaranya, ataupun pancaran kegembiraan di kedua manik matanya, yang entah bagaimana mendatangkan satu hujaman telak di tengah-tengah dada Suho. Suho tidak yakin apa ia begitu hebat bersandiwara, atau Ayu begitu lugu hingga tidak bisa membaca seperti apa perasaan Suho saat itu.

“Sebenarnya aku ingin memberitahumu begitu aku dilamar, namun kami sepakat akan menjadikannya sebagai kejutan.” Ayu mempertunjukkan cincin pertunangannya yang kini bersemayam di jari manis tangan kirinya. Melihat itu, Suho berusaha menyuguhkan senyuman terbaik yang bisa ia berikan. Suho tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang, namun ia yakin ia terlihat mengenaskan karena Ayu langsung menanyainya.

“Kau baik-baik saja, Suho?”

Suho mendesah pelan dan menunduk. Dalam benaknya yang berkecamuk ia merutuki malam itu. Malam yang sebenarnya ia telah ketahui akan datang. Ia merutuki dirinya karena tak mampu menjaga kepingan kebahagiaan yang terselip di tengah-tengah kesuraman. Semenyedihkan itukah Suho, hingga ia tak bisa menjaga satu-satunya titik cahaya yang ia lihat di lorong hidup yang gelap?

Ah, apalah dayanya, Suho hanya seorang aktor dari sebuah skenario yang ditulis oleh sang takdir; skenario yang bahkan ia tak tahu akan berakhri seperti apa. Salahkah Suho karena mengucapkan semua dialog, menerapkan semua gestur dan memahat senyuman fana sesuai yang telah ditentukan sang takdir?

“Ayu…” Suho mengusap wajahnya yang terasa kebas, mendongak dan mempertemukan kedua matanya dengan milik Ayu. “Tiap kali aku melihatmu, aku melihat dia. Aku melihat Suzy.”

Senyuman Ayu pudar, digantikan dengan kerutan di dahi. “Maksudmu?”

Suara Suho bergetar, namun ia bersikeras untuk tetap melanjutkan ucapannya. “Suzy, dia pacarku. Dia meninggal setahun yang lalu karena pneumonia, tepat hari ini. Dan wajahmu mirip sekali dengannya.” Ayu dapat mendengar nada pahit dalam suara Suho yang lirih. Suho berusaha menelan ludah dan menekan rasa sakit yang mencengkeram dadanya.

“Aku masih tidak mengerti,” ucap Ayu pelan, nyaris membuat Suho frustasi. Ia tidak tahu apa lagi yang ia bisa perbuat agar Ayu bisa mengerti.

“Semuanya sederhana, Ayu. Kau hanya mawar yang mekar di waktu dan tempat yang salah.

Sadarlah Ayu apa yang dimaksud oleh pria yang berdiri di seberangnya. Pikirannya melayang pada malam saat ia menanyakan pacar Suho. Ayu tertegun saat ia sadar seberapa dalam dampak yang ia timbulkan dari pertanyaannya. Ia telah membuka pintu menuju memori lama Suho, memori yang sudah lama Suho kubur.

“Suho…” Bibir Ayu terkatup sementara ia berusaha keras mencari kata-kata yang tepat.  “…kau tahu jelas bahwa aku dan Suzy itu berbeda bukan?”

Kelengangan mendominasi suasana di antara mereka. Suho tahu perbedaan Ayu dan Suzy lebih baik dari pada siapapun. Kini batas antara realitas dan pemikirannya Suho mulai diragukan validitasnya. Fakta mulai bercampur dengan imaji. Mimpi nyaris tidak punya perbedaan yang berarti dengan kenyataan. Baginya, Ayu adalah Suzy.

Namun Ayu adalah mawar yang membuat Suho terlena akan khayalan dan tidak mawas pada duri kenyataan yang siap menghujam. Ia sendiri yang menjadikan Ayu sebagai sayap untuk lepas dari kesukaran dunia. Maka ia sendiri yang harus menanggung konsekuensinya jika ia jatuh. Kepergian Ayu mempunyai satu arti; Suho akan kehilangan sayapnya. Dan Suho harus rela sisa serpihan jiwanya direnggut oleh wanita tersebut.

“Aku bukan dirinya,” tegas Ayu, walau ia tak luput dari rasa bersalah. “Aku turut berdukacita untuk kehilanganmu. Walau aku tidak mengenalnya, aku yakin Suzy orang yang baik, begitu baik hingga kau merasa kehilangan seperti ini. Namun sekali lagi, Suho, aku bukan dirinya. Kau sudah seperti kakak bagiku, dan aku harap akan selalu begitu.”

“Terima kasih, Ayu. Aku menghargainya.” Hanya itu yang bisa Suho katakan pada akhirnya. ‘Akulah yang salah.’ batinnya. ‘Seharusnya dari awal aku menarik batas yang jelas antara fakta dan khayalan. Seharusnya dari awal aku terus mengenakan topengku.

Dering smart phone milik Ayu membuyarkan lamunan Suho. Kris menelepon Ayu. Ayu hanyut dalam percakapan pendeknya dengan Kris, dan setelah percakapan itu usai, Ayu memberi tahu Suho. “Aku harus pamit, Suho. Aku harap kau dapat datang ke pernikahan kami.”

Suho tidak mengucapkan apapun saat Ayu menjejakkan satu demi satu langkah menjauh darinya. Suho melirik undangan yang ada di atas meja, mengambilnya dan melemparnya ke tempat sampah. Ia mencari sampah lain yang ia bisa temukan, melemparnya jauh lebih keras dari yang seharusnya, untuk menutupi pandangannya dari undangan itu. Namun ternyata ia tak puas dengan itu.

Suho pun mengambil pemantik dan menyulutnya di tisu yang ada di atas meja. Baekhyun terperanjat saat melihat rekannya melempar tisu terbakar tersebut ke dalam tempat sampah. "Suho! Suho, apa yang kau lakukan?” Dengan sigap Baekhyun mengambil tabung pemadam kebakaran api dan mengarahkannya ke sumber api. Bar sempat ricuh oleh tindakan Suho, namun staf lain berhasil menenangkan mereka. 

Setelah api padam, Baekhyun meletakkan tabung yang ia pegang ke lantai dan duduk di hadapan Suho yang kini menyandarkan punggungnya di bar. “Suho, kau baik-baik saja?”

Suho tidak membuka suaranya. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal di samping badannya. Dadanya naik turun, ia terengah-engah oleh emosinya sendiri. Ia berdiri dan berjalan cepat melewati Baekhyun menuju keluar bar.

Baekhyun berlari mengejar Suho namun hanya sampai ke ambang pintu bar. “Hei, Suho! Kau tahu bahwa Kris akan mengetahui ini, bukan?"

Suho dapat merasakan sesuatu mengiris hatinya saat nama Kris disebutkan. Suho membalikkan tubuhnya dan menatap datar Baekhyun yang kini pandangannya sarat dengan kebingungan.

“Aku akan memikirkan alasan yang tepat. Kembalilah bekerja,” ujar Suho sambil bergerak menjauhi bar. Ia sadar, semuanya memang selalu seperti ini. Dan akan selalu seperti ini.

Suho kembali mengenakan topengnya.



[ TAMAT ]

A/N : Anjir Suho kok jadi gini sih. Kok berasa ada hint yaoi antara Baekhyun dan Suho. Kris kejam ya? Gatau deh, pasrah. Jujur, saya sangat tidak puas dengan cerita ini. Tapi saya gamau nyerah. Semoga ke depannya saya bisa menulis sesuatu yang lebih berkualitas, Amin.

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

10 komentar:

  1. I feel ya sweetheart :')
    Tahun lalu aku bahagia banget bisa comeback dengan satu fic yang tamat setelah hiatus setahunan. Semoga bisa terus memproduksi fanfic-fanfic baru ke depannya.

    dan ini... ini sih apesnya Suho aja, sudah dimintai tolong dengan semena-mena sama Kris, datang pula perasaan yang tak diundang itu, tapi ga bisa nyalahin Suho juga sih. Malah sebel sama Kris yang keliatan rada ignorant sampe bisa keceplosan kaya gitu. #CryForSuho
    Aku suka IU yang karakternya tegas di sini walau tampilannya imut-manis kayak adek-adek :3 *hugs u for that*

    dan yang lebih menyita perhatian di sini sih Suho/IU-nya daripada KrisIU =A= tapi sebodo amat, lah #WoyNggakFokusSamaOTPsendiri
    Yang penting ExoU aku dukung! Apalagi yang non-mainstream, biasanya ExoU yang sering tuh BaekhyunIU sama LuhanIU, jadi aku seneng banget kalo ada yang ngeksplor pairing yang kurang dapat sorotan :D


    BalasHapus
  2. oh ya, tambahan untuk posternya, posternya simpel, simplicity is best, tapi di situ tulisannya tenggelam dan kurang terlihat. Bisa diakali dengan membuat background-nya lebih transparan, atau bisa juga bermain dengan tulisannya yang diberi glow putih supaya lebih terlihat menonjol. :)
    Terus berkarya ya~! Fightiing!

    BalasHapus
  3. Keren! :D

    Terus pas dengerin bareng lagu K.Will, entah kenapa dapatnya malah galau gitu :")

    Lumayan untuk jiwa yang sedang membutuhkan stok galau #eh
    Dan gak ada typo (sejauh yang aku baca sih).

    Keep writing ya :D

    BalasHapus
  4. wah keren cerpennya.
    kasihan bgt suho ya. semoga dia menemukan seseorang yang dapat melepas topengnya kembali.
    ditunggu karya berikutnya ya

    BalasHapus
  5. @amusuk : can i love you more than this? <333 how i love comments and critiques! sip, udah dicatat kak, i'll try my best next time ;) masih kaku ini penulisannya hahaha /ketawamiris

    aku jahat banget buat bias aku tersiksa ya :''D <- jadi dia sadis?

    sorry ga bisa fokus sama KrisxIU, habis mau fokus sama bagian suho patah hati buakakakak /kenapadiaketawa

    sip saya mendukung pair apapun asal keliatan cocok (di mata saya) /fangirlsarap

    posternya hahaha saya ga ngerti photoshop ampuni saya :''D

    @cheen : makasih kak cheen ;* iya aku gila perfeksionis kalo ada typo rasanya mau mati -_-

    @zegaisme : hehehe makasih :D sip makasih saya akan mengusahakan yang terbaik ;)

    BalasHapus
  6. dan gara-gara ini aku balas dendam dengan Suho nikah sama IU XD #digetok

    fanfic hari pertama selesai dengan tidak elitnya. padahal pengen cuman 1k, tapi malah jadinya 2k lebih >,<

    tolong kasih tahu cacatnya dimana ya fanfic ini :D
    http://cheenproject.blogspot.com/2014/01/why-you-dont-understand.html

    BalasHapus
  7. @cheen : haaah? okeeey hahahah XD ya gapapa dong kak, sip2 nanti kubaca kok :*

    BalasHapus
  8. huhuhuhu... suhonya kasian :" kenapa suzy harus mati :" Dan gaya tulisan asha keren! Aku suka :D

    ohya, aku juga ijin ikutan project ini ya >/\< semoga berjalan lancar hingga akhir ahahaha, boleh diintip di http://rhythmsofme.blogspot.com/p/52storiesproject.html ;) sankyuu

    BalasHapus
  9. @iffa : makasih gyaaa~~~ sip aku intip kok sankyu yaaa udah berkunjung :* iya dong pasti bisa berjalan lancar XD

    BalasHapus

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.