#2 'Sebuah Anak' dan 'Semua Indah Pada Waktunya'

Theme : Writing. This post contain two drabbles for general readers. Both written in second person point of view by Asha D.

s s s


“Sebuah Anak”


Bagimu menulis semudah merangkai bunga; kau hanya perlu mengambil tangkai-tangkainya dan memilinnya dengan jarimu. Jalinan kalimat runtut yang kau buat bagai permata di matamu, kau hanya perlu mengasahnya untuk membuatnya semakin bersinar. Terbersit rasa bahagia saat kau menenun tiap bagian dari dirinya. Benakmu menyuarakan tiap harapan yang bisu; kau ingin yang terbaik dan hanya yang terbaik untuk ceritamu. Kau lakukan dengan cermat juga sepenuh hati, mengulum senyum saat membayangkan bagaimana bentuknya jika telah selesai kau rajut.

Bagimu, cerita adalah sebuah anak.

Dan saat orang lain mencercanya, memakinya, atau menginjak ceritamu, kau menimangnya dan membisikkan kata-kata penyemangat. Kau poles dia, asah dia, dan tak ragu kembali menunjukkannya pada dunia. Kau tak ingin menyerah. Kau yang paling tahu tentang ceritamu, segala kelebihan, kelemahan dan potensialnya. Kau tahu bahwa sejak awal ceritamu akan menjadi pelangi yang abadi, bekas dari perjuanganmu. Ceritamu akan menjadi bintang yang berukirkan namamu. Kau tahu, kelak ceritamu akan menjadi yang selalu diingat orang-orang di tengah kesenggangan waktu mereka.

Karena bagimu, cerita adalah sebuah anak.

s s s


“Semua Indah Pada Waktunya”

Melihat orang yang kau sayangi—yang dengannya kau berbagi tawa, dan yang bersamanya kau tumpahkan air mata—berjalan semakin jauh darimu adalah hal yang menyakitkan. Eksistensi persahabatan kalian tercipta karena kalian punya mimpi yang sama, mimpi yang kalian janji akan kalian raih bersama. Mimpi menjadi penulis. Seiring waktu yang bergulir hanya dia yang mampu menaiki anak tangga demi anak tangga menuju cita-citanya. Selalu tak ada waktu yang ia lewatkan untuk menjadi selangkah lebih dekat dengan apa yang dia inginkan.

Kau juga sama. Kadar usaha, volume niat, dan luasnya pengetahuan yang diemban untuk maju yang kalian miliki adalah sama. Tapi kenapa hanya dia yang menjejakkan kakinya semudah embun pecah saat mencumbu tanah, untuk bisa ke tujuan yang sama denganmu?

Rasa benci menggelegak, mengintip di ambang pintu antara kebaikan dan kejahatan. Niat licik siap mengisi relung hati, namun kau sudah terlanjur sayang pada para sahabatmu. Bukan karena kau kekurangan orang untuk jadi sandaranmu; hanya saja kau begitu mudah jatuh hati pada orang yang kau temui. Tidak peduli sesingkat apa pertemuan yang kalian bangun.

Kau tersungkur di ujung ruangan, tertatih-tatih mengumpulkan puing-puing semangat yang masih kau punya, semangat yang runtuh tiap kali kau melihat sahabatmu tersenyum padamu dari tempat dimana seharusnya kau berada. Kepingan motivasi yang hancur menggigit telapak kakimu, menyisakan darah yang bercucuran dari luka yang membuka.

Kau mengaduh, tak mau meminta tolong pada siapapun karena tak kuat menanggung rasa malu. Kau tak ingin menjadi beban bagi mereka;  kau bahkan terlalu malu hanya untuk berdiri di samping mereka. Kau sadar sinar mereka semakin terang sementara kau dapat merasakan cahayamu sendiri redup bagai kunang-kunang di ambang ajalnya. Dan itu hanya membuatmu tenggelam dalam kolam kesedihan yang kau ciptakan sendiri.

Namun selelah apapun dirimu, sesendu apapun air matamu bersuara, hatimu tetap bersikukuh untuk tidak menyerah. Di balik semua logikamu untuk mundur dan berhenti mencoba, selalu terbentang kalimat indah yang terukir di hatimu. 

Semua indah pada waktunya.

Semua orang punya kesempatannya sendiri, termasuk kau. Sebuah pendirian yang tak pernah bisa pergi darimu, dan kau bersyukur karenanya. Harapan tak pernah bisa luput dari benakmu, karena sesulit apapun keadaannya kau selalu yakin. Kau memegang teguh pada pemikiran bahwa pada akhirnya kau juga akan berada di puncak, bersinar dengan cahayamu sendiri. 

Kau bisa, kau pasti bisa, karena semua indah pada waktunya.

s s s

A/N :  Thank you for reading and have a nice day :)

Natasha

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 Reviews:

How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”

Diberdayakan oleh Blogger.