#17 Annyeong, Mr. and Mrs. Choi!
Annyeong, Mr. and Mrs.
Choi!
A Super Junior x Girls’
Generation fan fiction
Disclaimer: I own nothing and gain no profit from
it.
Warning: OOC KRONIS. ANTI-SUGEN STAY AWAY!
THIS ISN’T SAFE FOR YOU! WONYOUNG HATERS GO AWAY! DON’T HURT YOUR EYES! You’ve been warned, darling.
A/N: Wonyoung! My favorite couple. Ceritanya
Sooyoung lagi rawat ponakannya, Maiden, bareng Siwon :3
.
.
.
.
“Akhirnya dirimu bersama eonni!”
Sooyoung berteriak histeris mendapati keponakannya berada tepat di hadapannya.
Ia pun buru-buru menggendong bayi imut itu dan memeluknya erat, seolah-olah
bayi tersebut tidak akan ada lagi di sisinya.
“Sooyoung-ssi…”
“Sssh! Aku sedang berusaha mendalami momen ibu-anak yang
begitu mengharukan ini,”
“Mianhe, tapi
pelukanmu terlalu erat. Maiden bisa sesak nafas,”
Sooyoung balik melotot kepada orang yang berani-beraninya
mengoreksi seorang Nyonya Sooyoung yang terhormat. Siapa lagi kalau bukan Tuan
Choi Siwon yang terhormat?
“Heh, emangnya kau ini siapa, hah? Papanya?” protes Sooyoung.
“Lah, emangnya kamu siapa? Neneknya?” goda Siwon.
“Siwon!” bentak Sooyoung.
“Sooyoung!” Siwon balik membentak.
“Iiih…!!!” Sooyoung menghentakkan kakinya kesal dan berjalan
pergi dari ruang tamu dorm SNSD.
Karena dia tidak punya jadwal, dia menyempatkan diri mengurus Maiden.
“Hei, mau ke mana? Kita ‘kan mau ke gereja,” ujar Siwon.
Beberapa menit kemudian ia mendengar suara berisik, suara chainsaw, dan suara barang yang jatuh, membuat Siwon bergidik
ngeri. Jangan-jangan Sooyoung ingin memutilasi Maiden? Tapi tadi ia bagaikan
seorang ibu yang baru sadar anaknya tertukar.
“Iya, iya, bawel banget, sih!” protes Sooyoung dari dalam
kamarnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu yang terbuka, dan
langkah kaki.
“Choi Siwon, bersiap-siaplah. Choi Sooyoung mempersembahkan…”
Siwon melotot. Wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya menegang. Ia
baru saja melihat hal yang lebih mengerikan daripada bayi yang dimutilasi, ia
melihat…
“Maiden Choi!”
… Maiden menggunakan gaun dan bando berpita dalam gendongan
seorang Sooyoung.
AAA
“Hei, aku ‘kan cuma berusaha mendidiknya menjadi uke yang baik dan yang benar! Apa
salahnya?” protes Sooyoung di dalam mobil yang membawa mereka ke gereja.
“Ya salah, dong! Gay itu
tidak benar dalam agama manapun! Pakai nanya lagi!” ceramah Siwon sambil
mengganti gaun Maiden dengan baju laki-laki. Ia juga melepas bando pita dari
kepala Maiden dan melemparnya ke arah Sooyoung dengan ekspresi
‘serius-lo-ngasih-beginian?’.
“Yeee, mulai lagi deh ceramah Siwon edisi yang keseratus!
Suka-suka aku dong, mau gimanain Maiden. Hari ini ‘kan aku mamanya!” ujar
Sooyoung, memperjuangkan haknya.
“Dan aku papanya! Mulai lagi deh ceramah Sooyoung edisi yang
keseribu! Eh, kamu ngapain aja sih di kamar sama Maiden? Kok aku dengar suara chainsaw?”
“Bukan chainsaw
kali, hair dryer!” Sooyoung memutar
bola matanya.
“Ya ngomongnya juga gak usah pakai muncrat, atuh, neng,” ejek
Siwon.
“Aish, susah ngomong sama orang gak waras,” Sooyoung
mengambil tablet dan mulai browsing. Hening sesaat. Namun tiba-tiba
ia tertawa terbahak-bahak, bahkan dia sampai membungkuk dan mengeluarkan air
mata.
“Kau tahu? Aku bisa memanggil pendeta jika kau kesurupan,”
Siwon menawarkan.
Sooyoung berdecak. “Aku sedang membaca komik Spongebob
Squarepants, you idiot. Sini, Maiden
aku aja yang pangku, biar bisa baca bareng,”
Siwon pun menghela napas, dia hanya pasrah dan memindahkan
Maiden ke pangkuan Sooyoung. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Mimpi indah, welcome to Papa!
“Dedek Maiden, kalau kamu mau cari seme, cari yang kece kayak Mario Maurer gini ya,”
Eh, suara bisikan siapa itu yang mengusik mimpi seorang
Siwon?
“Jadilah uke yang setia, jangan selingkuh kayak Kirio
selingkuhin J.Law,”
Nah lho, kok suaranya kayak familiar ya?
“Terus jangan mau sama om-om! Cari aja yang muda, mapan, dan
tinggal di apartemen, oke?”
“Demi Tuhan, CHOI SOOYOUNG!”
AAA
TAMAT
AAA
.png)




0 Reviews:
How I love suggestions and critics! Any kind of comments will be appreciated. So what are you waiting for? ;) - “Nobody is perfect, and nobody will be. That’s why there are always chances for everyone to be better.”